Sabtu, 25 Februari 2012

Sejarah Singkat Gereja Santa Maria Assumpta Babarsari

Februari 1991 Dewan Stasi Santo Florentinus Babarsari mengeluarkan SK No. 04/FBRS/X/90 serta memberi mandat kepada Panitia Pembangunan Gereja. Pada tanggal 15 Agustus 1994 dimulai peletakan batu pertama oleh Bapak drs, Arifin Ilyas, Bupati Kepala Daerah Tk. II Sleman disaksikan oleh Vikjen Keuskupan Agung Semarang mewakili Uskup Keuskupan Agung Semarang. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari berdirinya Gereja Maria Assumpta, Stasi Florentinus Babarsari, Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta.

Rupanya, umat percaya bahwa Allah yang telah memulai karyaNya akan menuntun dan menyelesaikannya. Paling tidak dalam perjalanan Gereja setempat, nampak dan terasa kerjasama Allah dan GerejaNya. Semangat kerjasama, saling membantu, dan melalui perjuangan dan pengorbanan akhirnya pada tanggal 16 Februari 2003 Gereja Maria Assumpta diresmikan dan dipakai umat Babarsari sarnpai sekarang.

Gereja tersebut dibangun lengkap dengan pastoran dan ruangan untuk aktivitas umat termasuk mahasiswa Katolik yang berdomisili di sekitarnya. Seiring dengan perkembangan wilayah dan tumbuhnya kampus-kampus perguruan tinggi dengan mahasiswanya yang datang dan berbagai daerah di Indonesia, Gereja Maria Assumpta Babarsari dengan reksa pastoralnya menjadi penyanggga kegiatan umat dan mahasiswa dan mempertajam visi latihan dan pengembangan dalam pembentukan karakter kader-kader Katolik, kaum muda, mahasiswa di masa depan. Dengan dernikian fungsi gereja menjadi nyata menjamin kebutuhan umat dimana tidak menutup diri terhadap masyarakat luas.

Gereja Maria Assumpta sangat menaruh perhatian khususnya kepedulian terhadap generasi muda dan mahasiswa terkait dengan iman dan kehidupan moralnya yang perlu mendapatkan pendampingan terus menerus agar menjadi kader-kader Katolik yang bertanggung jawab di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa yang akan datang.

Maka gereja sebagai pusat pelayanan dalam lingkungannya tentu memerlukan fasilitas pendukung gereja. Demi terlaksananya kegiatan tersebut, Panitia Perluasan atas persetujuan dan ijin Mgr. Ign. Suharyo Uskup Agung Semarang, pada tgl 15 Desember 2008 telah melaksanakan pembelian tanah seluas 2082 m2 yang letaknya bersebelahan dengan lahan Gereja Maria Assumpta sebelah Tirnur, dengan harga Rp. 1.250.000/m2.

Melalui surat nomor 01/DP/Status Grj/IX/2009, tanggal 08 September 2009, Dewan Paroki Kristus Raja Baciro, Yogyakarta mengajukan permohonan kepada Mgr. Ignatius Suharyo untuk berkenan meningkatkan status Stasi Santa Maria Assumpta Babarsari untuk menjadi sebuah Paroki yang mandiri. Menjelang kepindahan beliau ke Keuskupan Agung Jakarta, dengan surat keputusan nomor 0981/B/I/b-6a/09, tanggal 12 September 2009, Mgr. Ignatius Suharyo menjawab permohonan Dewan Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta, Stasi Santa Maria Assumpta Babarsari menjadi PAROKI MANDIRI, per tanggal 20 September 2009.

Gereja Katolik St Maria Assumpta Babarsari, terletak di Jl Inspeksi Selokan Mataram, Babarsari, Sleman, Yogyakarta. +/- 10 tahun yang lalu Gereja ini berada ditengah tengah sawah yang luas, namun saat ini berada di tengah pusat bisnis dan pendidikan di Yogyakarta. Betapa cepat perkembangan Kota Yogyakarta.

Bangunan gereja tampak seperti rumah joglo modern. Di sisi gereja, berdiri tower lonceng tinggi dengan patung Bunda Maria di bawahnya. Di pintu depan, tampak patung Bunda Maria dengan mahkota bintang. Mungkin menunjukkan salah satu peristiwa mulia, Maria diangkat ke surga (assumpta / assumption).

Pastor Gregorius Kriswanta, Pr menjadi Pastor Kepala Paroki pertama di Gereja Santa Maria Assmpta Babarsari. Paroki baru ini mempunyai umat 1100 jiwa (akhir 2008) yang tersebar di 8 lingkungan: Babarsari, Puluhdadi, Seturan, Mundusaren, Kledokan, Tambakbayan, Janti dan Bantulan; yang berbatasan dengan:
di sebelah Utara : Paroki Santo Petrus dan Paulus Minomartani
di sebelah Selatan : Paroki Santo Mikael Pangkalan Angkatan Udara RI
di sebelah Barat : Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung
di sebelah Timur : Gereja Maguwoharjo Paroki Marganingsih Kalasan

Sumber :
http://www.yacob-ivan.com/2011/06/st-mary-assumpta-church.html
http://baitallah.wordpress.com/2010/10/12/gereja-katolik-st-maria-assumpta-babarsari/
http://ourunity.blogspot.com/2009/07/perluasan-gereja-maria-assumpta.html
http://historiadomus.multiply.com/journal/item/103/089_SEJARAH_GEREJA_SANTA_MARIA_ASSUMPTA_BABARSARI

baca selanjutnya...

Kamis, 23 Februari 2012

Sejarah Keuskupan Malang

Sejarah

Keuskupan Malang muncul dalam sejarah, terikat dalam ruang dan waktu. Keuskupan Malang berada dalam konteks pertemuan Gereja Katolik dengan bangsa, suku, budaya, keadaan sosial-politik-ekonomi wilayah teritorial yang mencakup eks karesidenan Malang, Besuki. Sebagai Paguyuban Umat Allah terbuka dan memasyarakat, Gereja Katolik Keuskupan Malang perlu memiliki kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat di sini, untuk masa sekarang dan masa mendatang.

Rintisan jalan Kerajaan Allah di bagian timur Jawa sudah dimulai pada tahun 1580, ketika kapal bangsa Portugis karena badai berlabuh di Panarukan. Tidak jelas apakah waktu itu sudah ada usaha pewartaan, sebab kunjungan bangsa Portugis yang membawa Pastor Bernardino Ferrari singkat saja. Mereka meninggalkan Panarukan dan berlayar ke Maluku. Beberapa tahun kemudian Romo-romo dari Ordo Dominikan mencoba berkarya menyebarkan Injil di antara Panarukan dan Banyuwangi. Tercatat nama-nama Romo Emmanuele, Pascuale, Pietro dan Giorgio. Tidak ada keterangan, mengenai hasil karya Ordo Dominikan di abad 16 itu, hingga kabarnya mereka ditarik ke Malaka, meninggalkan salah seorang yaitu Pascuale sebagai martir.

Serikat Jesus (SJ), 1800 – 1923

Sejak permulaan 1800-an Romo-romo Serikat Yesus mulai berkarya di Surabaya (Romo H. Waanders, 1810). Mereka berusaha mengunjungi daerah-daerah utara, antara lain Pasuruan. Kronik Sejarah Misi mencatat kedatangan Romo Van der Elzen SJ dan Romo Palinckx SJ, pada tahun 1850 dan seorang awam, A.M. Anthonijsz pada 1895 menyumbangkan sebuah gereja kecil yang hingga sekarang masih dipakai, Gereja St. Antonius Pasuruan. Romo G. Jonckbloet SJ merupakan misionaris pertama yang mengolah Malang sebagai ladang Tuhan sejak 1896. Ia membuka paroki Malang yang berkedudukan di Kayutangan, 2 Juli 1896, dan mendirikan Gereja Hati Kudus. Dari sini gerakan misi merembes ke Lawang, tempat sebuah gereja pembantu didirikan pada 1915. Pada tahun 1900 Ordo Suster-suster (OSU) membangun rumah biara di Celaket, Malang, dan membuka sekolah (Cor Jesu) yang sampai saat ini masih bekerja. Karya para romo Serikat Jesus diakui sebagai fondasi misi di Malang, yang terentang antara Gereja Hati Kudus Kayutangan, Lawang, dan Gereja Antonius-Pasuruan. Dari 1896 hingga1923 tersebut pula nama Romo Van Meurs SJ, Romo Opdenkamp SJ, Romo Van Meerwijk, dan Romo Korndorffer SJ.

Ordo Karmel (O, Carm), mulai 1923

Romo-romo Karmelit masuk Malang pada tahun 1923. Di aula sekolah Ursulin, Celaket, suatu resepsi penyambutan kedatangan Romo Sondaal, O. Carm, Romo Fisscher, O. Carm dan Romo Van den Hewrd, O. Carm, diadakan pada 4 Juni 1923. Merekalah yang melanjutkan karya Romo-romo Serikat Jesus yang ditarik ke Batavia (Jakarta) dan Jawa Tengah, menebar benih Kerajaan Allah, resminya pada 1 Agustus 1923. Dari poros Kayutangan, Lawang, Pasuruan selanjutnya Romo Van der Pas, O. Carm, Romo Henckens, O. Carm dan Brenkel, O. Carm bergerak ke seluruh wilayah Residen Malang (waktu itu), antara lain mendirikan gereja Probolinggo (1924), gereja Balearjosari di malang selatan atas bantuan Bapak Blijdenstein, administratur kebun wilayah itu (1925). Romo Van der Pas bahkan menyeberang dari Probolinggo ke Madura (Sumenep) pada tahun 1927. Sementara itu terjadi gelombang perpindahan penduduk dari Kalibawang, Kulonprogo, Boro Jawa Tengah ke perkebunan-perkebunan sepanjang pantai selatan Jawa-Timur. Di antara mereka adalah orang-orang Katolik generasi pertama yang dibaptis sejak 1904. Umat awam ini ikut serta menebarkan benih Kerajaan Allah ditempat-tempat baru seperti Sumberjati dan Glagahagoeng, selatan kota Banyuwangi, dan Sukoreno (antara Lumajang-Jember), menyiapkan lahan bagi karya misi di wilayah ujung timur Jawa yang waktu itu termasuk kekuasaan adminiitrasi Residen Besuki.

PERFEKTUR APOSTOLIK

Pada bulan April 1927 secara administrasi status wilayah Misi Malang diubah menjadi Prefektur Apostolik. Dengan perubahan status ini segala kegiatan penyebaran dan pengembangan iman katolik dilepaskan dari tanggungjawab Gereja Katolik Belanda dan diambil alih oleh Vatikan, Roma. Romo Clemens vander Pas, O. Carm ditunjuk menjadi pemimpin ditempat setara uskup (prefek), diteguhkan dengan tahbisan oleh Mgr APF Van Velzen SJ, Uskup Jakarta (Batavia). Peristiwa itu dianggap titik tolak keberadaan Keuskupan Malang.

Garis Besar Lintas Sejarah:

* 1534 Awal resmi misi Indonesia: Pembaptisan orang pribumi pertama di Moro, Halmahera Utara. Abad XVII-XVIII Penghambatan karya misi katolik oleh Veregnigde Oost-Indische Compagnie. 1580 Kapal Portugis berlabuh di Panarukan, Situbondo karena badai.
* 1807 Gereja Katolik diperkenankan melaksanakan karya misi lagi oleh raja Lodewijk Napoleon. Prefektur Apostolik Batavia didirikan.
* 1826 Seluruh Hindia Belanda ditempatkan dibawah yurisdiksi Prefek Apostolik Batavia oleh Konggregasi Penyebaran Iman.
* 1842 Prefektur Apostolik Batavia diangkat menjadi Vikariat Apostolik Batavia.
* 1859 Serikat Yesus melayani seluruh Hindia Belanda.
* 1895 Gereja St. Antonius, Pasuruan.
* 1897 Gereja Hati Kudus Yesus, Kayutangan, Malang
* 1900 Serikat Yesus memusatkan karyanya di pulau Jawa, tetapi masih berkarya di Nusa Tenggara, khususnya Flores dan Timor, sampai kawasan ini diambil alih oleh SVD tahun 1914.
* 1902 Awal penyempitan wilayah Vikariat Apostolik Batavia dan pembagian wilayah-wilayah yang kemudian menjadi keuskupan-keuskupan di Indonesia.

Perjalanan sejarah gereja Katolik Jawa Timur melalui:

a. Gelombang masuknya para pengusaha perkebunan tebu, teh, kopi, tembakau, cokelat di wilayah Jawa Timur. Salah satu pimpinan pabrik gula membuka stasi di daerah Malang bagian Selatan dan mempekerjakan orang-orang Katolik dari Kalibawang, daerah lumajang dan Banyuwangi. Stasi yang berkembang antara lain Sukoreno, Curahjati.Mereka didatangkan dari kalibawang pada tahun 1924.

b. Guru-guru dari Muntilan dan Ambarawa datang ke kota Malang dan kota-kota lain dengan prioritas perhatian pada pendidikan putra-putri pribumi, Tionghoa dan pendatang dari Eropa.

c. Para pedagang Tionghoa yang cukup mewarnai paroki di kota.
* 01-08-1923 Penyerahan dari misi di Malang Serikat Jesus ke Ordo Karmel
* 27-04-1927 Prefektur Apostolik Malang.
* 15-03-1939 Vikariat Apostolik Malang.
* 03-01-1961 Dari Constitutio apostolica ’quod Christus’ Paus Yohanes XXIII Vikariat Apostolik Malang menjadi Keuskupan Malang
* 24-27 JULI 2002 Sinode Keuskupan Malang

REFLEKSI SINODE KEUSKUPAN MALANG ATAS SEJARAH

1. SECARA KONTEKSTUAL MENYATU DENGAN MASYARAKAT.
’Katolik’ berarti ’ universal’, artinya tak terikat pada budaya tertentu, melainkan bersedia diperkaya dan memperkaya lingkungannya, bahkan menyatu dengan masyarakat setempat. Adapun lingkungan Indonesia pada umumnya dan wilayah Keuskupan Malang pada khususnya bercirikan kemajemukan. Antara lain, terdapat aneka suku bangsa serta kebudayaannya, aneka agama dan aliran kepercayaan, aneka lapisan masyarakat. Gereja memahami diri sebagai sakramen, artinya sebagai tanda dan sarana keselamatan seluruh umat manusia (bdk. LG 1).

2. MAKIN PEKA TERHADAP KEBUTUHAN MASYARAKAT.
Keuskupan Malang adalah Gereja partikular, Umat Allah yang terbuka bagi lingkungannya dan berupaya memasyarakat sekarang dan di sini, antara lain dengan meningkatkan kepekaannnya terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

3. PERANSERTA KEUSKUPAN MALANG DALAM UPAYA MENCERDASKAN BANGSA.
Sejak awal dengan karya persekolahannya Gereja berperanserta dalam upaya mencerdaskan bangsa, yang dicita-citakan oleh gerakan kebangkitan nasional, dan kemudian disadari peran pentingnya dalam mengisi kemerdekaan. Kini dengan meningkatnya arus globalisasi juga perlu ditingkatkan kualitas pribadi denganmemperdalam dan memperluas upaya pendidikan itu.

4. PERAN SERTA DALAM PELAYANAN KESEHATAN.
Juga di bidang pelayanan kesehatan Gereja berperanserta secara aktif, tidak hanya dengan memperhatikan aspek-aspek profesional, melainkan juga aspek-aspek etis dan kemanusiaan. Beberapa hal yang patut lebih dieprhatikan dewasa ini ialah: pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi ekbanyakan orang: kode etik, aspek etis dan spiritualitas pelayan kesehatan.

5. PERHATIAN BAGI MANUSIA SEUTUHNYA SEJAK AWAL KEUSKUPAN MALANG.
Perhatian Gereja Keuskupan Malang terhadap manusia seutuhnya nyata antara lain dari prakarsa Prefek Apostolik pertama, Mgr. Clemens van der Pas O, Carm, yang mengundang Konggregasi Misericordia untuk melayani bidang kesehatan. Kiranya pelayanan ini perlu dikembangkan lebih lanjut.

6. STASI-STASI SEBAGAI CIKAL BAKAL PAROKI.
Pendirian paroki tak lepas dari stasi-stasi sebagai cikal bakalnya berkat pelayanan para misionaris, meskipun ada juga stasi yang lenyap entah karena umatnya pergi, entah karena kurang diperhatikan. Hanya sebagai contoh konkret: Beberapa stasi yang berkembang, misalnya stasi Jajag, stasi Ambulu, stasi Japanan, stasi Kraksaan, stasi Dampit, stasi Kedungrejo, stasi Pronojiwo, stasi Landungsari, stasi Sengkaling, stasi Asembagus, stasi Panarukan, stasi Besuki, stasi Muncar, stasi Pasanggaran, dari 107 stasi.

7. PUKULAN BERAT PADA JAMAN JEPANG.
Keuskupan Malang mengalami pukulan berat di jaman Jepang karena para misionaris diinternir. Tetapi dalam keadaan sulit itu ada beberapa tokoh yang melanjutkan pelayanan pastoral, antara lain: Romo G. Singgih, O. Carm, Romo A. Gondowardoyo, O. Carm, Mere Laurence, OSU.

8. PERSEKOLAHAN DAN KARYA PASTORAL LAIN.
Di jaman Vikariat Apostolik didirikan banyak sekolah yang telah amat berjasa, tetapi dewasa ini kiranya juga perlu lebih diperhatikan bidang-bidang pastoral lain, mengingat keperluan umat dan masyarakat di waktu mendatang.

9. BELAJAR DARI SEJARAH.
Kiranya bebarapa gejala perlu mendapat perhatian besar. Mobilitas tinggi masyarakat dengan aneka dampak atas bidang sosial, ekonomis, dan urbanisasi; Meningkatnya kepekaan dan kepedulian sosial serta solidaritas umat; Persaudaraan sejati yang dikembangkan aneka pihak dan makin meluas; Harapan maysarakat untuk keluar dari krisis ekonomi dan mengentaskan kemiskinan; Kebhinekaan suku dan budaya dalam masyarakat.

10. UPAYA MEMBERDAYAKAN UMAT.
Kiranya upaya-upaya karitatif (yang memang tetap perlu) tak mencukupi. Perlu ada uapaya-upaya untuk memberdayakan umat, seperti dahulu sesuai dengan jamannnya (dilakukan Pater Van Lith SJ) agar dapat berperan dalam masyarakat.

11. MEREKA YANG BELUM TERJANGKAU.
Gereja sebagai sarana dan tanda keselamatan universal (LG 1) seharusnya menjangkau segala bangsa dan suku bangsa. Tetapi ada sejumlah suku di wilayah Keuskupan Malang yang belum tersentuh, maka perlu diusahakan agar para petugas pastoral lebih mengenal mereka, budaya dan bahasanya.

12. DIPERKOTAAN DAN PEDESAAN
Kabar baik dimaksudkan bagi semua. Tidak cukup hanya menyapa orang-orang diperkotaan, melainkan juga perlu menyapa mereka yang berada dipedesaan. Diharapkan agar pemberdayaan komunitas basis insani juga dapat mempunyai dampak positif atas penyebaran Kerajaan Allah.

GAMBARAN GEREJA KEUSKUPAN MALANG DEWASA INI

KONTEKS ASIA
Harapan besar diarahkan kepada Gereja di Asia. Sumbangan yang khas dan tanggung jawab di masa mendatang baik dalam konteks Asia maupun visi Katolisitas .

* Benua terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak dengan segalapermasalahannya: toleransi-intoleransi, kekayaan alamkemiskinan,masyarakat kota-pinggiran, pengangguran, persoalan HAM Gender.
* Tempat kelahiran agama-agama besar dengan tradisi budaya yang tinggi: heterogenitas dan pluralitas yang tinggi.
* Perubahan peta politis kenegaraan.
* Keanekaka ragaman dampak modernitas: ideologi perkembangan yang terpacu dengan cepat: sekularisasi, materialisme,konsumerisme sekaligus kecenderungan fundamentalisme.
* Pengaruh pola sudut pandangan yang masih kuat setelah runtuhnya ideologi komunisme: Timur-Barat. Gereja masih dipandang sebagai warisan Barat.
* Sumbangan Gereja: berada bersama (companionship), pembaharuan motivasi berdasar pengalaman iman yang kaya akan tradisi spiritualitas, keberanian paritisipasi umat untuk membagikan tak sekedar menerima dan merayakan iman, peranana orang kristianis yang terbentuk dan terdidik sebagai penginjil bagi rekan sebaya.

KONTEKS KEUSKUPAN MALANG

GEOGRAFIS:
Keuskupan Malang meliputi bagian timur Propinsi Jawa Timur:
1. Wilayah Pembantu Gubernur (Eks Karesidenan) Malang meliputi:
* Kotamadya dan Kabupaten Malang.
* Kota Batu.
* Kotamadya dan Kabupaten Pasuruan.
* Kotamadya dan Kabupaten Probolinggo.
* Kabupatenj Lumajang.

2. Wilayah Pembantu Gubernur (Eks Karesidenan Besuki) meliputi:
* Kabupaten dan Kotif Jember.
* Kabupaten Bondowoso.
* Kabupaten Situbondo.
* Kabupaten Banyuwangi.

3. Wilayah Pembantu Gubernur (Eks Karesidenan Madura) meliputi:
* Kabupaten Bangkalan.
* Kabupaten Sampang.
* Kabupaten Pamekasan.
* Kabupaten Sumenep.

Demografis:

Jawa Timur merupakan penduduk paling padat sebagai propinsi Indonesia.

Sosioreligius:
1. Mayoritas penduduk beragama Islam dengan sentra-sentra pendidikan islam: pesantren-pesantren dan pengaruh panutan keagamaan (kyai) yang sangat tinggi dan bertumbuhnya iklim kaum intelektual Islam khususnya di kalangan kaum muda Islam.
2. Banyaknya sekte Kristen dengan Kota Malang sebagai pusat pendidikan evangelis.
3. Iklim FKUB yang cukup membantu persoalan hubungan antar keagamaan.

Sosiokultural:
1. Sebagian terbesar keberadaan gereja Katolik berada di kota.
2. Kecenderungan urbanisasi dari desa ke kota, termasuk juga warga potensial di gereja pedesaan.
3. Multikultural umat: Jawa, Tionghoa, Flores, Kalimantan, Papua dll.
4. Pengaruh modernisasi-global dalam pola hidup.

Sosioekonomi:
1. Umat terdiri dari pegawai negeri, petani, pedagang, sebagian besar sebagai karyawan
2. Kesenjangan masih menjadi faktor kerawanan.

BIDANG PERHATIAN KEUSKUPAN MALANG

PAGUYUBAN
Faktor Sejarah:

* Dulu: Agama KAtolik dikenal sebagai agama pendatang, agama penjajah. Dengan latar belakang para misionaris memakai jalur yang dipakai para pendatang dari Eropa. Pelayanan lebih terfokus untuk pelayanan warga Katolik Eropa yang bekerja di pemerintahan kolonial, sektor perkebunan dan militer.
* Sekarang: Faktor kebersamaan yang dihayati masyarakat agamis menjadi landasan pembangunan Komunitas Basis yang terbuka dan memasyarakat.

Wujud:
* Membangun diri sebagai komunitas partisipatif.
* Penumbuhkembangan sensus ecclesiae.
* Pastoral umat dengan menumbuh kembangkan iman yang mendalam, yang dewasa dan mandiri,berakar pada budaya setempat,imana yang menggereja, iman yang memasyarakat dan misioner-dialogial.
* Lingkup Keuskupan, Paroki, Wilayah/Stasi/Blok/ Kelompok Kategorial-fungsional, Komunitas, Keluarga,persaudaraan-dialog dengan umat Kristen-Potestan, Islam dan umat beragama lain termasuk aliran kepercayaan.
* Hidup berbangsa dan bernegara: Kesadaran Pancasila sebagai pandangan hidup dan ideologi negara yang menyatukan sekaligus kesadaran akan tipisnya penghayatan ’kebhinekatunggalikaan’ )

PEWARTAAN
* Acuan: Mrk 16,15: Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil kepada segala makhluk’; Allah menghendaki agar semua manusia diselamatkan (AG 7).
* Dilaksanakan dengan menjadi kawan dan mitra yang berbela rasa dengan semua orang dalam perjalanan menuju kepenuhan hidup dalam Kerajaan Allah.
* Dilaksanakan secara berkesinambungan melalui dialog: dengan iman kepercayaan lain, kaum miskin dan kebudayaan setempat.
* Dibutuhkan kemampuan membaca tanda-tanda jaman dan kesaksian hidup.
* Dibutuhkan katekese yang berkesinambungan: bina usia dini, bina iman, anak, bina iman remaja, bina iman umat dewasa.
* Pemanfaatan peluang katekese: Masa Katekumenat, Kotbah, Pendalaman iman, masa liturugis gerejani.

LITURGI
Perhatian dan pengertian lebih besar yang terwujud dalam:
* – Kebiasaan mempersiapkan diri secara lahiriah dan batiniah.
* – Kinerja yang baik dari pemimpin dan petugas.
* – Sarana memadai.
* – Peluang untuk perayaan yang inkulturatif dan kategorial.

Untuk itu diperlukan katekese liturgi, teladan, suasana danpendidikan liturgi untuk: pemahaman liturgi, pengadaan petugas, pengkajian.

KESAKSIAN
* Pengedepanan nilai: keteladanan, kritis-profetis, kesetiaankonsistensi,keadilan,cinta, kejujuran, pemebabasan.
* Menghindari yang hal-hal (gaya hidup,penampilan diri, kegiatan, fasilitas,gedung)dapat merugikan wajah gereja dalam masyarakat.
* Pemanfaatan media massa.
* Memfasilitasi individu dan kelompok melalui talenta atau karyakhusus yang dapat menyebarkan nilai Injili.

PELAYANAN
* Pelayanan sebagai ungkapan dan sarana perwujudan karisma dan kesaksian kristiani baik
* Dibidang: pendidikan, kesehatan, sosial-kemasyarakatan, komunikasi masal, pastoral dan pendampingan kaum muda.
* Perlunya pembekalan semangat pelayanan untuk pengemban profesi dan pejabat.

KEPEMIMPINAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA
* Partisipasi umat dalam tritugas Kristus dalam kepemimpinan partisipatif dalam gereja.
* Kepemimpinan gerejani: visi dan seni leadership yang memperhatikan aturan main manajemen, kesekretariatan-kearsipan yang memadai.
* Kinerja sesuai dengan program kerja dan berpedoman pada kepentingan umum..
* Prinsip subsidiaritas.
* Peta kebutuhan tenaga, penelitan, pengembangan SDM dengan:
a. integritas, komitmen dan dedikasi.
b. Pendidikan/pengetahuan yang memadai.
c. Kemauan/kesanggupan yang stabil.
d. Kemampuan profesional.
e. Perhatian penyegaran petugas pastoral dan kesejahteraan karyawan.

PRIORITAS PERHATIAN
KARYA PASTORAL PENDIDIKAN

* Peningkatan mutu dan kualitas pribadi, selain pencerdasan bangsa.
* Perhatian kepada jenis pendidikan yang memadai kebutuhan lokal dan melibatkan partisipasi umat setempat.
* Karya pendidikan non formal yang menekankan nilai-nilai kristiani untuk pembebasan dari ketertindasan.
* Peningkatan dan dukungan terhadap karya sekolah yang telah ditangani lembaga relijius.
* Karya sekolah yang dikelola keuskupan lebih menjangkau masyarakat yang kesulitan baik soal beaya atau lokasi yang berjauhan.

KARYA KESEHATAN
* Sebagai mitra pemerintah dalam karya pelayanan kesehatan yang terjangkau masyarakat kebanyakan.

KARYA EVANGELISASI
* Stasi sebagai cikal bakal dari pertumbuhan paroki.
* Kunjungan keluarga, kunjungan stasi terutama yang jauh dari pusat paroki menjadi salah satu kekuatan jemaat untuk bertahan dan berkembang.
* Pengoptimalan panggilan Imam Diosesan, perberdayaan Awam Pemuka Jemaat dan Religius.
* Karakateristik masyarakat Jawa Timur: mobilitas tinggi, sikap kepedulian-solidaritas tinggi, persaudaraan lintas agama, harapan untuk gerakan peduli pengentasan rakyat kecil, budaya-adat istiadat setempat. Kultur: Jawa?, Osing(Banyuwangi), Madura (Pulau Madura dan masyarakat pinggiran kota di Jawa Timur, Tengger (perbukitan Bromo- Semeru), Mandarin.
* Pewartaan yang inovatif dan kontekstual

KARYA J & P
* Pelayanan secara integral terhadp kaum mistin dan membelea yang tertindas.
* Promosi kemanusiaa yang menjunjung HAM

HUBUNGAN DENGAN AGAMA LAIN
* Dialog, terbuka, mendengar, menghormati yang berkeyakinan lain (NA2).
* Menggalang persaudaraan sejati dan menjalin kerja sama yang berkehendak baik untuk menegakkan komunitas insani yang dijiwai kedamaian, keadilan dan cinta kasih.

Sumber : http://keuskupan-malang.web.id/?page_id=8

baca selanjutnya...

Rabu, 22 Februari 2012

Sekilas Sejarah Gereja Santo Ignatius Cimahi

Tahun 1908 merupakan tonggak utama sejarah pelayanan gereja katolik Cimahi di mana pada tahun tersebut bangunan gereja yang didirikan oleh para imam dari ordo Serikat Jesus (SJ) secara resmi menggunakan nama pendiri ordo tersebut, Santo Ignasius Loyola (1491~1556) sebagai nama pelindung gereja yang terletak di Jalan Baros No. 8. Cimahi.

Namun demikian agama katolik atau umat yang beragama katolik di Cimahi, sudah ada jauh sebelum tahun 1908. Mereka bukan penduduk asli tetapi mereka mula-mula adalah para pendatang yang berasal dari negeri Belanda maupun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka ditugaskan di Cimahi sebagai tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun sebagai Tentara Pemerintahan Hindia Belanda (KNIL). Jadi pengambilan tahun 1908 sebagai tonggak bukanlah tahun dimana untuk pertama kali ada umat katolik di Cimahi tetapi tahun dimana untuk pertama kalinya digunakan nama St. Ignatius Loyola untuk gedung gereja yang dibangun di Cimahi yang pada tahun 2008 berusia 100 tahun.

Bahwa umat katolik Cimahi sudah ada sebelum tahun 1908 dapat dibuktikan dengan adanya berbagai pelayanan yang diberikan kepada umat, dan pembangunan gedung gereja yang dilakukan oleh pastor-pastor SJ. Kedatangan pastor-pastor SJ ke Cimahi bersamaan dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer Hindia Belanda sebagai bagian dari wilayah pertahanan militer kolonial Belanda di tanah Priangan.

Cimahi Kota Militer

Sejak masa pemerintahan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808-1811), Cimahi direncanakan untuk dijadikan sebagai daerah pangkalan militer Pemerintah Hindia Belanda guna membantu pertahanan militer di pulau Jawa. Dipilihnya Cimahi sebagai daerah pangkalan militer dengan pertimbangan; letak geografisnya yang strategis, berada di daerah pedalaman yang dilalui jalur rel kereta api maupun jalan raya Bogor – Bandung dan Cikampek serta jalur kereta api Batavia – Bandung. Pada perkembangannya kemudian Cimahi juga merupakan benteng pertahanan untuk menjaga dan melindungi Pangkalan Udara Militer di Andir Bandung.

Untuk mewujudkan Cimahi menjadi kota militer, berbagai sarana penunjang seperti Kompleks Perumahan Perwira (di Jalan Gedung Empat sekarang), Markas Militer (sekarang Markas Kodim), Rumah Sakit Garnisun (sekarang RS Dustira), barak / tangsi (tersebar, saat ini menjadi berbagai pusat pendidikan TNI AD) Sositeit Perwira dan Penjara Militer (sekarang Rumah Tahanan Militer Poncol) dibangun antara tahun 1886 – 1887.

Cimahi juga merupakan kota markas besar garnisun militer Belanda yang mengawal pertahanan kota Bandung, didukung oleh tiga batalyon yaitu: Infanteri, Genie (Zeni) dan Artileri yang diresmikan pada bulan September 1896 dengan komandan pertamanya Majoor Infanteri C.A. Loenen dan ajudannya Luitenat J. A. Kohler.

Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka terjadilah penempatan tentara dalam jumlah relatif besar, baik Tentara Kerajaan Belanda (KL) maupun Tentara Hindia Belanda (KNIL) yang kebanyakan berasal dari Flores, Timor, Ambon, Menado dan Jawa. Tidak sedikit di antara keluarga tentara tersebut terdapat keluarga yang beragama katolik.

Untuk memenuhi kebutuhan rohani umat akan kegiatan beribadah, maka umat katolik yang berasal dari kalangan tentara dilayani oleh pastor tentara (aalmoezenir) sedangkan umat katolik yang bukan tentara dilayani oleh pastor yang berasal dari Cirebon karena sejak tahun 1878 Cirebon menjadi salah satu stasi dari Vikaris (wilayah pelayanan gereja katolik) Batavia yang dipercayakan kepada Pastor Adolphus Philippus Caspar Van Moorsel SJ. untuk melayani daerah Priangan dan Tegal. Dua tahun kemudian, pada tahun 1880 stasi Cirebon ditingkatkan statusnya menjadi Gereja Cirebon yang diresmikan oleh Uskup Mgr.A.Claessens dan diberi nama pelindung Santo Yosep.

Pada tahun 1895, Mgr. Walterus Staal SJ, Vikaris Apostolik Batavia meresmikan dan memberkati gedung gereja katolik pertama di Bandung yang diberi nama pelindung Santo Fransiskus Regis di sudut Jalan Scoolweg (Sekarang Gedung Bank Indonesia di Jl. Merdeka) dan Jalan Kerkweg (kini Jl. Wastukencana). Gereja tersebut kemudian dijadikan sebagai gedung pertemuan Katoliek Sociale Bond (KSB) setelah gereja Katedral St. Petrus yang terletak diseberangnya (sudut Jalan Jawa dengan Jalan Merdeka) dibangun dan diresmikan pada tanggal tahun 1922 oleh Mgr. E.Luypen.

Pendirian gereja tersebut dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya umat katolik di kota Bandung yang berasal dari kalangan pegawai pemerintah Hindia Belanda yang beragama katolik. Perkembangan itu terjadi karena sejak tahun 1884 hubungan kereta api antara Bandung dan Batavia semakin intensif sehingga Bandung berkembang menjadi kota besar.

Dengan berdirinya Gereja St. Fransiskus Regis, maka sejak tahun 1907 Bandung menjadi stasi baru dengan pastornya J. Timmers SJ. dan dibantu oleh pastor Fv. Santen SJ, maka umat katolik yang berada di Cimahi dilayani secara lebih intensif oleh kedua pastor tersebut secara bergantian sebulan sekali. Hal ini terjadi karena Cimahi termasuk wilayah stasi Bandung yang semula merupakan bagian dari Paroki Santo Yosep Cirebon. Pada tanggal 13 Februari 1907 Cimahi terpisah dari Cirebon dan berdiri sendiri sebagai stasi. Mengenai perkembangan umat, ada sebuah catatan di buku permandian Paroki St. Yosep Cirebon yang menunjukkan bahwa pada tahun 1903 di Cimahi sudah ada umat yang dipermandikan.

Pembangunan Gedung Gereja

Sebulan sekali perayaan misa ekaristi dipersembahkan di sebuah ruang kelas di Ambonsche School di Tagog (SMP Negeri I Cimahi sekarang). Hal itu dinilai kurang memadai karena kehidupan beragama yang lebih semarak dan bersemangat dinilai sulit dikembangkan dengan sarana yang terbatas tersebut. Melihat kenyataan itu, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus S. Luypens SJ. (1898-1923) menganjurkan agar di daerah-daerah yang ada umat katoliknya, dibangun gedung gereja sebagai identitas diri umat katolik.

Maka pada tahun 1906 dimulai usaha pembangunan gedung gereja di Cimahi di atas sebidang tanah bantuan dari Pemerintah Hindia Belanda yang lokasinya di pertigaan Baros Weg (Jalan Baros) dan Prins Hendrik Laan (sekarang Jalan Jend. Sudirman).
Dana yang dipakai untuk pembangunan gedung gereja diperoleh dari Dep. Onderwys en Eridienst (Dep. Pendidikan dan Agama) atas prakarsa seorang awam bernama Riviera de Verninas, serta bantuan dari para opsir-opsir bagian Genie/Zeni dan sumbangan dari negeri Belanda.

Pembangunan gedung gereja awal yang luasnya 8 x 16 meter ini, berbentuk lurus dengan fascade (tampak muka) bergaya neo romantic dengan langit-langit dan jendela berbentu melengkung. Altar menyatu dengan tabernakel terbuat dari kayu jati berukir bergaya gothic dengan salib dari baja bertengger di bumbungan gereja. Pada waktu perluasan gereja, salib itu dipindahkan di atas atap pintu utama sebelah selatan sampai sekarang. Pembangunan periode tersebut dilakukan dibawah pengawasan Pastor Martinus Timmers SJ dan Pastor Jacobus van Santen SJ (1907), diteruskan oleh Pastor Joanes Kremer SJ (1908). Pembangunan yang tidak disertai gedung pastoran itu, memakan waktu lebih kurang 2 tahun, selesai pada tanggal 20 Desember 1908 dan mampu menampung umat sebanyak 100 – 150 orang.

Pemberkatan dan Pemberian Nama

Pemberkatan gedung gereja yang dibangun tanpa kupel (menara) itu dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908 oleh Pastor Joanes Kremer SJ dan diberi nama pelindung Santo Ignatius Loyola. Ignasius adalah seorang Santo (orang suci dalam iman katolik) mantan perwira Kerajaan Spanyol yang menjadi imam dan pendiri Ordo Serikat Yesus. Pemberian nama tersebut sangat mungkin berkaitan erat dengan keberadaan kota Cimahi sebagai kota garnisun, gedung gereja yang ada di tengah-tengah perumahan militer dan umat perdananya adalah kalangan militer.

Meskipun pemberkatan dilakukan pada tanggal 20 Desember 1908, tetapi hari jadi Gereja Santo Ignatius Cimahi diperingati setiap tanggal 31 Juli, sesuai dengan peringatan pesta nama St. Ignatius Loyola.

Pembangunan Perluasan Bangunan Gereja

Seiring dengan berjalannya waktu, maka perkembangan jumlah umat semakin hari semakin bertambah sehingga dirasa perlu untuk memperluas gedung gereja. Pada tanggal 30 April 1925, gedung gereja diperpanjang sehingga ukurannya menjadi 8 x 24 meter.
Sedangkan bentuk gedung gereja seperti salib dengan menara seperti yang ada sekarang, adalah hasil pelebaran yang dilakukan pada tanggal 31 Juli 1930 oleh pastor J. de Rooij OSC. Selain pelebaran gedung gereja, dibangun pula pastoran (rumah tinggal pastor) dan gedung pertemuan yaitu gedung Sugiyapranoto sekarang. Peresmiannya dilakukan oleh Mgr. J. H. Goummans OSC pada tanggal 2 April 1933 bertepatan dengan 25 tahun berdirinya gereja di Cimahi.

Selain berkarya dan memberikan pelayanan di bidang rohani, gereja saat itu telah memberikan pelayanan dibidang sosial, pendidikan dan kesehatan, meskipun masih sangat terbatas.

Berdirinya Paroki St. Ignatius Cimahi

Sebelum serah terima dilakukan, gereja St. Ignatius Cimahi berubah statusnya dari Stasi menjadi Paroki pada tanggal 7 Juni 1928. Meskipun demikian, Paroki baru ini belum memiliki pastoran sehingga belum ada pastor yang tinggal menetap.
Pelayanan terhadap umat masih dilakukan oleh pastor-pastor yang berasal dari Bandung. Pada saat itu jumlah umat tercatat sebanyak lebih kurang 135 orang yang terdiri dari 115Orang Eropa dan 20 orang non Eropa.

Tahun 1928 sekumpulan opsir yang beragama katolik membeli sebuah rumah di daerah Tagog untuk tempat rekreasi dan pertemuan. Rumah tersebut diberi nama Militer te Huis dan kemudian pada tahun 1960 an namanya diganti menjadi Panti Cengkrama. Rumah tersebut akhirnya dihibahkan kepada gereja dan oleh gereja dibangun menjadi gedung serba guna dan Gereja St. Agustinus sampai sekarang.

Pada tahun 1930 Pastor Johanes de Rooij OSC. tinggal dan menetap di Cimahi, mula-mula di daerah Tagog (sekitar daerah apotik Omega sekarang) kemudian pindah ke rumah sewaan di Prins Hendrik Laan (sekarang letaknya di Ubug pas di tusuk sate ujung jalan Oerip Soemoharjo). Ia adalah pastor pertama yang menetap di Cimahi. Setelah kurang lebih 3 tahun bekerja sendiri, kemudian datang pastor Dirk Koster OSC. sebagai pastor pembantu pada tahun 1933, karena semakin luasnya wilayah pelayanan dan umat yang harus dilayani.

Disaat itulah mulai dipikirkan untuk membangun gedung pastoran, gedung pertemuan dan gedung sekolah. Rencana pembangunan gedung sekolah dibatalkan karena lahan yang tersedia kurang luas.

Pembangunan Gedung Pastoran, Gedung Peremuan dan Perluasan Gereja

Pada tanggal 31 Juli 1930 dimulailah upaya pembangunan gedung pastoran dan gedung pertemuan sekaligus perluasan gedung gereja oleh Pastor J. de Rooij, sebagai pastor paroki. Gedung gereja yang semula berukuran 8m x 16m diperluas, ukurannya menjadi 8m x 24m, bentuknya lurus, posisi mengarah ke Timur – Barat dengan pintu utama di sebelah Timur. Gedung pastoran dibangun di sebelah Utara gereja agak ke arah Timur Laut dan digunakan sampai awal tahun 2004. Pastor J. de Rooij adalah pastor paroki pertama yang untuk pertama kalinya menempati pastoran baru tersebut. Sedangkan gedung pertemuan yaitu Gedung A. Sugiyapranoto yang digunakan sampai sekarang dibangun di samping sebelah Timur gereja.

Pada tanggal 20 September 1933 dilakukan peletakan batu pertama pada acara perluasan gedung gereja dilakukan oleh pastor Antonius van Asseldonk. Bangunan gereja yang diperluas berbentuk salib dilengkapi dengan sebuah menara lonceng dan sebuah lonceng besar yang diberi nama Angelus (para malaikat) digantungkan disitu sejak 9 Juni 1935. Pembangunan dilakukan oleh pemborong yang bernama Lim A Goh dari Bandung dibawah pengawasan de Leeuw sebagai toezicht. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan tersebut sekitar 9.000 gulden.

Pada tanggal 2 April 1934, bertepatan dengan Hari Raya Paskah dan 25 tahun gereja St. Ignatius Cimahi, Mgr. Jacobus Hubertus Gouman OSC meresmikan bangunan gereja yang sudah selesai diperluas. Perluasan gedung gereja dilakukan kembali karena umat paroki Cimahi semakin bertambah dan wilayah pelayanan pastoralnya semakin luas.
Gedung gereja yang sudah diperluas bentuknya seperti gedung gereja sekarang ini dan mampu menampung umat sebanyak 500- 600 jemaat.

25 Tahun Gereja Santo Ignatius Cimahi

Peringatan seperempat abad gereja St. Ignatius Cimahi ditandai dengan peresmian perluasan bangunan gereja yang sebelumnya sudah diperluas oleh Mgr. J.H.Gouman OSC. Prefek Apostolik Bandung I yang diangkat pada tanggal 27 Mei 1932 dan dilantik oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Antonius van Velsen SJ. pada tanggal 15 Agustus 1932 di gereja St.Petrus Bandung.

Hal itu terjadi karena sejak tanggal 20 April 1932, berdasarkan Brevis Apostolica Paus Pius XI, wilayah Bandung dipisahkan dari Vikaris Batavia menjadi Perfektus Bandung.

Dalam usianya yang sudah 25 tahun, kegiatan pelayanan diberikan kepada umat khususnya berkaitan dengan permandian, komuni pertama, sakramen penguatan dan perkawinan.

Wilayah pelayanan paroki Cimahi saat itu sangat luas meliputi Purwakarta, Cikampek, Karawang, Pamanukan, Subang dan daerah-daerah disekitarnya. Hal inipun tentu membutuhkan jumlah pelayan/pastor yang memadai. Untuk kebutuhan itu, maka didatangkan seorang pastor pembantu yaitu pastor Dirk Koster OSC.

Masa Menjelang dan Paska Kemerdekaan

Periode 25 tahun kedua atau 31 tahun setelah pastor-pastor OSC berkarya di Cimahi, paroki St. Ignatius mencatat berbagai peristiwa penting yang membawa dampak bagi kemajuan dan perkembangan umat katolik maupun peristiwa yang berdampak tidak menguntungkan. Peristiwa-peristiwa tersebut secara kronologis diuraikan di bawah ini.

Kedatangan Suster-Suster OP dan Tentara KNIL di Cimahi

Menindaklanjuti perlunya sarana pendidikan dalam rangka pengembangan kedewasaan pikiran dan sikap mental umat, maka pastor Johanes de Rooij sebagai pastor paroki menulis surat kepada suster-suster Ordo Santo Dominikus atau Ordo Praedicatorum (OP) yang memiliki biara induk di Cilacap, untuk berkarya di Cimahi. Undangan tersebut mendapat sambutan yang positif, maka pada tanggal 2 Juli 1934 beberapa suster Dominikanes tiba di Cimahi. Mereka bermaksud membeli tanah di daerah Hotel Berglust (dikenal sekarang sebagai Berkles di Jln. Sukimun), tetapi batal dan akhirnya membeli tanah didaerah Baros sekarang dari seorang pemilik yang bernama Timmerman. Di atas lahan itulah dibangun rumah biara dan sebuah local Taman Kanak-Kanak (Frobel School) St. Theresia dan Sekolah Dasar (Largere School) St. Maria. Bangunan tersebut masih terbuat dari bilik bambu dan diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1934, sedangkan kompleks bangunan yang permanent baru dibangun pada tanggal 23 Mei 1935 di mana Uskup Bandung, Mgr.J.H.Goumans OSC meletakkan batu pertama pada pembangunan Sekolah Katolik dan Kapel Suster Dominikanes tersebut. Setelah pembangunan selesai, kompleks sekolah dan kapel baru tersebut diberkati pada tanggal 12 Agustus 1935 oleh Mgr. J.H. Goumans OSC.

Pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh para suster Dominikanes, semakin hari semakin berkembang. Oleh karena itu untuk melayani pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Dasar, perlu ada ruangan kelas yang baru. Menyadari akan adanya kebutuhan tersebut, maka pada tanggal 1Agustus 1938 dibangun Sekolah Dasar yang lokasinya di lapangan biara susteran.

Kemajuan paroki sangat ditunjang oleh umat yang berpendidikan dan terampil dalam mengolah setiap persoalan hidup menggereja ditengah-tengah masyarakat. Untuk hal itu, maka generasi muda gereja harus dibekali dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Supaya generasi muda gereja memiliki keterampilan praktis dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi, paling tidak untuk kepentingannya, maka pada tanggal 15 Agustus 1940 didirikan dan diresmikan sebuah sekolah kejuruan.

Selain kedatangan suster-suster OP, pada tahun yang sama datang pula tentara KNIL dari Menado, Flores dan Jawa beserta keluarganya yang ditugaskan di Cimahi. Kedatangan mereka mengakibatkan jumlah umat katolik di paroki semakin bertambah karena banyak diantara mereka yang beragama katolik. Tugas pembinaan rohani anggota KNIL dilakukan oleh pastor Leenders OSC. sebagai pastor tentara yang datang ke Cimahi pada tahun 1937 menggantikan pastor Antonius Kooyman OSC.

Pendudukan Balatentara Jepang

Invasi balatentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, mengakibatkan wilayah Indonesia dikuasai oleh pemerintah Jepang. Pada bulan Maret 1942 tentara Jepang masuk dan menguasai kota Bandung dan juga kota Cimahi. Pendudukan Jepang mendatangkan kesulitan bagi gereja karena para pastor dan suster banyak yang ditawan dan dipenjarakan, gereja dijadikan sebagai gudang logistik, kegiatan peribadatan umat dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena dilarang, termasuk membunyikan lonceng “Angelus”di gereja setiap pukul 12.00. Larangan itu terjadi karena gereja tetap membunyikan lonceng Angelus setiap pukul 13.30, padahal sejak tanggal 23 Maret 1942, Waktu Jawa dihapus dan diganti oleh Waktu Nippon yang selisihnya maju 1,5 jam, maka pihak Jepang menyadari bahwa gereja masih tetap menggunakan waktu Jawa.

Gedung gereja dan pastoran dijadikan markas dan gudang logistik bagi tentara Jepang. Pastor Bart Leenders dan Pastor Scheerder ditawan dan dipenjarakan. Setelah beberapa kali pindah kamp tawanan, akhirnya mereka ditawan di Kamp IV (sekarang Pusdikhub, sebelah utara Kantor Pos Cimahi). Dengan ditawannya para pastor, maka pelayanan umat diseluruh Vikariat Bandung dilakukan oleh pastor H. Reichert, satu-satunya pastor asing yang tidak ditawan dan dipenjarakan. Ini adalah suatu tugas dan tanggung jawab yang hampir berada di luar bataskemampuan manusia untuk mempertahankan Gereja Katolik. Pada tanggal 5 April 1943, salah seorang pastor yang ditawan di Cimahi yaitu pastor A. van Dijk meninggal dunia.

Pada masa sulit tersebut, seorang katekis awam yang bernama Pedro Mawi Amang yang berasal dari Flores, sempat mengurusi dan memberikan pelayanan rohani pada umat, sampai akhirnya ketika sedang memimpin perayaan ibadat, tentara Jepang menangkapnya dan kemudian membunuhnya. Ia menjadi semacam martir bagi umat paroki Cimahi. Beberapa suster pribumi yang tidak ditawan yaitu Sr. Clara dan Pst. Padmawidjaja MSC. dari Vikariat Purwokerto sempat memberikan pelayanan pada umat, bahkan mempermandikan beberapa umat di Cimahi.

Penataan Paroki Setelah Kemerdekaan

Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, para pastor dan suster yang ditawan dan dipenjarakan oleh Jepang, dibebaskan. Pastor Bart Leender, setelah dibebaskan kembali ke Cimahi, ia dihadapkan pada kondisi gedung gereja dan pastoran yang porak poranda serta umat yang tercerai berai. Ia berusaha membenahi dan memperbaiki kerusakan, tetapi karena situasi kota Cimahi yang tidak aman, maka ia memutuskan kembali ke kamp tawanan untuk mengamankan diri dan menunggu sampai situasi aman.

Sekitar bulan Juli 1946, keadaan kota Cimahi mulai aman, maka pastor Bart Leender dengan bantuan militer Belanda, memperbaiki gereja dan pastoran tetapi sekolah belum dapat dibuka kembali, karena Suster-suster Dominikanes belum kembali ke Cimahi. Baru pada tanggal 1 September 1947 suster-suster Dominikanes mulai membuka Sekolah Dasar St. Yusuf (satu kompleks bangunan dengan SD Santa Maria) dan pada tanggal 1 November 1947 sekolah kejuruan mulai dibuka kembali.

Pada tahun 1947 pastor Jan Dohne OSC (umat asli Cimahi yang menjadi pastor pertama) menggantikan pastor Anton Kooyman OSC dan pastor Reiner Kloeg OSC yang adalah pastor tentara. Kesulitan yang dialami para pastor baru ini adalah penggunaan bahasa Indonesia/Melayu saat memberi homili. Penggunaan tata bahasa yang tidak teratur, pemakaian kata yang tidak tepat, sering mengakibatkan timbulnya salah pengertian dalam berkomunikasi. Tetapi meskipun demikian, umat dapat menerima kekurangan tersebut.

Upaya penataan kembali kehidupan menggereja di paroki Cimahi berlangsung sampai dengan tahun 1950-an. Walaupun upaya ini dirasa berjalan lambat, tetapi sedikit demi sedikit berbagai persoalan yang dihadapi seperti tersebut di atas, dapat diselesaikan berkat bantuan dari semua pihak yang sangat peduli terhadap perkembangan kehidupan menggereja di kota Cimahi yang lebih baik.

Pemulangan Tentara Belanda (KL) Ke Negeri Belanda

Sebagai kota militer, Cimahi menjadi sangat peka terhadap perubahan situasi politik yang terjadi baik di pusat maupun di daerah. Hal itu dapat dilihat selama kurun waktu 1950-1960 yang ditandai dengan terjadinya berbagai peristiwa seperti pemberontakan DI/TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo, perkembangan partai komunis yang semakin kuat dan konflik Irian Barat antar pemerintah Indonesia dan Belanda. Peristiwa-peristiwa tersebut membawa dampak terhadap kehidupan menggereja di paroki Cimahi.

Terjadinya konflik antara pemerintah Indonesia dan Belanda karena Belanda belum mau mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang sudah merdeka, mengakibatkan terjadinya pemulangan Tentara Belanda sehingga jumlah umat paroki Cimahi menjadi berkurang Pada tahun 1950an, umat paroki berkurang sangat mencolok dari jumlah 2400 umat berkurang menjadi tinggal 600 orang.

Namun sebaliknya, kedatangan TNI dan keluarganya ke Cimahi kemudian, membawa pengaruh yang cukup besar pada perkembangan umat di paroki Cimahi, karena diantara keluarga tersebut ada yang beragama katolik dan mereka mulai aktif terlibat dalam kehidupan menggereja.

Penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh suster-suster Dominikanes sebagai salah satu bentuk pelayanan di bidang pendidikan terhadap umat di paroki Cimahi, terlebih setelah dibukanya SMP St. Mikael pada tanggal 1 Agustus 1950, membawa implikasi bagi terbentuknya Persatuan Guru Katolik di Cimahi.

Demikianlah sekilas perjalanan sejarah Gereja Katolik Santo Ignasius meretas masa-masa awal yang penuh gejolak yang tidak sedikit menuntut dan menyita pengorbanan yang luar biasa dari para pelakunya. Namun hal ini menjadi batu karang yang kokoh bagi landasan bangunan hidup menggereja umat dan para gembalanya.

Tidak sepesat perubahan bangunan dan prasarananya, perkembangan kehidupan menggereja umat lebih mewarnai perkembangan Gereja Katolik utama dan pertama di Kota Cimahi yang pemerintahannya tahun ini genap berusia 6 tahun. Berbagai organisasi, baik yang menjadi bagian internal gereja, maupun organisasi atau kelompok yang berafiliasi dengan gereja, semakin hari semakin mewujud dan senantiasa bergerak menjalankan misinya masing-masing yang pada akhirnya bermuara pada pelayanan sesama untuk semakin memuliakan Allah. Saat ini umat katolik Cimahi berjumlah lebih dari 2750 keluarga dengan jumlah umat sekitar 8000 jiwa.

Adapun daerah cakupan pelayanan Paroki Santo Ignasius Cimahi adalah:
* Sebelah Utara: berbatasan dengan Lembang Bandung (Kel. Cisarua)
* Sebelah Timur: berbatasan dengan Paroki Waringin dan Paroki Pandu (Ciwaruga)
* Sebelah Selatan: Sungai Citarum (Nanjung)
* Sebelah Barat: berbatasan dengan Paroki Cianjur (Rajamandala) dan Paroki Purwakarta (Plered)

Dalam cakupan wilayah yang luas tersebut, keragaman etnis memperkaya kehidupan hidup menggereja di Paroki Cimahi ini. Dari jumlah 2750 keluarga, di antaranya berasal dari berbagai etnis, seperti Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Manado, Ambon, Flores, Timor, Papua dan Tionghoa.

Seluruh umat dalam paroki ini dilayani oleh empat orang pastor. Sebagai Pastor Kepala adalah Pastor Aloysius Supandoyo OSC., yang dibantu oleh Pastor Ignasius Putranto OSC.

Sumber : http://ignatiuscimahi.blogspot.com/
Gambar : http://ignatiuscimahi.blogspot.com/
http://baitallah.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Selasa, 21 Februari 2012

Sejarah Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping

Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping terletak di Dusun Gamping Tengah, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak lebih kurang 5 km sebelah barat pusat Kota Yogyakarta.

Umat Pertama

Pertumbuhan umat paroki Gamping sangat erat hubungannya dengan Kramaredja, cucu dari Raden Panewu Djajaanggada, abdi dalaem Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat yang bekerja sebagai penjuang gamping. Karena pada saat itu Desa Gamping merupakan pusat produksi batu gamping di mana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai panambang batu gamping. Hal ini menyebabkan desa Gamping dikenal luas di daerah Yogyakarta, Muntilan hingga Magelang.

Kramaredja pada saat itusering mengantarku gamping ke Muntilan kepada Romo Frans van Lith SJ (seoerang pastor Belanda berjiwa Jawa) sehingga mempunyai kedekatan dengan yang saat itu sedang mendirikan gedung Kolese Xaverius di Muntilan.

Bendot Djajautama, anak sulung Kramaredja, atas petunjuk ayahnya yang mempunyai kedekatan dengan Romo Frans van Lith SJ mengikuti pendidikan guru. Sewaktu menjadi guru di Indramayu, ia berkenalan dengan Den Mas Djajus, seorang guru yang beragama Katoli berasal dari Sala. Dari situlah ia kemudian mendalami agama Katolik dan dibaptis sekitar tahun 1918.

Setelah dibaptis, Bendot Djajantama membimbing adik-adiknya yaitu Sarwana Bratqaanggada supaya belajar di Normaalschool di Muntilan, dan dibaptis di Muntilan pada tahun 1919. Juga mengarahkan adik perempuannya untuk belajar baca tulis dan bekerja di pabrik cerutu Negresco (sekarang Tarumartani). Dengan cara itulah adik-adiknya dan orangtuanya menjadi Katolik. Kramaredja sendiri dibaptis dengan nama baptis Bartolomeus pada tanggal 10 Nopember 1920 oleh Rm. H. Van Driessche, SJ. Beliaulah yang tercatat menjadi umat pertama di Gamping.

Tumbuhnya biji sesawi

Demikianlah umat pertama di Gamping, berkat biji sesawi yang tumbuh dalam keluarga Kramredja, iman kristiani tumbuh pula pada keluarga lain dan menyebar ke desap-desa sekitar Gamping, seperti Banyuraden, Onggobayan, Mejing, Pasekan, dan Gancahan.

Berbicara tentang perkembangan iman Kristiani di Gamping ini, selain peran dari Rama Frans van Lith SJ lewat Normaalschool dan Kweekschool di Muntilan, juga Rm. H. Van Driessche, SJ yang mempunyai keahlian dalam berbahasa Jawa. Dan kemudian tahun 1917 mendirikan Standardschool yaitu sekolah bagian orang pribumi di Kumendaman. Mengingat kondisi kesehatan Rm. H. Van Driesssche SJ memburuk, maka Rama F. Straeter SJ ditugaskan membantu dan meneruskan misi tersebut, selanjutnya beliau menggunakan sekolah-sekolah Kanisius sebagai ujung tombak kerasulan.

Pada tahun 1923, Rm. F. Straeter SJ membuka Volkschool di Mejing, bertempat di kediaman Partadikrama dengan guru al. Bendot Djajautama dibantu Reksaatmadja.

Ketika umat berjumlah 50 orang, mereka mendapatkan misa sebulan sekali. Lambat laun ketika umat di Gamping berkembang menjadi 100 orang, mereka mendapatkan misa sebanyak dua kali dalam sebulan, bertempat di SD Kanisius Mejing. Akan tetapi pada minggu-minggu biasa sebagian dari mereka harus berjalan kaki ke kota, antara lain ke gereja Kidulloji, Kumetiran dan Kotabaru, dan Pugeran untuk mengikuti misa.

Perkembangan umat pada zaman Jepang

Tanggal 8 Maret 1942 Jepang menguasai seluruh pelosok Nusantara. Masa pendudukan Jepang ini merupakan masa-masa sulit bagi perkembangan umat. Hal itu disebabkan gereja Katolik dilarang untuk memberikan pendidikan dan pengajaran Katolik. Banyak imam, biarawan maupun awam ditangkap dan dipenjarakan.

Pada tahun 1943, umat paroki Gamping berjumlah sekitar 150 orang. Rama F. Straeter SJ mungkin telah menyadari adanya malapetaka yang akan terjadi, kemudian meminta Jacobus Mertadikrama dari Gamping Lor agar mengamankan altar dan peralatan misa dari sekolah ke rumah.

Tahun 1944 banyak gereja, biara, rumah sakit dan sekolah Katolik dirampas Jepang untuk dijadikan kantor pemerintah, penjara, atau markas militer. Berhubung dengan itu maka penyelenggaraan misa dilakukan di rumah Martadikrama hingga tahun 1948. Setelah ia meninggal tahun 1945, peralatan dan pakaian misa disimpan di rumah Bonifacius Tjaraka.

Zaman Revolusi Fisik

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar Negara. Paroki Kotabaru dan gereja-gereja lainnya dibuka kembali dengan semangat baru. Di Kumetiran, meski peralatan misa tidak ada, akan tetapi jemaat yang telah terbentuk tidak bubar. Pada tanggal 31 Oktober 1945, umat di Kumetiran membentuk paroki sendiri dengan nama Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela, dan Gamping menjadi salah satu stasi dari Paroki Kumetiran. Sejak saat itu pula dibentuk pengurus persiapan Paroki Gamping, dengan tugas mengelola umatnya agar lebih berkembang. Stasi Gamping dibagi menjadi wilayak Gamping, Gancahan, Nyamplung, dan Mejing.

Angin Perubahan tidak berlangsung lama, serangan-serangan Belanda mengakibatkan pemerintah RI semakin sempit, dan pada tahun 1946 Ibukota RI dipindah ke Yogyakarta. Dikuasainya Yogjakarta oleh Belanda, turut mempengaruhi keberadaan umat di Gamping. Tentara Belanda membuat markas pertahanannya di Gamping Kidul, Pasekan dan Klangon. Akibat adanya peperangan tersebut peralatan misa yang saat itu disimpan di rumah Bonifacius Tjaraka selalu berpindah-pindah tempat. Dengan bantuan beberapa teman, Bonifacius Tjaraka mengungsikan pakaian dan peralatan misa ke tempat Mudji Mudjosusanto di Gejawan. Sedangkan altar dibawa oleh beberapa pemuda ke rumah Prawirasukardja di Nyamplung. Dengan demikian perayaan Ekaristi kemudian diadakan di Nyamplung, dipimpi al. oleh Rama A. Pudjahandaja, Pr.

Setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tahun 1949, misa diselenggarakan di kediaman Jacobus Mertadikrama. Seiring dengan pertambahan umat, membuat rumah Mertadikrama tidak dapat menampung lagi. Melihat hal tersebut Cornelius Muljata selaku ketua Stasi Gamping berbicara dengan Raden Wedono Sastrawanadardja yang memiliki rumah besar. Walau pada saat itu beliau belum menjadi pemeluk Katolik, tetapi ia memperbolehkan untuk dipakai melaksanakan Ekaristi. Hal ini terjadi mulai dari tahun 1950 hingga berdirinya Gereja Santa Maria Assumpta Gamping pada tahun 1961. Kemudian salah seorang putra Raden Wedono Sastrawanadardja yaitu Mgr. Blasius Pujaraharja menjadi Uskup Ketapang.

Perkembangan umat di Gamping sangat subur, sehingga umat mendesak pastor Paroki Kumetiran untuk mempersiapkan beridirinya gereja di Gamping. Berhubung status Gamping belum tegas, apakah menjadi bagian dari paroki Kotabaru atau paroki Kumetiran, maka Rama Alexander Sandiwan Brata, Pr pada tahun 1954 menulis surat ke Vikariat Apostolik Semarang. Surat tadi berisi tentang penegasan status bahwa Gamping memilih menjadi bagian dari paroki Kumetiran daripada paroki Kotabaru, melihat dari keeratan hubungan Gamping – Kumetiran dan kebiasaan umat Gamping beribadat ke gereja Kumetiran.

Setelah terjadinya penegasan tersebut, pengurus Stasi Gamping membentuk Panitia Persiapan Pendirian Gereja, yang bertugas untuk mengusahakan tanah dan pendirian gereja dan pastoran di Gamping. Kepanitiaan tersebut terdiri atas: Petrus Honosudjatmo, Bonifacius Tjaraka, Hardjasuprapta, Subardi, Suhardi dengan pelindung Rm. Alexander Sandiwa Brata, Pr.

Seraya mengurus pendirian gereja – pastoran – sekolah, Panitia Persiapan Pendirian Gereja berupaya mencari tanah yang cocok untuk lokasi gereja – pastoran. Setelah beberapa waktu bekerja, Panitia memberi laporan berupa pilihan lokasi kepada Rm. Alexander Sandiwan Brata, Pr.

Alternatif pilihan lokasi rencana gereja al. :
- tanah di sebelah utara Kantor Pos Gamping;
- tanah bekas Kawedanan di Delingsari;
- tanah dengan bangunan kosong milik Rd. Wedana Pradjanarmada, Wedana Wates, Kulon Progo;

Setelah melewati berbagai pertimbangan, maka pilihan jatuh kepada tanah Rd. Wedana Pradjanarmada. Negosiasi tanah sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, mulai dari tahun 1953 dan akhirya berkat kegigihan Panitia pada tahun 1957 tanah tersebut bisa dibeli dengan harga Rp. 725,- / m2,

Berhubung tanah yang dibeli Panitia kurang memadai luasnya untuk kompleks gereja dan pastoran, maka Petrus Honosudjatmo meminta Petrus Wakijahadisunardja untuk merelakan tanah miliknya. Dengan cara itu terjadilah lahan gereja seperti saat ini, yaitu tanah seluas 3.050 m2, berbentuk segitiga siku-siku, dengan jalan raya depan gereja pada sisi miringnya.

Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang dikenal memiliki wawasan jauh ke depan, dalam kesempatan menerimakan sakramen krisma di Gamping kepada 50 orang umat Gamping pada tanggal 14 September 1956 berkata, „Para sedulur, aja padha cilik ing ati. Sapa ngerti yen ing tembe buri bakal ana greja mundhuk-mundhuk teka ana ing Gamping kene” (Saudara sekalian, jangan kecil hati, siapa tahu besok akan ada gereja tiba-tiba muncul di Gamping sini).

Pernyataan beliau tersebut merupakan kabar gembira yang membuat hati umat di Gamping berkobar untuk mendirikan sebuah gereja.

Setelah tanah diperoleh, Panitia kemudian mengurus pengesahan hak kepemilikan atas tanah yang dilakukan dengan membuat Yayasan berbadan Hukum „PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROOMS KATOLIK DI WILAYAH GEREJA SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA DENGAN MULIA DI GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA”. Yayasan ini disahkan pada tanggal 9 September 1958, di depan Notaris Raden Mas Soeprapto di Semarang dengan susunan pengurus:

Ketua : Romo G. Susanto Utojo, Pr
Sekretaris : Petrus Honosudjatmo
Fransiscus Slamet Hartono

Dengan adanya Yayasan tersebut, maka Gamping merupakan paroki pertama Paroki Kumetiran yang mampu mempunyai hak atas tanah yang dibeli. Kepemilikian hak atas tanah tersebut lebih kuat dengan adanya sertifikat dari Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman, yang terbit pada tahun 1994.

Nama pelindung “Maria Assumpta” diusulkan oleh Petrus Honosudjatmo, berangkat dari pengalaman yang tidak dapat ia lupakan, saat tertembak dalam peperangan melawan Belanda pada tanggal 19 Januari 1949. Dalam keadaan tak sadarkan diri karena kekurangan darah, ia seperti masuk ke dalam suasana serba gelap. Dalam suasana itu ia merasa ditemui oleh ibundanya Maria Pawirasukardja yang telah meninggal 13 November 1945. Ibu berkata, bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan bila dilaksanakan dengan perantaraan ”SANG KENYA KANG PINUNDHUT MENYANG SWARGA, PENUH KAMULYAN”. P. Honosudjatmo kemudian mengajukan permohonan agar selamat dari maut dan umur panjang. Setelah 5 bulan dirawat di Panti Rapih ia kemudian sembuh.

Usulan nama pelindung ”Sang Kenya Kang Pinundhut Menyang Swarga Penuh Kamulyan” disambut oleh Rama G. Susanto Utojo, Pr dan Rama Alexander Sandiwan Brata, Pr dengan gembira, bahkan menerangkan bahwa Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik ”Munificentissimus Deus” 1 November 1950 menegaskan bahwa keyakinan akan Maria Diangkat Ke Surga Dengan Mulia (”SANCTA MARIA ASSUMPTA”) masuk dalam jajaran dogma, dengan tanggal 15 Agustus sebagai hari pestanya.

Setelah memiliki tanah dan hak kepemilikan beres, Petrus Honosudjatmo menghubungi Vikariat Apostolik Semarang bahwa pembangunan gereja dimulai. Ketika menghadap, ia membawa gambar rencana gereja hasil karya Victorianus Prajitnadirdja lengkap dengan anggarannya. Rama B. Schouten SJ, Sekretaris Vikariat Apostolik Semarang, menegaskan bahwa gambar perlu diperiksa dan disempurnakan oleh bagian pembangunan Keuskupan Agung Semarang (KAS), sedang biaya pembangunan menjadi tanggungjawab Vikariat Apostolik Semarang.

Pada tahun 1959, Rama B. Schouten SJ mengajak Rama C. Romments SJ, yang saat itu menjadi Pastor Paroki Pakem datang meninjau lapangan. Rama B. Kieser SJ menerangkan bahwa Rama C. Rommens SJ adalah imam yang memperkenalkan model Gereja konstruksi kayu. Oleh karena itu, bentuk bangunan gereja Gamping mirip dengan bentuk bangunan gereja Pakem.

Setelah semua dipersiapkan di bawah arahan Panitia Gereja, umat dari kring Nyamplung, Gancahan, Mejing, dan Gamping bekerja bakti membersihkan lahan dan meratakan tanah seluas 3.050 m2 dengan ketinggian 1-4.5 m. Kemudian mereka menbumpulkan batu dan pasir serta membangun pagar penahan tanah urug dan bangunan.

Petrus Honosudjatmo yang saat itu bekerja di Perusahaan Garuda Indnesian Airways mengerahkan truk PT. JUSUP untuk mengangkut baru, tanah, pasir atau apa pun yang dikumpulkan umat. Pembangunan berjalan terus, namun ada beberapa kendala, antara lain:
- Menunggu kusen-kusen yang dikerjakan di Semarang;
- Kedatangan lem perekat yang dipesan dari Belanda;
- Salahnya pemasangan tiang yang mengakibatkan pembongkarsan genteng yang hampir seluruhnya terpasang.
- Ambrolnya pasangan baru penahan tanah urug karena air hujan.

Peletakan batu pertama, tanda dimulainya pembangunan gereja Gamping, dilakukan oleh Rama Thomas Hardjawarsito Pr awal tahun 1960.

Rama Henricus van Voorst tot Voorst SJ, mantan ekonom Keuskupan Agung Semarang, memberi keterangan bahwa gereja Gamping itu bisa diibaratkan ”GEREJA TIBAN”. Maksudnya gambar konstruksi, penyediaan, dan pengerjaan dilakukan di Semarang atau tempat lain, setelah selesai kemudian dibawa ke Gamping untuk dipasang. Semuanya itu dikerjakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Apostolik Semarang.

Bapak G. Gunarto, mantan Kepala Bagian Pertanahan KAS, menambah penjelasan bahwa gambar gereja Gamping dikerjakan oleh Oei Ging Sing dari Semarang. Kayu jati yang dignakan disediakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Semarang di bawah pimpinan Br. J. Haeken SJ. Pelaksanaan pembangunan dikerjakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Semarang di bawah pimpinan Tjan Djie Tong. Adapun pelaksana di Gamping antara lain Petrus Sunarjo dari Semarang. Rama B. Schouten SJ berkunjung ke Gamping paling tidak dua minggu sekali. Luas bangunan 520 m2 dengan ukuran 13x40 m.

Ada beberapa hal yang istimewa dari gereja Gamping yang khas, yaitu:
- Semua jendela tidak ada yang berbentuk persegi, tetapi bulat dan trapezium;
- Tiang kayu sebanyak 12 batang. Per batang merupakan beberapa papan yang direkat dengan lem dan ditahan dengan baut sehingga menjadi sangat kuat.
- Dinding belakang altar dibuat dengan gaya semacam kayon atau pohon yang menggambarkan pohon kehidupan, diambil dari kisah wayang purwa.
- Lengkung kemenangan di depan altar dibuat dengan gaya burung Berli.
- Balkon belakang dibuat dari tangga pesawat terbang dan digambari motif kain ”parang barong atau parang rusak”.

Pembangunan gereja dianggap selesai meski tidak dilengkapi dengan altar, mimbar, kursi imam, kursi misdinar dan dhingklik umat. Semua perlengkapan kemudian dilakukan dengan cara swadaya umat atau mencari bantuan dari paroki lain.

Setelah dianggap selesai, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ kemudian hadir memberkati gereja pada tanggal 24 Desember 1961 pukul 07.00 WOB. Selesai pembekatan, diadakan ramah tamah sederhana antara umat dengan Bapak Uskup dan dihadiri oleh Penewu Pradjaatmaka dan Raden Wedana Pradjanarmada, pemilik tanah gereja sebelumnya.

Sejak saat itu perayaan misa pindah dari rumah Raden Wedana Sastrawanadirja ke gereja hingga saat ini.

Zaman Persiapan Menuju Paroki

Pastor yang bertugas: Rama Benardus Wonosunarjo, SJ (1961-1970); Rama Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra SJ (1963-1969); Rama Bernardinus A. Sadji OFM (1974-1976); Rama F. Sutojo OFM (1976-1978).

Rama Benardus Wonosunarjo SJ (berkarya di Gamping 1961-1970).

Setelah punya gereja, umat suka menyatakan diri sebagai umat Paroki Gamping, meski sebenarnya status masih tingkat stasi di bawah koordinasi Paroki Kumetiran. Reksa rohani terlebih misa dilayani para pastor Paroki Kumetiran sebulan 2 kali, Minggu II dan Minggu IV dengan bahasa Jawa. Pastor yang sering melayani di Gamping antara lain Rama Bernardus Wonosunarja SJ yang biasa dipanggil Rama Liem.

Rama Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra SJ (berkarya di Gamping 1963-1969). Umat Gamping mengenang Rama Petrus Chrysologus Soeharso Soetopanitra SJ sebagai imam sandal jepit, suka mengendarai sepeda butut dan berjubah kusam. Rokoknya tembakau lintingan. Bila berkunjung ke rumah umat suka mempir ke dapur untuk minta intip (kerak nasi).

Rama Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra juga dikenal sebagai pencinta budaya Jawa, terutama pertunjukan wayang. Melalui cara ini beliau dapat bergauldengan semua lapisan masyarakat. Kemudian pada tahun 1967 beliau pernah nanggap wayang kulit yang dimainkan oleh Ki Dalang Suparman. Setelah punya pastoran, beliau memasang wayang kayon (gunungan) Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai simbol pelayanan dan pengabdian.

Sejak adanya pastoran, Rama Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra SJ, sering menginap di Gamping, untuk mulai mengadakan misa di lingkungan-lingkungan. Beliau menata Gamping dalam 7 kring (lingkungan) yaitu: Onggobayan, Gamping, Mejing, Gesikan, Nyamplung, Gancahan,d an Sumber Gamol – Gejawsan – Paseban. Agar keadaan wilayah mudah dibaca, beliau berintis adanya peta stasi.

Rama Bernardinus A. Sadji OFM (berkarya di Gamping 1974-1976)

Agaknya beberapa umat kurang begitu bisa menerima kehadiran beliau sebagai gembala paroki dengan alasan masih terlalu muda dan belum banyak pengalaman, sehinga dirasa kurang berwibawa. Akibat dari sikap itu, ”caos dhahar” sering terlantara, maka beliau sering ke umat yang menerima baik untuk minta makan malam. Dan pada tahun 1976 beliau pindah ke Jakarta.

Rama F. Sutoyo OFM (berkarya di Gamping 1976-1978)

Beliau menggantikan Rama Bernardinus A. Sadji OFM sampai tahun 1978. Umat mengenang Rama F. Sutoyo OFM sebagai rama yang menjunjung tinggi disiplin. Bila membuat janji, harus ditepati, meleset sediikit dari waktu yang ditetapkan, maka tidak akan dilayani.

Berdinynya Paroki

Rama Constantinus Harsasuwita SJ (berkarya di Gamping 1978-1988)

Rama Constantinus Harsasuwita SJ adalah imam yang membuat Stasi Gamping berdiri menjadi paroki. Ketika mulai berkarya di Gamping, beliau sudah berusia senja serta sering sakit. Umat mengenang beliau sebagai imam yang keras pendirian, dogmatis dalam ajaran dan pengarahan, suka menyanyi dan merayakan misa bahasa Latin. Paroki dikelola dengan mengutamakan hidup doa, kesalehan dan pelayanan sakramen. Aspirasi umat yang berkaitan dengan perubahan dan tuntunan zaman boleh dikata kurang mendapat tempat.

Rama Constantinus Harsasuwita SJ dikenang juga sebagai imam yang hampir tidak pernah khotbah. Khotbah biasaya dilakukan oleh awam, baik dari luar atau dari dalam paroki. Cintanya pada Gamping, mendorong beliau menambah ruang pastoran, tidak mau pindah, dan ingin bila meninggal dimakamkan di Gamping.

Rama Clemens Budiarto SJ (berkarya di Gamping 1988-1991)

Sejak Rama Constantinus Harsasuwita SJ istirahat ei Wisma Emmaus, Rama Clemens Budiarto SJ diangkat menadi Pastor Kepala Paroki Gamping mulai dari tahun 1988. Beliau dibantu oleh Br. Nicasius Haryono SJ. Dengan kehadiran beliau, Paroki Gamping mulai mengadakan pembenahan. Dengan dibantu oleh Rama Ignatius Madya Utama SJ selama satu semester pada tahun 1991, Paroki Gamping mencoba menerapkan konsep “Gereja Partisipatoris” dengan tekanan hakikat Gereja sebagai umat Allah yang terlibat partisipasinya. Dalam praksisnya, konsep itu dituangkan dengan merinci paroi dalam “stasi” sebagai satuan wilayah koordinasi dan kring sebagai satuan kecil himpunan umat yang tertempat tinggal berdekatan.

Selanjutnya Rama Clemens Budiarto SJ mengubah pembagian paroki yang tadinya 7 kring, menjadi 5 stasi (wilayah) dengan 15 kring (lingkungan). Dalam rangka membuata lingkungan menjadi basis kegiatan umat, beliau menghimpun mereka dengan pelayanan misa model selapanan (rotasi 35 hari) dan mendorong mereka berhimpun sendiri dengan mengadakan kegiatan seperti sembahyangan keluarga, rapat, arisan, dan koor. Berhubung Stasi Gancahan, Gesikan, dan Balecatur telah mempunyai kapel maka mereka mendapat pelayanan misa sebulan sekali.

Selain memberi arah dan menata wilayah, Rama Clemens Budiarto SJ juga membuat struktur paroki yang dituangkan dalam Pedoman Pelaksanaan Dewan paroki. Beliau juga memperhatikan kesenian Jawa antara lain dengan membeli gamelan dan menghidupkan “macapat” yang kemudian diintegrasikan dalam liturgi.

Rama Johanes Abdipranata SJ (berkarya di Gamping 1992-1993)

Rama Johanes Abdipranata SJ berkarya di Gamping cukup singkat, namun melekata di hati umat, terlebih karena khobah yang disampaikan bermutu dan sungguh dipersiapkan. Beliau dikenal amat disiplin, hati-hati dalam berkata maupun berbuat, akrab dan dekat dengan umat juga dengan generasi muda.

Karya peninggalan beliau seperti menggalakkan sarasehan, membuat ruang pertemuan dan sekretariat paroki. Masih banyak rencana yang akan dikerjakan, namun beliau harus segera meninggalkan Paroki Gamping untuk bertugas sebagai Socius Magister Novis Serikat Yesus di Girisonta.

Rama Johanes Mardiwidayat SJ (berkarya di Gamping 1993-1997)

Rama Johanes Mardiwidayat SJ hadir dengan tugas mempersiapkan paroki yang dikelola oleh Serikat Yesus untuk diserahkan kepada pihak Keuskupan Agung Semarang. Tugas itu beliau urai dalam empar prioritas:
1. Pembenahan struktur paroki;
2. Upaya membuat paroki menjadi swadana dan mandiri;

Menyempurnakan dengan pilar-pilar yaitu Liturgia, Kerigma, Koinonia, Diakonia, dan Marturia (kesaksian). Pilar-pilar itu kemudian ditopang dengan Pembangunan dan Dana-Usaha.

Dalam bidang usaha dana beliau merintis pendirian Koperasi Cinta Kasih (KC K) dan Tabungan Cinta Kasih (TCK) dengan tujuan untuk rencana Renovasi Gereja ke depan. Juga membuat Forum Sarasehan Rebo Pisanan.

Rama Christophorus Sutrasno Purwanto Pr (berkarya di Gamping 1997-2001)

Rama Christophorus Sutrasno Purwanto Pr adalah rama diosesan yang pertama bertugas di Paroki Gamping setelah pengelolaannya diserahkan dari Ordo Yesuit. Dalam perkembangannya beliau mendorong blok-blok di lingkungan untuk iman umat. Juga mendorong sarasehan-sarasehan di tingkat paroki, wilayah, maupun lingkungan.

Rama Christophorus Sutrasno Purwanto Pr juga merealisasikan pembelian tanah sebelah selatan gerja yagn saat ini digunakan untuk parkir. Pada tahun 2001 beliau mengadakan peringatan Pesta Nama ke – 40 tahun bersamaan dengan Krisma. Pada puncak perayaan Pesta Nama Gereja Gamping menghadirkan Bupati Sleman, Ibnu Subiyanto.

Rama Jakobus Winarto Widyosumarto Pr (berkarya di Gamping 2001-2007)

Rama Jakobus Winarto Widyosumarto Pr dikenal dekat dengan umat, menerapkan pelayanan murah hati sehingga sering disebut „rama misa”. Prinsip yang dijalankan adalah pembangunan umat paroki sebagai gereja kecil.

Semasa berkarya di Gamping telah memekarkan lingkungan di Wilayah Brayat Minulya Balecatur menjadi 6 (enam) lingkungan, yaitu dengan bertambahnya Lingkungan Santa Margaretha Gejawan Indah Puri. Di akhir masa karyanya di paroki Gamping memekarkan Wilayah Santo Aloysius Gonzaga dari 2 (dua) lingkungan menjadi 3 (tiga) lingkungan dengan bertambahnya Lingkungan Santa Veronika Gesikan III.

Setelah gempa bumi melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, maka tugas yang paling berat adalah pembangunan kembali fisik gereja dan pastoran. Setelah perbaikan gereja 90 % terselesaikan, beliau digantikan oleh Rama Fransiskus Asisi Suntoro mulai 15 Juli 2007.

Sumber :http://historiadomus.multiply.com/journal/item/40/027_Sejarah_Gereja_Paroki_Santa_Maria_Assumpta_Gamping
Gambar : http://baitallah.wordpress.com/

baca selanjutnya...

Senin, 20 Februari 2012

Sejarah Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya

Sejarah berdirinya Gereja Katolik Hati Kudus Surabaya tidak terlepas dari proses perkembangan umat katolik di Gereja Maria Geboorte (Gereja Kelahiran St. Perawan Maria) Kepanjen. Gereja yang pertama kali berdiri di kota Surabaya ini umatnya berkembang pesat, sementara pada masa itu Surabaya sebagai kota pelabuhan dengan tranportasi sungai dari utara menuju selatan berpengaruh pula berkembangnya umat ke wilayah selatan. Karena umat katolik di wilayah Surabaya selatan semakin berkembang pesat dan Gereja Kepanjen tidak menampung lagi maka timbullah pemikiran untuk membangun gereja baru di Surabaya bagian Selatan.

Catatan rapat tanggal 14 Mei 1911 timbul rencana penyediaan lahan untuk dibangun gereja, yaitu :

1. Menaksir persil di Tunjungan dekat apotik Rathkamp, luas 800 meter persegi dengan harga 24.000 Gulden.
2. Persil di Embong Wungu-Kaliasin, dengan pertimbangan jarak antara Surabaya Selatan dengan Surabaya kota tidak jauh, dan terletak persis di di tengan persimpangan jalan utama seluas 2633 meter persegi, dan jika dirasa kurang luas bisa ditambah seluas 1678 meter persegi dengan harga 43000 Gulden. Para suster sangat tertarik dengan persil ini, selain tempatnya yang strategis kalkulasi pembayarannyapun sesuai dengan kemampuan Gereja yaitu dengan cara kredit dalam waktu 1 tahun. Akan tetapi rencana tersebut gagal dikarenakan ada pemberitahuan tiba-tiba dari Kotapraja bahwa akan ada rencana pembuatan saluran air, sebab hasil survey membktikan bahwa air tanah di daerah ini masih setinggi 0,82 di atas paal rooster, akibatnya akan berbahaya jika di atas tanah itu dibangun sebuah gedung besar, akan terjadi ketidakseimbangan “berat jenis”
3. Sebuah persil di tegal sari dengan luas 6618 meter persegi, dengan harga 5 Gulden per meter persegi.
4. Di Ketabang ada tanah yang bisa dipergunakan tetapi tidak boleh dibeli, hanya boleh disewa selama 75 tahun.

Berdasarkan data tanggal 27 April 1914 mencatat bahwa ada rencana pengadaan obligasi sebesar 50.000 Gulden, tetapi sangat disayangkan hingga tanggal 31 Juli 1915 tidaki berhasil diwujudkan, selain itu ada juga protes dari warga Tegalsari untuk menutup tanah tersebut. Akhirnya tanah di Tegalsari tersebut diabaikan, dan dalam waktu satu tahun seorang makelar berhasil menjual kepada Sositet Cocordia dengan harga 132.360 Gulden, dan persil yang di jalan Embong Wungu/Kaliasin juga terjual kepada kepada perusahaan dengan harga 125 Gulden..

Polemik di mana letak gereja baru di Surabaya selatan akan dibangun berlangsung hingga tahun 1919. Pada tahun ini ada 2 persil tanah yang diincir untuk melanjutkan rencana semula:

1. Di daerah Hoogendorplaan, dengan luas tanah 7500 m2 diabatasi oleh jalan Reestraat, dan Jalan Idenburgstraat, dan jalan Brouwerstraat
2. Di Jalan Anita Bulevard (jalan Dr. Sutomo yang kini berubah menjadi Jl. Polisi Istimewa), dengan luas tanah 4200 m2 dan berdekatan dengan persil di Jalan Boschlaan dengan luas 3000 m2.

Akhirnya setelah melakukan pembahasan dengan intensif maka ditetapkan persil di Jl. Anita Boulevard dan jalan Boschlaan yang dipakai untuk dibangun gereja dan pastoran baru untuk Wilayah Surabaya Selatan. Tahap awal perencanaan pembangunan diserahkan kepada arsitek Mr. Beek dengan biaya yang dibutuhkan sebesar 160.000 Gulden. Rancangan desain gereja dibuat oleh arsitek ED Cypress Bureu dengan rangka denah berbentuk empat persegi panjang dan konstruksi bentuk Basilika dibangun oleh biro arsitek HUSWIT-FERMONT.

Upacara peletakan batu pertama pembangunan gereja Hati Kudus Yesus oleh romo Fleerakkers SJ. pada tanggal 11 Agustus 1920. Pada tanggal 21 Juli 1921 gereja sekaligus rumah pasturan diberkati oleh Mgr. Luypen dan diberi nama Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya.

Romo-romo yang berkarya di Paroki Hati Kudus Yesus
1. Rm.Flerecjere, SJ. Th.1921-1923 (pastur paroki)
2. Rm. C. Klamer, CM Th. 1923 (pastur paroki)
3. Rm. C.J.J. Hal, CM Th. 1929 (pastur paroki)
4. Rm. TH. A, Smet, CM Th. 1929
5. Rm. W.J. Maessen Th. 1930
6. Rm. J.J. Zoetmulder, CM Th. 1934 (Vikaris Apostolik)
7. Rm. W.C. Van der Brand, CM Th. 1935
8. Rm. J.B. Schilder, CM Th. 1936
9. Rm. M. Th. Smet CM Th. 1936
10. Rm. C.A.A. Schoenmakers,CM Th. 1937
11. Rm. A.J.C. Ijlst, CM Th. 1937
12. Rm. Van Dril, CM Th. 1938 (pastur paroki)
13. Rm. P.A. Bastiaansen, CM Th. 1939 (pastur paroki)
14. Rm Th. H.Heuvelmans CM Th. 1939
15. Rm. I.J.S. Dwidjosoesastro, CM Th. 1941
16. Rm. M. Verhoeks, CM Th. 1941
17. Rm. Louis Nyssen, CM Th. 1943
18. Rm. TH. A, Smet, CM Th. 1947
19. Rm. J.A. Verbong, CM Th. 1947
20. Rm. P.J.A. Heulmans CM Th. 1948
21. Rm. Van Drieln CM Th. 1949
22. Rm. N.P.J. Boonekamp, CM Th. 1950
23. Rm. G.S. Bakel, CM Th. 1950
24. Rm. Th..P.H. Van Densen, CM Th. 1950
25. Rm. Kumoro Widjodjo, CM Th. 1951
26. Rm. J.J. Van Steen, CM Th. 1952
27. Rm. H.C. Haest, CM Th. 1953 (Rektor RSK)
28. Rm. Th.H Heuvelmans, CM Th. 1953
29. Mgr. J. Klooster, CM. Th. 1953 (Uskup SBY)
30. Rm. F. Peterse, CM Th. 1953
31. Rm. G.J. Boonekamp, CM Th. 1953
32. Rm. W.C. Van der Brand, CM Th. 1954
33. Rm. P.A. Boonekamp, CM. Th. 1955 (Sekr. Keuskupan)
34. Rm. A.A. Hadisoedarso, CM Th. 1955
35. Rm. J.J. Raets, CM Th. 1958
36. Rm. M. Van Driel, CM Th. 1959
37. Rm. L. Karyasumarta, CM Th. 1963
38. Rm. J.A.W. M. Van Mensvoort, CM Th. 1963
39. Mgr. A.J. Dibjokarjono, Pr. Th. 1964 (Uskup SBY)
40. Rm. H.J.G. Veel, CM Th. 1965 (Rektor RSK)
41. Rm. L.V. Cahyokusumo, CM Th. 1965
42. Rm. Louis Pandu CM. Th. 1965
43. Rm. H. Maessen CM. Th. 1966
44. Rm. S. Reksosusilo, CM Th. 1966
45. Rm. L. Suwondo Siswoatmodjo, CM Th. 1968
46. Rm. J.J. Reintjes, CM Th. 1970
47. Rm. Benny J. Agus Maryanto, Pr. Th. 1972
48. Rm. M. Utomo Purnomo, CM Th. 1973
49. Rm. B. Martokusumon CM Th. 1975
50. Rm. H. Nieesen, CM Th. 1977
51. Rm. T. Karyono Sapto Nugroho CM Th. 1978
52. Rm. F.X. Urotosastro Pr Th. 1979
53. Rm. J.H. Purwoputranto Pr Th. 1981
54. Rm. C. Reksosubroto CM Th. 1982 (pastur paroki)
55. Rm. FX. Hardi Aswinarno Pr Th. 1984
56. Rm. FX. Dumo Purnomo Pr Th. 1984
57. Rm. J. Haryono CM Th. 1985 (Bend. Keuskupan)
58. Rm. A. Wetzer SVD Th. 1986
59. Rm. A. Wahyo Bawono Pr. Th. 1987
60. Rm. F. Hardjodirono CM Th. 1989 (pastur paroki)
61. Rm. B. Justisianto Pr Th. 1989 (sek.Kesuskupan)
62. Rm. Y. Eko Budisusilo Pr Th. 1990
63. Rm. Alex B. Sokaleksmana CM Th. 1991 (bendahara keuskupan)
64. Rm. Chr. Katidjanarso CM Th. 1991
65. Rm. I.Y. Sumarno Pr Th. 1992
66. Rm. Anton Budianto Tanalepie CM Th. 1993 (pastur paroki)
67. Rm. A. Dwijoko Pr Th. 1994
68. Rm. Gengsi Sucahyo Pr Th. 1994
69. Mgr. J. Hadiwikarta, Pr Th. 1994
70. Rm. Y.P.H. Jelantik Pr. Th. 2000 (pastur paroki)
71 Rm. P. Ikwan Wibowo Pr Th. 2000
72. Rm. A. Gosal Pr Th. 2000
73. Rm. Dicki Rukmanto pr Th. 2006
74. Rm A. Eko Wiyono Pr Th. 2007
75. Rm. Ch. Trikuncoro Yekti Pr Th. 2007
76. Rm. Y. Eko Budi Susilo Pr Th. 2007 (pastur paroki)

Sumber : http://www.gerejahky.org/

baca selanjutnya...

Sabtu, 18 Februari 2012

Sejarah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang Kediri

Gereja Katolik di Puhsarang (atau Pohsarang) didirikan atas inisiatif pribadi dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek terkenal Henri Maclaine Pont pada tahun 1936. Keindahan arsitektur Gereja Pohsarang melekat pada dua nama ini, arsiteknya Ir Maclaine Pont dan pastornya Romo Jan Wolters CM. Ir. Henricus Maclaine Pont sangat pandai dalam membentuk keindahan bangunan Gereja yang mengukir kebudayaan Jawa; sementara Romo Wolters sebagai inisiator memberi roh pengertian mendalam tentang makna sebuah bangunan Gereja dengan banyak simbolisme untuk katekese iman Katolik. Dalam konteks karya misi Gereja Katolik di Keuskupan Surabaya, Romo Wolters dikenal sebagai “rasul Jawa” (bersama Romo van Megen CM dan Romo Anton Bastiaensen CM). Disebut “rasul Jawa”, karena sebagai misionaris Belanda ia sangat mencintai dan menghormati orang Jawa, bahasa Jawa dan kebudayaan serta nilai-nilai kejawaan. Romo Jan Wolters CM adalah pastor di paroki Kediri pada waktu itu. Insinyur Maclaine Pont juga yang menangani pembangunan museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Sehingga bangunan Gereja Pohsarang mirip dengan bangunan Museum Trowulan. Sayang bahwa gedung museum di Trowulan itu sudah hancur pada tahun 1960 karena kurang dirawat dengan baik sebab kurangnya dana untuk pemeliharaan dan perawatan. Romo Wolters, CM, minta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Pohsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.[1]

Peletakan batu pertama gereja dilakukan pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan pesta Sakramen Mahakudus, oleh Mgr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik Surabaya pada waktu itu. Dalam gereja kuno ini terdapat dua bagian pokok yakni Bangunan Induk dan Bagian Pendapa. Dalam sambutannya pada waktu peletakan batu pertama, Ir. Maclaine Pont membeberkan rancangannya bahwa hiasan-hiasan simbolis yang ada di salib, seperti mahkota duri, I.N.R.I., Alpha dan Omega, monogram Kristus, paku-paku, nyala api yang menjilat di sekeliling tengah dan akhirnya tetesan darah pada kaki merupakan bagian dari iman Katolik yang penting. Di bawah salib yang besar yang menjulang dengan megah di atas Gereja yang kecil itu, akan bergantung merpati perak di dalam gereja. Karena Kristus adalah satu-satunya perantara antara Tuhan dan manusia, Dialah yang telah mempertemukan kita kembali dengan Allah Bapa oleh kematian-Nya di kayu Salib dan selanjutnya menganugerahkan kita cinta kasih dan Roh Kudus, yang mengemudikan Gereja dan menyucikan para anggotaNya. Empat ujung balok yang menonjol akan melambangkan empat pengarang Injil, yang harus menyebarkan ajaran Kristus. Sementara gambar kedua belas rasul mengatakan bahwa di atas pondasi para rasul-lah Gereja didirikan. Maka, bangunan gereja ini akan merupakan “Kitab Suci” bagi umat yang sederhana yang tak dapat membaca. Seperti halnya raja Jawa yang tinggal di istana (kraton) dengan benteng sekelilingnya dan gapura mengelilingi kraton dan rumah, begitulah juga di sini orang Jawa Katolik, yang harus menunggu kalau hendak menghadap Kristus, Raja dari segala raja. Pertama-tama harus melewati gapura, melalui menara “Henricus” yang besar, untuk mencapai “Istana Tertutup”, dimana umat melalui serambi para katekumen, akhirnya sampai di istana Sang Raja. Di tempat yang suci itu, yang sudah terpisahkan jauh dari dunia biasa, dia akan merasakan lebih dekat dengan Tuhan, dia akan berlutut menunduk di depan “porta coeli” – “pintu Surga”. Gereja yang bangunannya sama-sekali terbuka ini kecuali sekitar panti imam, akan memungkinkan mengikuti upacara-upacara suci dari Istana Raja dari segala raja. Dan, Dua ribu orang dapat ditampung di situ.[2]

Sekilas bangunan gereja di Pohsarang mirip dengan perahu yang menempel pada sebuah bangunan mirip gunung. Bangunan yang mirip gunung ini melambangkan atau menggambarkan Gunung Ararat di mana dulu perahu nabi Nuh terdampar setelah terjadi air bah, yang menghukum umat manusia yang berdosa (Kitab Kejadian 8:4), sedangkan bangunan yang mirip perahu tadi menggambarkan atau melambangkan Bahtera atau Perahu Nabi Nuh, yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya yang percaya pada Allah, bersama dengan binatang-binatang lainnya.

Arsitektur

Bangunan Induk


Bangunan Induk yang mirip dengan gunung tadi merupakan bagian sakral atau kudus di mana terdapat altar dan sakramen mahakudus, Bejana Baptis, sakristi dan tempat pengakuan dosa. Bagian ini dulu dikhususkan untuk mereka yang sudah dibaptis, yang telah menjadi anggota umat. Pada masa dulu di dalam gereja memang dipisahkan antara mereka yang masih calon baptis dengan mereka yang sudah dibaptis, namun perbedaan itu sekarang sudah dihapuskan. Setiap orang, bahkan mereka yang bukan Katolik pun, kalau ia mau, dapat masuk ke dalam bagian ini, asalkan dia tidak mengganggu kekhidmatan ibadat. Memang dalam budaya Jawa, gunung atau gunungan adalah lambang tempat yang suci di mana manusia bisa bertemu dengan penciptanya.

Bangunan Induk memiliki atap berbentuk seperti cupola atau kubah. Diatas atap dipasang salib, pada ujung atap dipasang gambar simbolis keempat pengarang injil yakni Santo Matius Penginjil (manusia hersayap), Santo Markus Penginjil (singa yang bersayap), Santo Yohanes Penginjil (burung rajawali) dan Santo Lukas Penginjil (lembu jantan), yang juga menunjukkan keempat arah mata angin. Atap bangunan yang berbentuk gunungan itu dibentuk dari empat lengkungan kayu yang ujung simpangnya merupakan bagian pengunci. Lengkungan itu menyangga suatu jaringan kawat galvanis, yang di atasnya dipasang genteng-genteng, yang akan bereaksi dengan tenang dan memamtul pada setiap tekanan angin.

Altar yang ada dalam gereja ini menarik dan punya bentuk yang khas, dibuat dari batu massif, kemudian dipahat. Pahatan di altar tersebut terdapat gambar seekor rusa yang sedang minum air, sedangkan rusa yang lain sedang menunggu minum air. Rusa yang sedang minum air menggambarkan mereka yang telah dibaptis, sedangkan rusa yang menunggu untuk minum air menggambarkan calon baptis atau para katekumen. Air yang mengalir dari 7 sumber melambangkan 7 sakramen dalam gereja. Sesuai dengan tata cara liturgi pada waktu itu, yaitu sebelum Konsili Vatikan II tahun 1965, maka bila seorang imam mempersembahkan misa di altar, dia membelakangi umat, tidak menghadap ke arah umat seperti yang lain dalam tata cara misa saat sekarang.

Di atas altar terdapat relief dari batubata merah yang disusun tanpa semen, tapi menggunakan campuran air, kapur dan gula. Kemudian batu-batu bata digosok dan direkatkan pada batu bata lainnya dengan campuran tadi sehingga saling menggigit dengan baik walaupun tidak menggunakan adukan semen seperti zaman sekarang ini.

Di atas altar terdapat tabernakel dari kuningan, tempat untuk menyimpan Hosti. Di sebelah kiri-kanan tabernakel suci terlihat gambar keempat penginjil. Persis di atas altar terlihat gambar kain dengan gambar Yesus. Di atasnya ada gambar Hati Kudus Yesus yang tertusuk tombak, kemudian tulisan INRI. Disampingnya terlihat gambar para malaekat. Sebenarnya di bagian atas terdapat mahkota, yang sekarang sudah rusak/hilang. Relief yang dibuat dari batu bata merah atau batu bata, mirip dengan relief yang biasa ada pada candi-candi zaman Majapahit.

Pada sisi sebelah Barat (atau kiri altar) terdapat relief perjamuan pesta perkawinan di Kana yang dihadiri oleh Yesus, para rasul dan Bunda Maria (Yoh 2: 1-11). Di bagian Barat di atas pintu sakristi terdapat gambar Abraham yang akan mengorbankan Iskak anaknya (Kej. 22: 1-19). Kemudian terdapat patung Maria dari batu yang menggambarkan Bunda Maria sedang menggendong kanak-kanak Yesus. Patung itu terletak dalam lekukan yang menggambarkan litani Maria. Kemudian di sana juga terlihat bejana baptis dari kerang yang besar, di atasnya kelihatan relief yang menggambarkan ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mat 3:13-17). Kemudian di bagian paling atas terdapat relief yang menggambarkan perahu Nuh dan seekor merpati terbang membawa daun yang hijau, setelah air bah surut (Kej. 8:11).

Di sebelah Timur altar (atau kanan altar) terdapat relief Yesus yang sedang menggandakan roti untuk 5000 orang (Mrk 6,30-44). Kemudian di atas pintu masuk sakristi terdapat relief Imam Agung Melkisedek sedang mempersembahkan roti dan anggur kepada Allah (1ih. Kej. 16:1820). Di sebelah Timur ada patung Yesus terbuat dari batu. Lengkungan di mana terdapat patung Yesus itu dihiasi dengan relief yang menggambarkan sebutan-sebutan untuk Yesus dalam litani Hati Kudus Yesus.

Maksud adanya relief di altar dan sekeliling altar adalah untuk memberikan hiasan pada altar dan sebagai sarana untuk katekese atau untuk mengajar umat yang sederhana. Relief semacam ini biasa terdapat dalam katedral katedral dan gereja-gereja kuno di Eropa, dimana terdapat relief, patung-patung dan mosaik dari kaca yang indah sekali. Karena orang pada waktu itu duduk bersila di lantai ketika mengikuti misa, maka relief dibuat rendah supaya mudah dilihat. Sekarang pun kalau misa orang juga masih duduk bersila atau “lesehan” (bahasa Jawa).

Bangunan Gereja secara unik dikelilingi oleh benteng yang terbuat dari batu-batu dan tampak kokoh. Yang lebih menarik lagi adalah memperhatikan bentuk pintu gerbang atau pintu masuk. Terdapat tiga pintu: pintu utama dengan model bangunan megah terletak di samping; pintu yang terletak di depan pendopo yang langsung berhadapan dengan makam (umat Katolik); dan pintu samping yang terlihat sempit dan kecil. Konsep benteng batu yang kokoh, pintu utama yang megah, pintu sempit, pintu yang berhadapan dengan makam berasal dari kreativitas Romo pendirinya, Romo Jan Wolters CM.

Romo Wolters CM berpendapat bahwa Gereja adalah “Rumah Tuhan” (Keraton Dalem), di situ bertahta Yesus Kristus, sang Raja segala raja. Tetapi, Yesus Kristus adalah Raja yang menyambut umatNya secara personal, pribadi. Ia adalah Raja yang tidak sulit dijumpai. Ia adalah Raja yang menyambut siapa pun yang datang kepada-Nya. Ia adalah Raja yang disembah dalam relasi kemesraan dan keakraban. Pintu yang megah melambangkan gerbang Rumah Tuhan yang harus megah, menyongsong umat Allah yang datang untuk “sowan” dan menyembah Rajanya. Pintu yang sempit mengatakan seperti dalam Injil bahwa untuk masuk ke Kerajaan Allah, orang harus melewati pintu yang sempit. Untuk dekat dan berelasi dengan Tuhan, lorong jalannya kerap sulit, sempit. Pintu yang berhadapan dengan makam mengukir sebuah kebenaran iman, bahwa terhadap umat Tuhan yang telah wafat berpulang ke keabadian, mereka semua disambut oleh Kristus Sang Raja dalam Rumah Abadi di Surga.[3] Jadi, Gereja Pohsarang itu indah bukan hanya karena bentuknya, melainkan juga karena ada katekese iman yang melekat erat pada bangunan tersebut. Dan, katekesenya amat kaya serta mendalam.

Bagian Pendapa

Kalau dalam bangunan Induk terdapat banyak hiasan maka bagian Pendapa ini yang merupakan ruangan terbuka tidak ada hiasannya sama sekali. Bangunan pendapa ini untuk umat yang belum dibaptis atau calon baptis. Dalam Kerajaan Jawa dulu selalu terdapat bagian terbuka atau Pendapa, yang merupakan tempat persiapan sebelum seseorang masuk kedalam istana menghadap raja, demikian pula bagian pendapa ini merupakan tempat persiapan sebelum umat menghadap Allah yang menjadi Raja mereka.[4]

Gereja Pohsarang dibangun dalam konteks jauh sebelum Konsili Vatikan II. Liturgi Ekaristi sebelum Konsili menunjukkan bahwa umat yang belum dibaptis menempati tempat yang “lebih jauh” dari Altar Tuhan. Itulah sebabnya, “pendapa” dimaksudkan untuk tempat “menunggu” bagi umat untuk masuk ke dalam, ke wilayah yang lebih dekat dengan altar Tuhan. Maksudnya, ke “pembaptisan”, sakramen yang membuat mereka dipersatukan sebagai putera-puteri Allah. Sesudah Konsili Vatikan II, pembedaan tempat dalam Ekaristi ini tidak ada lagi. Tata cara liturgi Ekaristi juga telah diperbaharui sedemikian rupa. Namun demikian, struktur bangunan gereja Pohsarang ini mengukir sejarah liturgi yang indah.[5]

Gapura yang Mirip Candi

Kalau bagian dalam gereja terbuat dari batu bata/ merah maka bangunan luar semuanya terbuat dari batu bulat yang memang banyak terdapat di daerah Puh Sarang. Pintu gerbang masuk Pohsarang dibuat dari batu seperti yang biasa terdapat dalam sebuah candi, di mana terdapat banyak tangga. Kemudian terdapat juga tembok keliling dari batu yang merupakan ciri khas Kerajaan Majapahit dan juga kraton di Jawa dan Bali. Di sekeliling tembok kelihatan 14 stasi Jalan Salib yang terbuat dari batu mata merah/terrakota. Di sini bisa terlihat usaha dari Ir. Maclaine Pont memasukkan unsur atau gaya dari kebudayaan asli atau daerah.

Di sebelah barat terdapat replika atau miniatur Gua Maria Lourdes, dengan sebuah patung terbuat dari batu kali. Sedangkan di sebelah timur terdapat gua di mana terdapat patung Pieta atau Patung Maria yang sedang memangku Yesus yang baru diturunkan dari salib. Patung Pieta ini mengingatkan pengunjung akan patung Pieta dari Michaelangelo yang terdapat di Basilika Santo Petrus di Vatikan. Patung Pieta tadi terletak di atas sebuah Tabernakel, yang sekarang sudah tidak dipakai lagi. Tabernakel ini unik bentuknya karena pintunya dibuat seperti pintu makam orang Yahudi. Kemungkinan tabernakel ini hendak menggambarkan makam kosong di makam dulu Yesus dimakamkan dan kemudian bangkit dari sana setelah dimakamkan selama tiga hari (Mrk. 16:1-8).

Gapura St. Yusuf dan Menara St. Henrikus

Untuk masuk ke Gereja Puh Sarang, pengunjung harus melewati anak tangga terbuat dari batu di antara lengkungan gapura, yang serasa seperti masuk bangunan candi. Pada bagian tengah terdapat gapura mirip gapura Candi Bentar. Makna gapura memaksudkan pintu gerbang istana. Dalam angan-angan Romo Jan Wolters gereja Pohsarang adalah bagaikan rumah (istana) Tuhan, Sang Raja dari segala raja, dimana umat datang bersimpuh, menyembah raja dan mendengarkan Sabda-Nya. Namun yang khas di sini ialah bahwa di atasnya terpasang lonceng, sehingga gapura itu berfungsi sekaligus sebagai menara lonceng. Di puncak gapura terdapat ayam jago, seperti yang biasa terdapat dalam menara gereja. Di sana ada relief yang menggambarkan ketika Adam jatuh ke dalam dosa. Sayang relief tadi tidak kelihatan karena ada di atas. Maka orang menyebut gapura yang berfungi sebagai menara dengan sebutan Menara Santo Henrikus. Disebut menara Henrikus, karena untuk mengenang Santo Henrikus, pelindung dari arsiteknya, Ir. Henricus Maclaine Pont.

Ruang Gamelan dan Patung Kristus Raja

Di halaman luar, sebelum masuk gereja, terletak di sebelah kanan terdapat rumah untuk menyimpan gamelan. Gamelan itu dulu kala digunakan untuk mengiringi misa dan sendratari yang sering diadakan pada awal berdirinya gereja.

Di halaman gereja terdapat Patung Kristus Raja. Di atasnya terdapat tiang batu di mana terdapat Perahu Nabi Nuh. Dalam Tradisi para Bapa Gereja, bahtera (perahu) Nabi Nuh adalah lambang Gereja. Mengapa ada patung Kristus Raja? Kristus adalah Kepala Gereja. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus. Patung Kristus Raja terbuat dari batu melukiskan keindahan dan kekokohan. Kristus lantas juga seolah-olah tampil kokoh sebagai yang “menakhodai” bahtera-Nya. Kristuslah yang memimpin dan membimbing Gereja-Nya, persekutuan umat beriman yang dipersatukan dalam iman kepada-Nya.

Di halaman yang sekarang dipakai untuk taman, dulu kala terdapat sebuah bangunan indah yang disebut “Amphitheater”, sebuah lapangan menyerupai tempat untuk pementasan drama seperti di zaman Yunani kuno, dimana pentasnya ada di tempat yang lebih rendah dari penontonnya. Pada tanggal 7 Agustus, tahun 1937-an (?), terdapat pementasan kisah Abraham yang dijalankan di “Aphitheater” tersebut sebagai sebuah drama katekese kisah Kitab Suci sekaligus untuk menyambut tamu-tamu agung, yaitu Yang Mulia Mgr. Pacino, Delegat Apostolik untuk Australia, sekretarisnya, Mgr. King; Vikaris Apsotolik untuk Indonesia Timor Mgr. Pelsers, dan Prefek Apostolik Surabaya Mgr. Verhoeks. Peristiwa ini menandai perhelatan penting dari sebuah desa Pohsarang dengan sebuah bangunan “Gereja Keraton Jawa”-nya. Sejak itu, Pohsarang menjadi emblem inkulturasi yang mencengangkan, tulis Romo van Megen CM.[6]

Kini, bangunan “Amphitheater” sudah tidak ada lagi. Bangunan ini telah diganti dengan sebuah tempat yang dulu adalah sekolah dasar. Sekolah dasarnya sendiri telah dipindahkan ke tempat lain di dekat gereja. Di tempat itu sekarang didirikan patung Bunda Maria dari Lourdes yang memakai mahkota.

Proses Pembangunan

Penggunaan Bahan dan Tenaga Lokal


Seperti halnya ketika membangun Museum di Trowulan dan tempat lainnya, Ir. H. Maclaine Pont selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal atau buruh setempat, serta bangunan disesuaikan dengan situasi setempat.

Dalam hal membangun gereja Pohsarang ia banyak memakai tukang-tukang yang telah berpengalaman dan membantunya waktu membuat museum di Trowulan. Mereka adalah ahli bangunan, ahli pahat, ukiran bahkan kemudian dia mendidik rakyat setempat untuk dilibatkan menjadi tenaga pembuat patung yang ahli. Banyak digunakannya batu-batu yang diambil dari Kali Kedak yang ada di dekat Puh Sarang.

Walaupun di sana banyak pohon bambu tapi dia menggunakan kawat baja, sebab daya tahannya lebih kuat. Selain dari itu waktu itu ada larangan dari Pemerintah Hindia Belanda untuk menggunakan bambu dalam membangun rumah guna mencegah penyakit pes, sebab tikus-tikus yang membawa kuman pes senang bersarang dalam bangunan bambu. Hasil kerajinan dari tanah (terracota) buatan tukang dan seniman lokal cukup terkenal hingga perang dunia kedua tahun 1945. Tapi entah mengapa kemudian menghilang dan tidak kelihatan bekas-bekasnya.

Usaha Inkulturasi dan Karya Monumental

Kompleks Gereja Puh Sarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan iman Kristiani dan tempat ibadat Katolik dalam budaya setempat. Banyak orang berpendapat bahwa bangunan yang dibuat di Puh Sarang indah dan unik serta merupakan karya monumental yang patut untuk dipelihara dan dijaga. Karena Gereja Puh Sarang menampilkan gaya Majapahit yang dikombinasikan dengan gaya dari daerah lain dan iman Kristiani.

Yulianto Sumalyo dalam buku yang berjudul “Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia” (Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1993) menulis demikian mengenai gereja Puh Sarang: “Seperti pada bangunan Trowulan, Tegal dan lain-lain untuk membangun gereja Pohsarang selalu menggunakan bahan-bahan lokal. Maclaine Pont menggunakan juga buruh setempat selain beberapa tukang yang sudah berpengalaman pada saat membangun museum. Gereja yang sarat dengan simbolisme ini merupakan suatu karya arsitektur yang sangat berhasil dilihat dari berbagai segi: mulai dari lokasi, tata massa, bahan bangunan, struktur dan tentu saja fungsi dan keindahannya. Semua aspek termasuk budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan amat selaras”

Gereja di Antara Dua Dunia

Dalam inkulturasi dikenal istilah “locus theologicus” atau konteks teologi. Beriman Kristiani mendasarkan diri pada kebenaran-kebenaran Wahyu dan komunikasi dengan bahasa dan nilai-nilai luhur kebudayaan yang menjadi “locus” hidup sehari-hari. Gereja Pohsarang bukan sekedar sebuah bangunan indah, tetapi juga tempat dimana umat Katolik bersimpuh dengan penuh iman, beribadat dengan ketakwaan dan menyembah Allah secara khusuk. Gereja adalah wilayah “perjumpaan” Tuhan dengan umat-Nya. Menarik untuk memperhatikan pilihan Romo Jan Wolters mengenai tempat pembangunan Gereja Kraton Jawa yang megah ini di sebuah desa Pohsarang yang pada waktu itu terbilang wilayah terpencil. Mengapa Pohsarang? Armada Riyanto CM[7] dalam Membangun Gereja dari Konteks (2004) mengatakan bahwa perjumpaan dengan Tuhan akan memiliki makna yang mendalam, indah, dan inkulturatif bila dijalankan di wilayah pergumulan rohani peradaban hidup manusia-manusia setempat.[8] Pohsarang sebagai sebuah desa memang memiliki keistimewaan tersembunyi, terletak “diantara” kota Kediri dan gunung Wilis. Dahulu Kediri adalah emblem peradaban dunia, sebab pernah mengukir peradaban tinggi kejayaan manusia dalam kerajaan Kediri yang sangat termasyhur itu. Kediri seolah mengukir peradaban keluhuran kebudayaan tinggi manusia. Sementara, “gunung” dalam kitab-kitab kuno dipadang sebagai tempat suci “para dewa” (konon Raja Erlangga wafat dengan bersemedi di gunung Wilis ini). Gunung lantas seolah mengukir peradaban keabadian, wilayah kemuliaan dan tempat tinggal “para dewa.” Sementara Pohsarang berada “diantaranya” (bila mengutip istilah postmodern, “in between”). Pohsarang sebagai wilayah seolah memiliki karakter rohani “diantara” dunia manusia (“di bawah”) dan dunia “di atas”. Maka, Pohsarang sebagai wilayah terpencil memang memiliki “makna rohani” yang dipandang sebagai tempat perjumpaan antara Tuhan dan manusia; dan hal itu ditangkap providentially oleh Romo Jan Wolters CM dan diwujudkannya dalam sebuah Gereja megah nan indah, sebuah Gereja Keraton Jawa, sebuah Gereja dimana manusia-manusia bersimpuh, bermeditasi, memuji, berjumpa dengan Tuhan, Rajanya.[9] Pohsarang seolah-olah menjadi sebuah tempat dimana manusia “meninggalkan” wilayah kesehariannya untuk menyatukan diri dengan Tuhan dalam sebuah perjumpaan meditatif. Secara simbolik, desa Pohsarang lantas seakan merupakan wilayah yang “menyatukan” manusia dan Tuhan, Sang Rajanya.

Renovasi Gereja

Antara kompleks Puh Sarang sekarang ini dengan keadaan pada waktu didirikannya pada tahun 1936 terlihat sudah terjadi banyak perubahan dan penambahan bangunan serta luasnya areal yang dipakai untuk kepentingan umat. Bangunan amphiteater yang dulu untuk main sandiwara sudah tidak ada lagi, dan sebagai gantinya di tempat itu sekarang muncul Taman Hidangan Kana. Namun bangunan Induk yaitu Gereja tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya, meskipun gentengnya dan kawat baja yang ada terpaksa diganti sebab sudah lapuk dimakan usia. Perbaikan dan renovasi itu perlu diadakan karena kalau tidak dilakukan gereja Puh Sarang akan rusak dan hancur seperti museum di Trowulan.[10]

Renovasi Pertama Tahun 1955

Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1955 oleh Romo Paul Janssen, CM, yang waktu itu menjadi imam di paroki St. Vincentius a Paulo, Kediri. Ia memperbaiki atap tanpa merubah bentuk bangunan gereja.

Renovasi Kedua Tahun 1974

Pada tahun 1974 kerusakan gereja Pohsarang sudah mencapai taraf yang membahayakan. Kondisinya sudah begitu parah sehingga setiap saat bisa runtuh menimpa u mat yang sedang beribadah, maka renovasi tak dapat ditunda lagi. Berhubung waktu itu keuangan paroki sangat lemah begitu pula keadaan keuangan Keuskupan Surabaya juga tidak mencukupi maka Romo Kumoro, Pr yang waktu itu menjadi Pastor Paroki punya gagasan untuk mengganti dinding gereja yang terbuat dari kayu dengan tembok biasa dari batu bata. Demikian pula bentuk atapnya yang unik itu akan diganti dengan konstruksi blandar, usuk, reng dan berbentuk seperti layaknya kapel atau sebuah kelas. Dengan demikian diharapkan jangka waktu untuk renovasi berikutnya menjadi lebih lama. Untunglah hal ini tidak terjadi, andaikata ini terjadi hilanglah keindahan dan keunikan gereja Puh Sarang.

Ir. Johan Silas yang mendengar hal ini berpendapat bahwa gereja Pohsarang ini bukan hanya monumen kebudayaan Gereja Katolik tapi juga monumen negara Indonesia, sebuah warisan budaya yang layak dipertahankan. Maka atas bantuan Ir. Johan Silas bersama mahasiswanya dimulailah renovasi kedua Gereja Puh Sarang dengan konstruksi besi siku dan usuk jati tipis. Karena minimnya beaya maka Romo FX. Wartadi, CM , Romo Stasi Puh Sarang waktu itu minta agar bagian gereja yang terpaksa diganti supaya bentuk aslinya tetap dipertahankan. Misalnya dinding yang dulu aslinya dari batang-batang kayu jati yang dibelah dua diganti dengan tembok yang dibentuk mirip kayu jati yang dibelah. Lantai dalam gereja, baik di panti imam maupun di tempat umat, yang dulu terbuat dari batu diganti dengan semen biasa supaya bisa dipakai tempat duduk bersila dengan enak. Bagian Pendopo yang dulu terbuka ditutup dengan papan, pendapa yang dulu sempit diperluas.

Renovasi Ketiga Tahun 1986

Renovasi ketiga diadakan oleh Romo Emilio Rossi, CM pada tahun 1986 dengan mengganti genteng yang sudah cukup usang,genting yang baru, yang dicetak khusus untuk keperluan ini. Ia juga membuat gua Maria baru yang terletak di sebelah Utara dari makam umat.

Renovasi Keempat Tahun 1999

Pada tanggal 22 Mei 1993 Romo Emilio Rossi, CM, pastor Kediri, melaporkan bahwa di gereja Puh Sarang terlihat perubahan bentuk pada busur kayu pendukung atap utama yang mulai bergelombang. Besi beton penatik di tepi busur di sebelah kolom segitiga sudah kendor atau tidak berfungsi lagi, gording-gording besi siku bertambah lendutannya, dan ada dugaan bahwa mungkin atap gereja mengalami penurunan akibat atap yang terlalu berat. Dikawatirkan kalau gereja tidak lekas diperbaiki bisa rusak.[11]

Maka Tim pembangunan Keuskupan setelah mengadakan penilitian berpendapat bahwa harus diadakan perbaikan yang cukup besar. Tanggal 18 Mei 1999 diadakan peresmian mulainya renovasi keempat yang ditangani oleh Ir. Harry Widyanto dan Ir. A.S. Rusli dibantu oleh Ir. Djoko. Diusahakan mengembalikan gereja Puh Sarang ke dalam bentuk aslinya. Pendopo yang sebelumnya tertutup akan dibuat terbuka dan diperkecil seperti bentuk semula. Bentuk atap yang selama ini menggunakan kayu dikembalikan ke bentuk semula dengan memakai kawat baja. Lengkungan yang dulu dari kayu diganti dengan besi baja supaya lebih tahan lama.

Gamelan yang selama ini disimpan dalam pendopo dipindahkan ke rumah gamelan yang sudah rusak atau tidak ada lagi. Renovasi keempat selesai dan diresmikan pemakainnya pada awal Yubileum tahun 2000, yaitu pada tanggal 26 Desember 1999 oleh Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta. Maka bentuk gereja yang sekarang dikembalikan ke bentuk aslinya dan semua genting yang ada diganti dengan genting yang baru, yang dicetak khusus untuk keperluan ini.

Referensi

[1] St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 15 Juli 1937, hlm. 108.
[2] Bdk. St. Vincentius A Paulo. Missietijdschrift der Lazaristen, 26 JRG 6e AFL, November 1936, hlm. 177 & 178. Lih. Armada Riyanto CM., 80 Tahun Romo-Romo CM di Indonesia, CM Provinsi Indonesia, Surabaya, 2003, hlm. 83-88.
[3] Ibid.
[4] Lih. Aloysius Budijanto CM, Gereja Puh Sarang sebagai Bangunan Ibadat menurut Budaya Jawa, tesis di STFT Widya Sasana, Malang 1991.
[5] Ibid.
[6] St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 29e Jaargang, 6e AFL., No. 158, 15 Nopember 1939, hlm. 171-173.
[7] Armada CM-STFT Widya Sasana
[8] Armada Riyanto CM, Membangun Gereja dari Konteks, Dioma dan STFT Widya Sasana, Malang, hlm. 37-43.
[9] St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 15 Juli 1937, hlm. 108-110.
[10] Lih. Mgr. J. Hadiwikarta, Puh Sarang: Tempo Doeloe dan di Tahun 2000, Surabaya 1999, hlm.21-28. Simak juga Primanto Nugroho e.a., Tempat Ziaraha Santa Maria Pohsarang: Napak Tilas Gereja Umat, Produksi Pohsarang Creat Studio, Yogyakarta, 1999. Dalam terbitan ini, diberikan artikel-artikel reflektif yang menarik.
[11] Lih. Mgr. J. Hadiwikarta, Gua Maria Lourdes Puh Sarang, Kediri, Keuskupan Surabaya, Sekretariat Keuskupan Surabaya, 2001. Buku ini merupakan tulisan yang diasalkan dari beberapa sumber tentang Puhsarang dan terutama untuk menyajikan pembangunan Gua Maria yang terletak beberapa puluh meter dari Gerejanya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Puhsarang
http://cm-indonesia.org/artikel-refleksi/gereja-puhsarang

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP