Tampilkan postingan dengan label K. Bogor - Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K. Bogor - Utara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Mei 2012

Paroki Santo Matias Cinere

Pendahuluan
Tersedianya fasilitas tempat ibadah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dalam bidang mental/spiritual. Sejalan dengan itulah, Dephankam dan Pimpinan TNI Angkatan Laut menyediakan sebidang tanah untuk pendirian sebuah Gereja Katolik, di lingkungan kompleks TNI AL-Pangkalan Jati, Jakarta Selatan. Atas dasar kehendak baik tersebut, umat Katolik dari Pangkalan Jati, Cinere, Limo, Maruyung dan sekitarnya berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan berdirinya sebuah gereja, yaitu Gereja Katolik Santo Matias.

Mengingat bangunan gereja/kapel yang lama sudah tidak memadai lagi, baik dari segi kapasitas, kualitas serta penataan phisik bangunan, maka umat bekerja keras untuk membangun sebuah gereja yang benar-benar memenuhi kebutuhan umat. Seiring dengan di resmikannya menjadi sebuah paroki, maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja (PPG) yang mampu merampungkan pembangunan sebuah gereja megah dalam waktu tidak lebih dari satu tahun. Pada tanggal 17 Desember 1995, diresmikanlah Gereja Katolik Santo Matias. Ini semua dapat terwujud berkat dukungan dari pihak pemerintah, dalam hal ini Dephankam dan TNI Angkatan Laut, Panitia Pembangunan Gereja, Pastor Paroki, Dewan Paroki, seluruh umat dan berbagai pihak yang telah memberikan bantuan.

Perjalanan Pengembangan Paroki Santo Matias
Pada awal tahun 1970, ada sekitar 20 keluarga yang tinggal di kompleks TNI-AL Pangkalan Jati, dan beberapa lainnya di sekitar kompleks. Pada waktu itu umat Katolik setempat mendapat bimbingan dari Paroki St. Yohanes Penginjil, Blok B - Kebayoran Baru. Kemudian pada tahun 1976, berdirilah Paroki St. Stephanus - Cilandak. Maka daerah Pangkalan Jati, Cinere dan sekitarnya menjadi salah satu lingkungan dari Paroki St. Stefanus yang dimulai dengan Lingkungan St. Mikael tahun 1978, jumlah umat Katolik di sekitar Pangkalan Jati, Karang Tengah, Cinere, Gandul, Maruyung, Limo dan sebagainya telah mencapai 135 keluarga.

Berdasarkan surat keputusan dari Kanjantamal, tanggal 23 Maret 1980, didirikanlah tempat ibadah umat Katolik yang berupa gereja/kapel yang letaknya di Jl. Baros No. 3 Komp. AL, Pangkalan Jati, berdampingan dengan Mesjid Imam Bonjol, Gereja Kristen Bahtera Allah, serta Pura Amarta Jati untuk umat Hindu. Peresmian gereja/kapel ini dilakukan oleh Laksamana Waluyo Sugito dan di berkati oleh Uskup Agung Jakarta - Mgr. Leo Sukoto SJ.

Seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan umat yang pesat, umat di wilayah ini berkeinginan kuat untuk mendirikan sebuah paroki sendiri. Keinginan ini direstui oleh Uskup Jakarta dan disetujui oleh Uskup Bogor - Mgr. Ignatius Harsono, Pr. dengan mendirikan sebuah yayasan - yaitu YAYASAN KARYA PUTRA. Tujuannya adalah untuk merintis gagasan sebuah paroki baru. Pada tanggal 13 April 1992, dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja Cinere. Setelah mempersiapkan diri secara baik, terhitung tanggal 03 Desember 1993 berdirilah Proki Cinere - Keuskupan Bogor, dengan Romo Agustinus Suyatno Pr, sebagai Romo Kepala Paroki, yang secara resmi tiba di Cinere pada tanggal 01 Januari 1994. Pastoran sementara terletak di Jl.Batam No. 307 Blok G. Kompl. Megapolitan Cinere Estate.

Akta Pendirian Paroki ini ditandatangani oleh Mgr. Leo Sukoto SJ, yang pada waktu itu menjabat sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, tertanggal 27 Januari 1994 No. 007/SK-B/1/94.

Secara geografis, batas timur paroki adalah DKI Jakarta dengan Jawa Barat (Kali Krukut). Batas barat adalah Kali Pesanggrahan. Batas utara adalah Jl. Karang Tengah, Jalan Haji Ipin dan Jalan Margasatwa. Sedangkan batas Selatan adalah perbatasan Desa Limo dan Desa Maruyung.

Panitia Pembangunan Gereja mulai bekerja keras dengan aksi-aksi pengumpulan dana, melalui berbagai cara seperti penyebaran amplop sumbangan, hasil penjualan jumputan beras, kertas/koran bekas, macam-macam barang bekas pakai, turnamen olahraga dan macam-macam usaha lainnya. Itu semua merupakan bukti kebulatan tekad umat untuk segera mewujudkan sebuah bangunan gereja dengan peletakan batu pertama oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM, Uskup Bogor, pada tanggal 15 Januari 1995.

Atas dukungan berbagai pihak, terutama kesungguhan umat dalam mewujudkan cita-citanya, gedung gereja St. Matias akhirnya berdiri dengan megah, indah, cantik, artistik dan yang jelas cepat selesai. Dengan segala kemurahan dan karunia Tuhan, akhirnya gedung Gereja St. Matias, diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Desember 1995 Oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Tanto Koeswanto dan di berkati oleh Uskup Bogor Mgr. Michael Cosmas Angkur Djadu OFM.

Perkembangan Umat dan Organisasi Paroki
Hingga pertengahan tahun 1998, jumlah umat yang telah terdaftar mencapai 3.500 jiwa, tersebar di 3 wilayah dan 11 lingkungan. Sebagai kelanjutannya, telah di prog-ramkan pemekaran lingkungan, mengingat perkembangan jumlah umat yang pesat ini.

Romo Agustinus Suyatno Pr menjabat sebagai Pastor Kepala Paroki yang pertama (1994-1997) didampingi oleh Fr. FX Suyono Pr. dan Romo A.H.Y. Sudarto Pr. Selanjutnya Romo Yoseph Hardjono Pr. mendapat tugas sebagai Romo Kepala Paroki yang kedua sejak awal April 1997, didampingi oleh Romo Marcus Santoso Pr.

Dalam menjalankan kegiatan, baik parokial maupun liturgis, para gembala didampingi oleh Dewan Paroki Pleno lengkap dengan berbagai seksi serta organisasi-organisasi lain seperti Wanita Katolik RI, Kelompok Doa Karismatik, Legio Mariae, Mudika, Marriage Encounter, Putra Altar, Warakawuri, Simeon Hanna, Kelompok Doa Senakel.
Dalam mengantisipasi perkembangan yang akan datang, Paroki telah memiliki sebidang tanah seluas +/- 2500 m2 sebagai hibah dari Yayasan Karya Putra, yang terletak di Desa Maruyung.

Nama Pelindung : Santo Matias
Buku Paroki : Sejak tahun 1994
Alamat : Jalan Baros Nomor 3, Pangkalan Jati
Jakarta Selatan 12450, Telepon (021) 7665872, 7694877 Fax. (021) 7667427
Romo Paroki: RD. Frans Mulyadi

Jadwal Perayaan Ekaristi:
- Harian : Pukul 05.30
- Jumat Pertama : Pukul 17.30
- Hari Sabtu : Pukul 17.30
- Hari Minggu : Pukul 06.00, 08.00, 17.30

Sumber : Dokumentasi Paroki "Santo Matias"- Cinere
http://www.keuskupanbogor.org/

baca selanjutnya...

Kamis, 10 Mei 2012

Paroki Santo Markus Depok Timur

Langkah awal perkembangan Gereja Katolik Santo Markus Depok II Timur mulai dirintis pada bulan Desember 1979 oleh L. Supratjojo, Fx. Sastro Prajitno, dan PC. Sudirman, yaitu awal penghunian Perumnas Kawasan Depok II Timur. Langkah tersebut dilakukan dengan mencari nama dan alamat umat katolik dari pintu ke pintu dan juga melalui kantor Perum Perumnas Kawasan Depok II Timur, khususnya dari daftar penghunian yang ada di sana.

Dari usaha tersebut, maka pada bulan Februari 1980 telah terhimpun umat Katolik sebanyak 26 Kepala Keluarga. Dengan terhimpunnya 26 Kepala Keluarga tersebut, penghimpunan umat selanjutnya berjalan dengan lancar, kendati informasi itu dilakukan dari mulut ke mulut.

Sebelumnya, yaitu pada tanggal 20 Januari 1980 PC. Sudirman dengan Th. Sadadi menemui Pastor Y. Suparman, Pr. di Cibinong. Dari hasil pembicaraan tersebut, Pastor Y. Suparman, Pr. menyatakan akan segera berkunjung ke Depok Timur sekaligus menyanggupi untuk menjadi Pembina.

Kemudian pada tanggal 7 Februari 1980 di rumah keluarga Th. Sadadi, yaitu di Jalan Lesung II nomor 228 diadakan perayaan Ekaristi yang dihadiri 35 orang. Perayaan Ekaristi ini adalah yang pertama kali diadakan di kompleks Perumnas Kawasan Depok II Timur. Kemudian, perayaan Ekaristi masih terus dilaksanakan sekalipun dengan tempat-tempat yang berpindah-pindah.

Setelah perayaan Ekaristi tanggal 7 Februari 1980 tersebut dilanjutkan pertemuan sebagai perkenalan. Atas anjuran Pastor Y. Suparman, Pr., yang saat itu kebetulan memimpin ibadat, maka diadakan pemilihan pengurus lingkungan. Dalam pertemuan tersebut disepakatilah pengurus lingkungan dengan susunan: Fx. Sastro Prajitno (Sebagai Penasehat), Y. Lakon (Ketua), L. Supratjojo (Wakil Ketua), PC. Sudirman (Sekretaris), Th. Sadadi (Bendahara).

Dengan terbentuknya pengurus lingkungan tersebut, maka saat itu pulalah Paroki Depok II Timur mulai tumbuh dan berkembang.

Kegiatan-kegiatan umat untuk selanjutnya juga masih amat terbatas. Misa diadakan setiap hari minggu dengan mengambil tempat dan waktu yang masih belum menentu. Dengan kegiatan misa yang berpindah-pindah dan waktu yang tidak pasti itu di sisi lain amat membantu dalam penghimpunan umat. Atas kesediaan keluarga Y. Lakon, maka kegiatan perayaan Ekaristi Kudus ditetapkan di rumah keluarga Y. Lakon dengan mengambil waktu pukul 17.00 WIB.

Usaha Membangun Kapel
Walupun lingkungan sudah terbentuk, namun kegiatan-kegiatan umat saat itu masih sangat sedikit jumlahnya, bahkan itu pun mulai dirintis. Atas dorongan Pastor Pembina, para pengurus lingkungan sepakat untuk merintis pembangunan gedung ibadat sementara (Kapel). Pada tanggal 31 Maret 1980 dimulailah pengurusan izin dan persyaratan pembangunan gedung kepada Perum Perumnas dan Pemerintah Daerah. Setelah hamper tiga bulan, maka pada tanggal 24 November 1980 Surat Ijin Prinsip dari Pimpinan Perumnas telah berhasil terbit. Pada surat tersebut juga ditunjukkan lokasinya, yaitu di Jalan Kerinci Ujung atau sisi jalan Dempo Raya.

Pada tanggal 9 Desember 1980 pembangunan fisik dimulai. Dana yang berhasil dikumpulkan dari umat berwujud bahan bangunan dan uang. Pembangunan gedung yang berukuran lebih kurang 8 x 15 meter itu pada perayaan Natal 1980 sudah dapat digunakan untuk perayaan Ekaristi Malam Natal. Walaupun kondisinya belum memadai karena lantainya masih berupa tanah dan dinding belum diplester dengan semen, namun hal itu tidak mengurangi khidmatnya melaksanakan perayaan Ekaristi Natal.

Berkat kerja sama umat dan seiring dengan makin bertambahnya umat baru, khususnya para penghuni Perumnas, maka pembangunan gedung Gereja yang menelan biaya hampir Rp 4.000.000,00, maka pada bulan Juni 1982 gedung Gereja tersebut selesai. Dengan selesainya pembangunan gedung Gereja yang masih bersifat sementara ini, maka setiap perayaan Ekaristi dipindahkan dari keluarga Y. Lakon ke gedung baru tersebut.

Untuk memperlancar komunikasi dan kerjasama, maka lingkungan Depok II Timur dibagi dalam kelompok yang mengikuti nama Blok pada Perumnas tersebut. Mulai saat itu pula kegiatan-kegiatan pembinaan dan pelayanan mulai dirintis. Kegiatan-kegiatan itu antara lain Sekolah Minggu, pengajaran agama untuk katekumen dewasa, persiapan perkawinan, dan doa bergilir.

Dari kegiatan-kegiatan yang bersifat pewartaan dan pembinaan tersebut, maka selama tahun 1980 telah membaptis umat baru, yang terdiri atas anak-anak sebanyak 18 orang anak, 6 orang dewasa, 11 orang peserta Krisma, dan 5 pasang pemberkatan pernikahan. Seiring dengan itu pula, maka terbentuklah beberapa perkumpulan umat, yaitu Rukun Ibu-ibu Katolik (RIKA) yang dibentuk pada tanggal 2 Maret 1980, Perkumpulan Muda-mudi Katolik (Mudika) yang terbentuk pada tanggal 28 September 1980.

Atas anjuran dan restu Bapa Uskup Bogor serta didukung oleh Pastor Pembina, maka pada tanggal 21 November 1980 berdirilah yayasan Bintang Timur yang mengelola sebuah Taman Kanak-kanak dengan nama "Santo Yoseph". Tempat kegiatan belajar-mengajar TKK tersebut dilaksanakan di Kapel pada hari-hari kerja biasa atau selama Kapel tidak digunakan untuk kegiatan ibadat.

Memperoleh Status Sebagai Stasi
Pada tanggal 15 Februari 1981 dalam suatu rapat lingkungan yang dihadiri oleh pengurus lingkungan dan kelompok serta dihadiri oleh Pastor Pembina Y. Suparman, Pr., disetujui bahwa Lingkungan Depok Timur harus ditingkatkan statusnya menjadi stasi. Hal tersebut dipertimbangkannya bahwa jumlah umat yang semakin bertambah tentunya yang diiringi pula oleh semakin bertambahnya para penghuni Perumnas Depok II Timur tersebut yang saat itu sudah mencapai 75 Kepala Keluarga. Atas saran dan anjuran Pastor Pembina, maka Stasi Depok II Timur menggunakan nama pelindung "Santo Markus". Dengan demikian, karena Lingkungan telah berubah menjadi Stasi, maka kelompok yang menggunakan nama Blok tadi dinaikkan statusnya menjadi Lingkungan. Saat itu pula Stasi Santo Markus mempunyai 6 Lingkungan, yaitu Lingkungan Santo Benedictus, Lingkungan Santa Theresia, Lingkungan Santo Blasius, Lingkungan Santa Christina, Lingkungan Santo Yustinus, Lingkungan Santo Ignatius, dan pada tahun 1984 bertambah 1 Lingkungan lagi, yaitu Lingkungan Santo Bertinus yang wilayahnya berada di komplek Perumahan Pelni Kampung Sugutamu.

Setelah berhasil mengembangkan karya pelayanannya di Paroki ini, maka akhir tahun 1981 Pastor Y. Suparman , Pr. dialihtugaskan ke Keuskupan Bogor dan digantikan oleh Pastor A. Brotowiratmo, Pr. Semasa Pastor A. Brotowiratmo, Pr. berkarya, maka keadaan umat sudah lebih mantap, karena tempat pusat kegiatan sudah ada. Kegiatan umat juga semakin meningkat, jumlah umat semakin bertambah yang saat itu tercatat sekitar 192 Kepala Keluarga, dan kegiatan Liturgi pun semakin semarak. Bahkan, dalam masa pembinaan Pastor A. Brotowiratmo, Pr. ini, proyek yang cukup besar adalah pembangunan gedung gereja permanen. Modal proyek ini adalah uang sisa dari pembangunan kapel berupa uang kontan yang saat itu sebesar Rp 512.175,00 dan bahan bangunan senilai Rp 104.000,00.

Pada bulan April 1983 dimulailah pekerjaan fisik dengan mengerahkan umat untuk kerja bakti menggali lubang fondasi. Dalam usaha pembangunan gedung gereja permanen ini tidak bisa dilupakan peran dan jasa FX. Hambali, seorang arsitek yang juga menjadi Ketua Wilayah di Paroki Santo Yohanes Penginjil Blok B Kebayoran Baru Jakarta. Setelah hampir 4 tahun umat berjuang menghimpun dana, maka pada tanggal 18 Desember 1998 salib besar berhasil dipasang. Salib besar tersebut harganya mencapai 1,6 juta itu adalah karya pemahat asli dari Jepara yang bernama Sumiat dengan manajernya Bachrin. Mereka adalah seorang muslim yang sangat taat, namun dalam pengerjaan Salib tersebut mereka tidak segan-segan untuk memandang Salib modelnya serta Kain Kafan dari Turin sebagai referensinya. Pada tanggal 21 April 1989 gedung yang menelan biaya lebih dari Rp 92.000.000 itu selesai dan pada tanggal 11 Februari 1990 Bapa Uskup (saat itu Mgr. Ign Harsono, Pr.) memberkati gedung Gereja dan diresmikan oleh Walikota Kotif Depok, yaitu Drs. Abdul Wachyan.

Kelompok-kelompok Kegiatan
Semasa pelayanan Pastor A. Brotowiratmo, Pr itu pula mulailah dikembangkan beberapa kegiatan-kegiatan Gereja.

Kerasulan Doa Maria Fatima (KMF) untuk Depok II Timur disahkan pada tanggal 6 Maret 1983. Kelompok ini sangat mendukung dalam pembinaan iman umat melalui devosi kepada Maria. Setiap Lingkungan kegiatan doa tersebut dilaksanakan secara bergiliran dan berjalan dengan rutin yang diikuti dengan latihan Koor. Begitu pula untuk perayaan Ekaristi digilir per lingkungan. Mengingat jumlah umat yang kian bertambah, tidak mustahil persoalan-persoalan kehidupan umat yang dihadapi pun semakin bertambah pula. Oleh sebab itu, Pastor Pembina mengadakan kunjungan keluarga yang terjadwal secara teratur untuk melayani umat yang bermasalah ataupun sekedar kunjungan silahturami. Selain itu, pengajaran agama kepada anak-anak yang menangani anak-anak sekolah negeri juga dilakukan oleh pengurus Stasi yang ditampung di Sekolah Minggu. Yang lebih membanggakan adalah berhasilnya Stasi Santo Markus mengadakan kerjasama dengan SMP Negri 3 Depok untuk ikut memberi pelajaran agama Katolik di sekolah tersebut bagi anak-anak yang beragama Katolik.

Di bidang sosial, ibu-ibu RIKA selalu mengadakan kunjungan ke Panti-panti Asuhan, di antaranya pada tahun 1983 yang mengadakan kunjungan di Panti Asuhan Cilingcing, Jakarta Utara. Pada tahun 1984 melaksanakan kunjungan ke Panti Asuhan Boro Kulon Progo Yogyakarta, sekaligus ziarah ke Gua Maria Sendang Sono.

Bulan Agustus 1990 Pastor A. Brotowiratmo, Pr. dialihtugaskan ke Keuskupan Bogor dan digantikan oleh Pastor Paroki Cibinong, yaitu Pastor Frans Lorry, Pr. Semasa jabatannya dikembangkan pula struktur wilayah pelayanan lingkungan. Sekitar tahun 1993 seiring perkembangan Real Estate di sekitar Komplek Perumnas, maka wilayah pelayanan Lingkungan Benedictus yang umatnya melebihi 100 Kepala Keluarga, dikembangkan menjadi 2 Lingkungan, yaitu Lingkungan Santo Benedictus dan Lingkungan Santo Fransiskus Xaverius. Semasa Pastor Frans Lorry, Pr. proyek yang sangat besar adalah pembangunan gedung pastoran. Pembangunan ini dimulai pada tanggal 3 Desember 1990 dan selesai pada tanggal 20 Agustus 1993 dengan menghabiskan biaya sebesar kurang lebih Rp 66,6 juta.


Depok Timur Menjadi Paroki St. Markus
Dengan selesainya gedung Pastoran ini, Stasi Santo Markus rasanya sudah layak untuk menjadi sebuah Paroki. Permohonan serta harapan umat yang sudah mencapai 500 Kepala Keluarga itu disetujui oleh Bapa Uskup. Pada tanggal 20 November 1994 Stasi Santo Markus diresmikan menjadi Paroki "Santo Markus" oleh Bapa Uskup Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM yang sekaligus pula melantik Dewan Paroki. Upacara tersebut dilaksanakan dalam suatu perayaan Ekaristi.

Pada saat peresmian Paroki "Santo Markus" itu pula, maka Pastor Christoforus Lamen Sani, Pr. langsung menjabat sebagai Pastor Paroki. Beliau berkarya di Paroki "Santo Markus" sekitar 2 tahun yang kemudian pada tahun 1997 dipindahkan ke Paroki "Santo Fransiskus" Sukasari Bogor. Sempat pada masa jabatannya itu, beliau melaksanakan pengadaan kendaraan dinas Paroki.

Pada bulan Januari 1997 dilaksanakanlah serah terima jabatan Pastor Kepala Paroki dari Pastor Christoforus Lamen Sani, Pr. kepada Pastor Tarsisius Suyoto, Pr. yang disaksikan oleh Bapa Uskup Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM dalam perayaan Ekaristi. Pada saat itu pula Paroki Santo Markus Depok II Timur terbagi atas 8 wilayah dan 19 lingkungan. Baru menjabat sekitar 1 tahun sebagai Pastor Kepala Paroki, Pastor Tarsisius Suyoto, Pr. telah berhasil mengadakan renovasi gedung gereja dan perbaikan gedung Kapel yang lama dan dijadikan Gedung Serba Guna. Kemudian berhasil pula melengkapi Gereja dengan peralatan-peralatan Liturgi yang lebih memadai, di antaranya Relief Peristiwa Jalan Salib yang terbuat dari Fiber Glass.

Perjalanan panjang Paroki "Santo Markus" di atas tidak akan berakhir di situ saja. Masih begitu panjang perjalanan yang harus ditempuh. Tentunya dengan suatu keyakinan bahwa Tuhan tidak akan diam untuk umatnya yang terus berkarya untuk memujiNya serta menyampaikan PenyelamatanNya ini. Kita selalu berdoa saja.

Nama Pelindung : Santo Markus
Buku Paroki : 1994
Alamat : Jalan Kerinci Raya No. 11, Depok II Timur 16417
Telepon (021) 7703229 Fax. (021) 77820656
Romo Paroki : Rm. Antonius Dwi Haryanto, Pr

Jadwal Perayaan Ekaristi
Harian : Pukul 05.30WIB
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 18.00 WIB
Minggu : Pukul 07.00 WIB
Pukul 18.00 WIB

Sumber : Ign. Wasiran, Th. Sadadi, A.C. Tukiman
http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depoktimur.htm

baca selanjutnya...

Sabtu, 05 Mei 2012

Paroki Santo Mateus Depok II Tengah

Mengawali Sebuah Jemaat

Pada dasawarsa tujuhpuluhan, pemerintah mulai membangun banyak kompleks pemukiman-pemukiman baru di sekitar Jabodetabek. Perumnas memrakarsai pembangunan pemukiman di Klender, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Perumnas Depok II Timur dan Depok II Tengah dibangun setelah suksesnya pembangunan pemukiman di Depok Jaya. Perumnas Depok II Tengah mulai dihuni pada sekitar bulan April 1979, dengan penghuni mayoritas para Pegawai Negeri dan anggota ABRI.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Juli 1979, misa pertama di Depok Tengah dilakukan di rumah keluarga Bp. R. J. Suhardji (Jln. Rebab), dipimpin oleh Romo R. Koesnen OFM, pastor dari Paroki St. Paulus, Depok Lama. Sedangkan misa kedua dilakukan di rumah keluarga Bp. Sukoco (Jl. Beringin), dipimpin oleh Romo J. Suparman Pr, pastor dari Paroki Keluarga Kudus, Cibinong, yang juga pada saat itu menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Bogor. Secara geografis, wilayah Depok Tengah berada di sebelah kanan Sungai Ciliwung (dari arah Bogor). Oleh karenanya, sesuai dengan peta pelayanan jemaat & paroki-paroki di Keuskupan Bogor, maka reksa pastoralnya berada di bawah tanggungjawab paroki Cibinong, meskipun letaknya lebih dekat dengan Depok Lama.

Pada tanggal 21 September 1979, beberapa orang tokoh umat berinisiatif untuk mengadakan pertemuan bersama wakil-wakil Umat Katolik penghuni Perumnas Depok II Tengah bersama Rm. Koesnen OFM (Depok Lama) dan Rm. Benedictus Sudjarwo Pr (Pastor Paroki Cibinong). Disepakati untuk membagi Wilayah Depok Tengah menjadi 4 Kelompok. Kelompok I, terdiri dari umat yang tinggal di daerah yang bernama jalan kerajaan dan tarian. Kelompok II, dengan nama alat musik. Kelompok III, dengan nama pohon, dan kelompok IV, dengan nama wayang. Sedangkan reksa pastoral dipercayakan kepada Rm. R. Koesnen OFM. Dua bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 29 November 1979, oleh Rm B. Sudjarwo Pr (Pastor Paroki Cibinong), Depok II Tengah ditetapkan statusnya sebagai Lingkungan St. Mateus, bagian dari Paroki Cibinong. Sebagai ketua lingkungan, ditunjuklah Bp. R.Y. Suhardji (1979-1980), kemudian Bp. St. Yos Sutardjo (1980-1981).


Menjadi Sebuah Gereja Mandiri

Perkembangan jumlah umat telah menuntut pendampingan pembinaan iman yang serius. Dalam suasana yang serba darurat, "gereja diaspora" ini berusaha terus untuk menjadi gereja yang mandiri. Pemukiman Depok II Tengah, sebagaimana pemukiman-pemukiman lain yang dibangun oleh Perum Perumnas, dihuni oleh warga yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Warga yang beragama Katolikpun mendapat fasilitas tanah untuk keperluan rumah ibadatnya, seluas 1000 meter persegi, di persilangan Jalan Sadewa dan Jalan Nakula. Pada tanggal 11 Januari 1980 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja St. Mateus oleh Rm. J. Suparman Pr, Vikjen Keuskupan Bogor. Panitia Pembangunan diketuai oleh Bp. S. Parnoto. Dengan demikian, status Lingkungan St. Mateus kini ditingkatkan lagi menjadi Stasi St. Mateus, Depok II Tengah. Kelompok-kelompok umat yang telah ada, kini berubah menjadi Lingkungan I St. Petrus, Lingkungan II St. Paulus, Lingkungan III St. Ignatius, Lingkungan IV St. Yohanes, dan Lingkungan V St. Gregorius Agung (yang sebenarnya merupakan pemecahan dari Kelompok I).

Gedung gereja St. Mateus dibangun dengan swadaya umat Depok Tengah sendiri. Perlahan-lahan, bahkan seperti terseok-seok pada awalnya. Buah perjuangan berat ini menjadi nyata, ketika pada tanggal 29 September 1985, Mgr. Ignatius Harsono Pr, Uskup Bogor pada saat itu, memberkati dan meresmikan gedung gereja St. Mateus. Pelayanan pastoral umat masih dilakukan bergiliran oleh para pastor dari Depok Lama, Cibinong, dan Bogor. Baru setahun kemudian, tepatnya tahun 1986, Romo Markus Gunadi OFM dari Paroki Depok Lama, ditugaskan menangani reksa pastoral umat Depok Tengah.

Perkembangan Stasi St. Mateus tak mungkin hanya mengandalkan sebuah kompleks perumahan. Kawasan perumahan di sekitar Jabodetabek pada dasawarsa delapanpuluhan dan sembilanpuluhan, berkembang bak jamur di musim hujan. Pimpinan Keuskupan Bogor pada waktu itu melihat bahwa bertambahnya kompleks pemukiman baru telah menjadi peluang yang baik untuk mengembangkan Paroki dan Stasi-stasi di sekitar Depok dan Cibinong.

Umat katolik yang tinggal di pemukiman-pemukiman baru di luar Perumnas Depok II Tengah dihimpun dalam sebuah kelompok jemaat baru, yang kemudian pada tanggal 17 Juni 1988, diresmikan dengan nama Lingkungan VI St. Perawan Maria , meliputi kompleks pemukiman yang amat luas Griya Lembah Depok, Mutiara Depok, Pondok Sukmajaya, Depok Asri, Gema Pesona, Cilodong, Cikumpa, Swatama, Kebon Duren, Persahabatan, Pondok Rajek, Alam Indah, dan Puri Mulia. Pada tahun 1994, lingkungan yang amat luas dan besar ini dipecah menjadi dua lingkungan. Lahirlah Lingkungan VII St. Joseph . Sejak saat ini, Lingkungan St. Perawan Maria hanya meliputi perumahan Griya LembahDepok, Pondok Sukmajaya, dan Mutiara Depok.

Persiapan Menjadi Paroki

Pada pertengahan tahun 1989, Romo Diaz Viera SVD, Pastor Paroki Cibinong menyiapkan langkah untuk semakin memandirikan stasi-stasi kawasan utara. Rencana ini didukung oleh umat setempat maupun oleh Uskup Bogor. Romo J. Hardono Pr, ditugaskan untuk menyiapkan Stasi St. Mateus, sebagai Pastor Kapelan yang menetap/berdomisili di tengah-tengah umatnya langsung. Pendataan dan pendaftaran umat dilakukan dengan lebih baik. Pada tanggal 14 Februari 1993, Uskup Bogor memperkenankan Stasi ini memiliki BUKU BAPTIS sendiri. Itulah tanggal pencatatan pertama pembaptisan yang dilakukan di wilayah Stasi St. Mateus dalam buku sendiri. Sebelumnya, semua pembaptisan dicatat di Paroki Keluarga Kudus, Cibinong.

Pastor yang menetap berikutnya adalah Rm. Agustinus Surianto Pr, yang bertugas di sini hanya sembilan bulan sepuluh hari (11 Sept 1993 - 21 Juni 1994). Pada pertengahan 1994 ia ditugaskan oleh Mgr. Leo Soekoto SJ, Administrator Apostolik Keuskupan Bogor pada waktu itu, untuk menjadi Ekonom Keuskupan Bogor dan Direktur Percetakan GMY di Bogor. Penggantinya adalah Rm. Anton Dwi Haryanto Pr., seorang imam muda yang baru saja ditahbiskan pada tanggal 11 Juni 1994. Pastor muda kelahiran Rangkasbitung yang ramah ini, mencoba menjalin relasi yang amat baik dengan masyarakat di sekitar gereja, dan mencoba menghadirkan gereja sebagai "pembawa damai" di tengah-tengah masyarakat di Depok Tengah.

Usaha menyiapkan Stasi St. Mateus menjadi sebuah Paroki tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran yang ekstra besar. Bahkan, stasi ini didahului oleh Stasi St. Markus, Depok Timur, yang telah mendapat peningkatan status menjadi Paroki beberapa tahun lebih dulu. Memang agak ganjil kelihatannya. Pertama, karena kedua pusat Stasi terletak dalam satu kecamatan yang sama. Kedua, ketika Depok Timur menjadi Paroki, ia memotong Paroki Keluarga Kudus Cibinong menjadi dua bagian yang terpisah, dengan menyisakan Depok Tengah di ujung baratnya, yang berbatasan dengan Paroki St. Paulus Depok Lama.

Gembala yang mendapat tugas membidani proses metamorfosa Stasi Depok Tengah menjadi Paroki Depok Tengah adalah Rm. Thomas Saidi, yang bertugas di sini sejak 25 Januari 1998. Sedangkan pastor Paroki Cibinong pada saat itu adalah Rm. A. Adi Indiantono Pr. Pada Hari Raya Pentakosta, 11 Juni 2000, setelah melalui perjalanan menggereja yang sangat panjang, umat Stasi Depok Tengah mendapat hadiah besar, ketika Mgr. Michael Angkur OFM meningkatkan status Depok Tengah menjadi Paroki St. Mateus, Depok Tengah.

Kini, Paroki Depok Tengah digembalakan oleh Rm. Robertus Eeng Gunawan.

Nama Pelindung : Santo Mateus
Alamat : Jl. Sadewa Raya No. 1, Depok II Tengah 16411
Telepon (021) 77822031 Fax. (021) 7701614
Romo Paroki: RD. Alfonsus Sutarno

Jadwal Ekaristi :
Harian : Pukul 05.30WIB
Jumat I : Pukul 19.00 WIB
Sabtu : Pukul 18.00 WIB
Minggu : Pukul 07.30 WIB

Sumber : http://www.keuskupanbogor.org/paroki/depokIItengah.htm

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP