Tampilkan postingan dengan label K.A. Semarang - Surakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K.A. Semarang - Surakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Sejarah Gereja Paroki Santo Petrus Purwosari Surakarta

Karya misi di Surakarta

Karya misi di Surakarta berkembang dimulai dengan dibangunnya Gereja St. Antonius Purbayan pada bulan Oktober 1905. Bulan November 1916, gedung gereja telah selesai dan diberkati Pater C. Stiphout, SJ. Kemudian beliau diangkat sebagai Romo paroki yang pertama di Surakarta. Beberapa tahun kemudian hadir Pater Strater SJ, Pater Hermanus SJ, Pater J. Jansen SJ, Pater Hoevenaars SJ, Pater A. Van Velsen SJ, Pater Schots SJ, Pater B. Hagdorn SJ. Pada tahun 1922, tercatat jumlah orang Katolik di wilayah dalam kota Surakarta ada 1224 orang. Enam tahun kemudian, pada tahun 1928, jumlah tersebut berkembang pesat. Di dalam kota ada 2660 orang Katolik, di kota Boyolali 132 orang, di Sragen 275 orang, dan di Wonogiri 30 orang.

Para Romo misionaris saat itu harus menempuh perjalanan dari Semarang atau Ambarawa untuk melayani orang-orang Katolik yang ada di Surakarta. Pelayanan itu dilakukan dengan cara yang sering disebut missie-reizen yaitu lawatan misi atau kunjungan berkala oleh seorang misionaris.

Perkembangan umat yang begitu pesat itu dirasa berat bagi para Romo yang berkarya di Surakarta. Waktu itu, baru ada satu gereja yang didirikan untuk melayani umat di Surakarta, yaitu Gereja St. Antonius Purbayan. Gereja itu menjadi sangat kecil untuk menampung umat yang terus bertambah. Bangunan Gereja seringkali tidak muat bagi umat yang ingin mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari Minggu, meskipun Perayaan Ekaristi telah diadakan sebanyak empat kali.

Situasi semacam itu menggerakkan hati Mgr. P. Willekens, SJ Vikaris Apostolik Batavia untuk mendirikan gereja dan paroki kedua untuk umat di Surakarta. Pada tahun 1938 Pater Verhaar, SJ yang waktu itu menjadi Romo Paroki St. Antonius Purbayan memberi perhatian pada usaha pendirian gereja tersebut.

Serikat Jesus sejak tahun 1859 yang melayani misi di Hindia Belanda mengalami kesulitan memenuhi tenaga untuk mengelola paroki dan gereja yang baru itu. Mgr. P. Willekens, SJ kemudian mencari tenaga di luar Serikat Jesus. Tawaran itu disampaikan kepada Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) yang sejak tahun 1926 telah berkarya di Kalimantan bersama dengan Ordo Kapusin. Tawaran itupun disambut baik oleh para anggota kongregasi. Mgr. P. Willekens, SJ kemudian mengadakan pembicaraan dengan superior SJ, Pater J. Van Baal, SJ dan Superior MSF, Pater A. Elfrink, MSF.

Para pater MSF pun mulai berdatangan, yaitu Pater H. Van Thiel, MSF, Pater A. Elfrink, MSF, dan Pater Chr. Hendriks, MSF. Mereka menempati rumah yang ditempati oleh para Pater SJ di Purbayan. Dari ketiga Romo itu, yang dipercaya untuk mengurus persiapan dan pelaksanaan pembangunan gereja adalah Pater A. Elfrink MSF.

Gereja Santo Petrus Purwosari Surakarta.

Ketika para pater MSF telah datang di Surakarta, para pater SJ mulai mencari tanah yang dapat dipakai untuk mendirikan bangunan gereja yang baru. Mereka mencari tanah di bagian barat kota Surakarta. Dibelilah sebidang tanah yang terletak di kampung Gendengan. Tanah itu terletak di sebelah timur perempatan jalan Purwosari (sekarang perempatan itu disebut perempatan Gendengan) yang dilingkupi oleh tiga jalan, yaitu : Jl. Dr. Muwardi, Jl. Dr. Wahidin dan Jl. Slamet Riyadi.

Peletakan batu pertama pembangunan Gereja dilakukan pada hari Jumat, 16 September 1938. Pembangunan gereja seluruhnya memakan waktu kurang lebih 20 bulan. Pemberkatan gereja dilakukan pada hari pesta Santo Petrus dan Paulus, hari Sabtu 29 Juni 1940 oleh Mgr. P. Willekens SJ, Pater A. Elfrink MSF, Pater N. Havenman MSF. Izin bangunan gereja baru didapat dari seorang gubernur yang beragama Katolik, yaitu Tuan KAJ Orie. Akte untuk tanah dan bangunan gereja yang diberikan berupa sertifikat tanah R.V.O. no. 476 tertanggal 12 Juli 1940.

Pekerjaan di ladang yang baru itupun dimulai ......

Gedung Gereja Santo Petrus Purwosari telah berdiri sejak tahun 1940, tetapi secara administratif peresmiannya dilakukan pada tanggal 29 Juni 1942. Mulai saat itu Paroki Santo Petrus Purwosari resmi berdiri secara mandiri dan terpisah dari Paroki St. Antonius Purbayan. Para gembala pertama yang dipercaya memimpin paroki baru ini adalah Pater N. Havenman, MSF sebagai Romo kepala, Pater Chr. Hendriks, MSF dan Pater F. Iven, MSF sebagai Romo pembantu.

Sebelum pembangunan Gereja Santo Petrus, telah diadakan pembicaraan tentang pembagian wilayah antara Paroki Purbayan dan Paroki Purwosari oleh Mgr. P. Willekens, SJ dan Pater A. Elfrink, MSF. Daerah yang secara administratif masuk Paroki Purwosari adalah daerah kota yang sekarang terletak disebelah barat Jl. Honggowongso dan Jl. Gajah Mada. Pembatasan diteruskan ke utara sampai Kali Pepe di Srambatan, Tirtonadi sampai ke Komplang. Pembatasan itu bergerak ke selatan sampai Tipes. Selain wilayah itu, Stasi yang masih menjadi bagian Paroki Purwosari adalah Mancasan, Kartasura, Gemolong, Simo dan Boyolali.

Pada masa penjajahan Jepang, Pater yang melayani Paroki Purwosari silih berganti, baik dari para Pater MSF sendiri maupun dari para Pater SJ. Pada tahun 1945 datanglah Romo P. Adisudjono MSF, yang menyelesaikan studinya di Belanda. Ia juga Romo MSF pribumi yang pertama.

Pemekaran Paroki Purwosari terjadi pada tanggal 22 Agustus 1961, yakni diberkatinya Gereja Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali oleh Vikaris Apostolik Semarang, Mgr. A. Soegijapranata, SJ.

Pembinaan umat semakin intensif dilakukan oleh Romo P. Beyloos, MSF mulai tahun 1962. Paroki dibagi menjadi 12 wilayah dan setiap wilayah dipimpin oleh seorang pamong. Pada waktu itu, dilakukan sensus umat untuk yang pertama kali dan tercatat 1.291 orang.

Wilayah teritorial Paroki Purwosari meliputi Kecamatan Laweyan dan setengah Kecamatan Banjarsari (wilayah Kotamadya Surakarta) dan wilayah Kecamatan Grogol (wilayah Kabupaten Sukoharjo).

Karena perkembangan umat yang cukup pesat dan daerah teritorial paroki yang luas, awal tahun 1980, Romo Bratasantosa, MSF merintis pengembangan paroki baru, yaitu Paroki Kleco. Tanggal 9 September 1985 secara resmi Paroki Kleco lepas dari Paroki Purwosari menjadi paroki sendiri dan mengambil nama pelindung Santo Paulus. Romo Paroki yang pertama adalah Romo Th. Widagdo, MSF.

Setahun kemudian, Romo FA. Widiantara, MSF melakukan peletakan batu pertama pembangun-an Kapel di Wilayah Cemani. Kapel ini dibangun untuk menampung umat Katolik di Cemani yang bertambah karena tumbuhnya pemukiman baru di sekitar PT Batik Keris dan PT Dan Liris. Bulan September 1988, bangunan kapel itu diresmikan secara simbolis oleh Gubernur Jawa Tengah : H.M. Ismail. Dan secara khusus, pada tanggal 15 September 1990, bangunan kapel diresmikan oleh Uskup Agung Semarang yang diwakili oleh Romo Vikaris Jenderal, Romo J. Hadiwikarta, Pr. Dengan mengambil nama pelindung Gereja Santo Yusuf. Pemberkatan itu dihadiri umat Katolik Cemani, para pejabat desa, kecamatan dan kabupaten Sukoharjo.

Pada tahun 2001 Romo Kepala dijabat oleh Romo FX. Dwinugraha Sulistya, MSF, muncul sebuah ide untuk memperluas bangunan di belakang gereja. Dibangunnya gedung panti paroki dengan tujuan untuk menyediakan sarana dan prasarana yang representatif untuk kegiatan umat Purwosari. Peletakan batu pertama dilaksanakan tanggal 15 Mei 2001 yang dilakukan oleh Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharyo. Dalam waktu kira-kira setahun, Panti Paroki itu telah dapat diselesaikan. Pada tanggal 22 Juni 2002, Panti Paroki diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo dengan nama Wisma Dwi Dharma.

Setelah sekitar 64 tahun karya misi dan Pastoral terlaksana di Paroki Santo Petrus Purwosari, sampai akhir tahun 2005, jumlah umat mencapai lebih kurang 6.750 orang.




Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/47?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
Gambar : http://www.parokiku.org/content/gereja-katolik-st-petrus-purwosari-surakarta

baca selanjutnya...

Jumat, 09 Maret 2012

Sejarah Gereja Paroki Maria Assumpta Klaten

1. BENIH AWAL

Pada tahun 1909, Rama Van Lith SJ berkunjung ke SD Ngepos yang merupakan satu-satunya sekolah di Klaten saat itu. Beberapa murid menerima tawaran Rama Van Lith untuk belajar di Muntilan. Mereka itu antara lain Rustam, Ramelan (alm. Rama Josowiharjo, SJ), Mikun, Radjiman, Sutedjo, Sukardja dan lain-lain. Inilah benih-benih awal tumbuhnya Gereja Katolik pribumi di Klaten. Pencarian benih ini dilakukan Rama Van Lith secara rutin pada awal tahun dengan mendatangi SD Ngepos. Sejak itulah dimulai kegiatan katekese dan pewartaan di Klaten. Pelajaran agama dilaksanakan di kediaman Bp. Sutadikrama, Sikenong.

Pada masa itu umat hanya merayakan Ekaristi tiga bulan sekali oleh Rama C. Stiphout SJ dari Ambarawa, didampingi oleh Vitus Saiman, pemuda dari Blateran. Setelah beberapa waktu ada tambahan gembala yaitu Rama H. Van Driessche SJ. Misa kudus saat itu di kediaman seorang Belanda: Tuan Yongenelen di Nurlalen. Kemudian dibangunlah gereja kecil di Kauman yang menampung sekitar 30 orang.

Pada tahun 1920 pelajaran agama pindah dari rumah Bp. Sutadikrama ke rumah Bp. Wignyamarwata, dialah yang kemudian dibaptis dan menjadi guru agama pertama di Klaten. Melihat suburnya benih di Klaten, Rama Van Lith berusaha mendirikan Sekolah HIS (Sekolah Belanda setingkat SD). Setelah melalui proses agak lama akhirnya berdirilah HIS dan tahun 1922 mulai ditempati. Kepala sekolah pertama Tuan Lamers dan tahun 1923 diganti oleh tuan Slabbekoom. Gedung ini kelak menjadi SD Kanisius Sidowayah dan menjadi perintis berdirinya kompleks Gereja Paroki Klaten.

2. DARI STASI KE PAROKI

Status wilayah Klaten sendiri pada awalnya merupakan stasi dari Paroki Ambarawa. Ketika Rama C. Stiphout SJ pindah ke Solo pada tgl 15 Oktober 1918 menjadi Pastor Paroki Purbayan, Klaten pun berubah status menjadi salah satu stasi dari Paroki Solo. Saat itu gembala yang bergantian mengunjungi Klaten yaitu Rama Janssen SJ, Rama Van Driessche SJ dan Rama C. Lucas SJ. Rama Lucas inilah yang pertama kali secara resmi ditunjuk untuk menggembalakan umat Katolik di Stasi K1aten. Umat makin berkembang, maka kemudian dibangunlah sebuah gereja paroki di samping gedung HIS. Gereja ini diberkati pada tanggal 12 Agustus 1922 dengan nama pelindung Beata Maria Virgo a Sacratissimo Sacramento (Perawan Suci Maria dari Sakramen Mahakudus).

Pada tanggal 8 Agustus 1923 Stasi Klaten dinaikkan statusnya menjadi Paroki Klaten, dengan Rama C. Lucas SJ sebagai pastor Paroki pertama hingga 29 Januari 1926. Berhubung daerahnya luas, maka Rama Paroki dibantu oleh katekis-katekis awam antara lain: Bp. RVS. Bratasutedja, Bp. A. Dwidjasubrata, Bp. Atmasumarta, Bp. Tjakraatmadja, Bp. Atmasurip, Bp. Jatmasubagya, Bp. Mangunsuwarna dan Bp. Pudjaatmadja. Karena para katekis ini bertugas di daerah-­daerah yang jauh, maka mereka berangkat bersama dari pastoran naik mobil atau kereta kuda dan diturunkan di daerahnya masing-masing. Pada tahun 1934 Bp. S. Suhardja masuk di Pastoran Klaten dan menjadi tangan kanan Rama J.S. Versteegh SJ merangkap sebagai koster serta kusir Pastoran.

3. PAROKI KLATEN DALAM SEJARAH BANGSA

a. Masa Jepang
Saat Jepang masuk kota Klaten, semua gereja, pastoran dll harus tutup untuk sementara, peralatan penting dipindahkan ke Sikenong, sedang Rama Hagdoren SJ diamankan pemerintah Jepang. Maka semua kegiatan kerohanian dan ibadat menjadi kacau. Oleh karena Paroki K1aten menjadi daerah Keuskupan Semarang (dahulu Vikaris Apostolik) maka Uskup pertama Mgr. A. Soegijapranata SJ terpaksa turun tangan, beliau mendatangi seluruh stasi Klaten dan membangkitkan semangat umat dan untuk menenangkan umat didatangkan pastor Jepang, Koide SJ.

b. Masa Clash ke II
Pada tanggal 19 Desember 1948 meletus clash yang dilancarkan oleh tentara Belanda dan terjadi pendudukan Belanda, maka kekacauan kembali menimpa gereja dan Sekolah Katolik. Karena gereja dan pastoran diduduki tentara Belanda, maka Rama Paroki Klaten terpaksa pindah ke Nglinggi, gereja darurat bertempat di rumah Bp. Hardjasuwita, kebayan Nglinggi. Sedangkan Rama A.P. Poerwadihardja dan Br. Tirtasumarta menempati rumah di sebelah gereja serumah dengan Dr. Letkol Wonojuda. Setelah adanya penyerahan kedaulatan, maka gereja dan Pastoran digunakan seperti sediakala.

c. Masa G30S PKI
Meletusnya gerakan 30 September 1965 berimbas pada umat Katolik di Klaten. Waktu itu Rama Paroki adalah Rama L. Van Woerkens SJ. Pada waktu itu ada desas-desus bahwa gereja akan dibakar, maka umat Katolik membentuk Organisasi Penjaga Gereja dengan nama "Brigade Pengawal Kristus". Pada tanggal 23 Oktober 1965 G 30 S bergerak menebangi pohon di tepi jalan dan situasi makin genting. Oleh karena takut terjadi penculikan rama, maka rama memakai pakaian preman. Masa G30S ber1alu dan umat pun makin berkembang hingga gereja pun terasa kecil, maka setiap hari raya gereja harus dibuka dan ditambahkan tenda serta tempat duduk untuk menampung umat.

4. PERKEMBANGAN SELANJUTNYA

Di bawah perlindungan Bunda Maria Paroki Klaten berkembang pesat, sehingga dalam perjalanannya muncullah putera baru seperti Paroki Wedi pada tahun 1936, Paroki Delanggu pada tahun 1962, Paroki Jombor pada tahun 1971 dan yang terakhir Paroki Kebonarum pada tahun 1998, yang kemudian disusul Paroki Gondang pada tahun 2005 sebagai hasil pemekaran Paroki Wedi.

Pada tahun 1966 dimulailah pembangunan gedung gereja baru. Panitia dibentuk dan pada tanggal 30 Oktober 1967, Bapak Yustinus Kardinal Darmajuwana melakukan pencangkulan pertama menandai pembangunan gereja baru yang dirancang oleh arsitek Rama JB. Mangunwijaya, Pr. Pembangunan ini diawali dengan dibongkarnya gereja lama yang kemudian digunakan untuk membangun gereja Jombor. Oleh Rama Mangun, ada bagian gereja lama tetap dipertahankan hingga kini, yang merupakan kesinambungan gereja lama dan baru.

Pada tanggal 8 Desember 1968 Bapak Uskup Julius Kardinal Darmajuwana berkenan memberkati gedung baru yang memakai nama Pelindung Maria Assumpta. Sejak saat itulah nama Paroki Klaten berganti dari Beata Virgo a Sacratissimo Sacramento menjadi Paroki Santa Maria Assumpta Klaten. Gedung gereja ini pun menjadi fenomena arsitektur sekaligus fenomena ekspressi rohani, sebuah gedung gereja besar yang menampilkan kesederhanaan, keakraban dan serba keterbukaan.

Umat pun makin berkembang jumlahnya. Pada tahun 1988 jumlah umat mencapai ± 17.500. Pada tahun 1998 Stasi Kebonarum menjadi Paroki baru, dengan jumlah umat 5.480 jiwa, sehingga Paroki Klaten umatnya berkurang dan tinggal ± 12.500.

Sementara itu kualitas iman dan pelayanan ditingkatkan. Pada waktu itu penataan katekis dan pengurus paroki hingga wilayah dan Lingkungan terus dilakukan. Berbagai retret dan rekoleksi umat pun berhasil dilaksanakan, termasuk salah satu program unggulan adalah KKDP (Kunjungan Kekeluargaan Dewan Paroki). Kunjungan ini merupakan sapaan kasih, bukan. kunjungan pendataan apalagi inspeksi mencari umat yang bersalah. Di samping pembinaan umat, berbagai fasilitas pelayanan gereja juga dibenahi, termasuk pembangunan Gedung Panti Paroki dengan dua lantai yang dibangun tahun 1998 dan selesai tahun 2000. Lantai pertama digunakan untuk Sekretariat Pastoran, Sekretariat Dewan, Ruang Rapat dll, sedangkan lantai dua berfungsi sebagai aula serba guna.

Program lain yang dilaksanakan pada periode 2001-­2002 adalah pembuatan jalan lingkar, yang menghubungkan kampung Sidowayah dengan jalan Andaias !ewat samping luar SD Kanisius. Jalan ini menggantikan jalan samping gereja yang secara hukum merupakan bagian halaman gereja bukan jalan umum.

Peristiwa lain yang menunjukkan potensi dan keguyuban umat adalah pertama Peringatan Pesta Intan Paroki Klaten (75 tahun) yang dirayakan dengan Perayaan Ekaristi Agung di lapangan SLTP/ SMK Pangudiluhur tanggal 6 September 1998. Yang kedua adalah Peringatan 80 tahun (10 windu) Paroki Santa Maria Assumpta Klaten yang dibuka pada tanggal10 Agustus 2003. Perayaan ini berangkat selama satu tahun dengan tujuan menggali dan mengembangkan potensi umat yang ada baik dalam bidang rohani dan jasmani, baik dalam bidang sumber daya manusia dan sumber dananya. Peringatan 80 tahun Paroki Klaten ditutup tanggal 15 Agustus 2004 dengan Misa Agung di lapangan SLTP/SMK Pangudi Luhur dengan selebran utama Bp. Uskup Mgr. Ig. Suharyo dan menghadirkan para rama yang pernah berkarya di Paroki Maria Assumpta Klaten, biarawan-biarawati dari Klaten dan seluruh umat se-Paroki Klaten.

Berbagai perkembangan yang mewarnai perjalanan paroki ini pada periode selanjutnya dapat dirasakannya dengan tumbuhnya pemekaran-pemekaran lingkungan dan timbulnya kelompok-kelompok kategorial. Pada tahun 1998 berjumlah 32 lingkungan, tahun 2004 berjumlah 56 lingkungan dan pada akhir tahun 2005 tercatat 59 Iingkungan, sedangkan kelompok kategorial tidak kurang dari 18 kelompok.

Tonggak Sejarah:

1880 - 1907
Karya Misi Romo Jesuit di Jawa Tengah dimulai.

1909
Romo Fransiskus van Lith, SJ datang di Klaten, mencari pemuda-pemuda pribumi untuk diajak belajar di Muntilan.

1915
Romo C. Stiphout dari Ambarawa tiga bulan sekali mengadakan Ibadat Ekaristi di Klaten.

1921
Romo Henricus van Driessche, SJ membangun gereja kecil dengan kapasitas 30 umat di Kauman Klaten.

1920 - 1922
Romo van Lith, SJ mulai mem- bangun sekolah HIS di Klaten ( di area SD Kanisius dan Gereja saat ini ) juga dibangun Standaard School di area lain.

12 Agustus 1922
Romo Frans Starter, SJ memberkati gereja paroki Beata Maria Virgo a Sacratissimo Sacramento, untuk menggantikan gereja di Kauman yang sudah tidak memadai.

1966 - 1968
Setelah selesai pembangun kembali gedung gereja paroki; tanggal 8 Desember 1968 -- gedung gereja baru diberkati oleh Bapa Uskup Justinus Kardinal Darmayuwana dengan pelindung Santa Maria Assumpta.

PAROKI SANTA MARIA ASSUMPTA KLATEN
JL. ANDALAS NO. 24 KLATEN 57413 JAWA-TENGAH INDONESIA

Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/24/011_Sejarah_Gereja_Paroki_Maria_Assumpta_Klaten
http://www.paroki-klaten.org/default.html

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP