Tampilkan postingan dengan label Keuskupan Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuskupan Surabaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2012

Sejarah Berdirinya Gereja Sakramen Mahakudus Surabaya

Uskup Surabaya Mgr. A.J. Dibjokaryono, Pr., dalam sambutan pemberkatan Gereja Salib Suci – Tropodo pada tanggal 16 Nopember 1988, memberi sebidang tanah di daerah Pagesangan bagi Paroki Gembala Yang Baik dengan kepercayaan khusus, yakni kemungkinan pembangunan gereja yang baru di desa Pagesangan, Surabaya; di sebelah barat rel Kereta Api Surabaya - Malang.

Tanah yang berukuran kurang dari 7.000 m2 itu ternyata lebarnya kurang strategis. Akhimya Dewan memutuskan membeli tanah lain di sekitar wilayah itu. Bpk F.X Partrosto menceritakan bahwa proses tersebut dilalui dengan pengalaman-pengalaman sulit.

Izin bangunan mulai dirintis bulan Juli 1990. Pada tanggal 31 Januari 1991, permohonan panitia untuk pembangunan gereja ditolak untuk ditandatangani. Alasannya tempat itu direncanakan untuk pembangunan perumahan. Pada tahun 1992, terjadi mutasi pada tingkat Pemerintah Daerah Kotamadya Surabaya, maka panitia kembali mengajukan permohonanan pendirian Rumah Ibadat yang sangat dibutuhkan ini. Tanggal 17 Agustus 1991 - ketika Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-47, gereja di wilayah ini kembali mencatat pengalaman pahit, yakni bahwa untuk kedua kalinya surat permohonan pendirian rumah ibadat ditolak.
Menyadari situasi sulit ini dan berusaha memahami alasan yang diberikan akhirnya Panitia dan Dewan menetapkan untuk kembali ke tanah awal yang disiapkan Bapak Uskup dengan membeli lagi tanah di sampingnya. Perjuangan yang panjang dan berat itu akhirnya mulai mendapat titik terang. Pada tanggal 23 Februari 1996, keluarlah surat IMB dengan No. 188/426.91/402.09/96. Pembangunan fisik gereja pun mulai diwujudkan. Kegiatan pembangunan ini terpaksa dihentikan sementara sampai adanya jalan pemisah dengan lokasi pembangunan Masjid Al Akbar Surabaya yang letaknya berdampingan dengan gereja.

Gereja mulai difungsikan pada tanggal 19 April 1998, dengan misa perdana yang dipimpin Pastor J. Heijne, SVD sendiri. Sejarah indah ini patut kita kenang, pada tanggal 10 Nopember 2000, Presiden Republik Indonesia - K.H. Abdurrahman Wahid bersedia meresmikan gereja, sesudah beliau meresmikan Masjid Al Akbar Surabaya.

“Hendaknya umat Katolik tidak berkecil hati dalam menghadapi segala situasi dan persoalan, sebab bangsa kita memang sedang dalam proses belajar.” (sambutan peresmian tgl 10 Nopember 2000).

Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta, Pr., dalam perayaan Ekaristi Kudus tanggal 7 Januari 2001, memberikan dan mengangkat status gereja ini dari stasi menjadi paroki. Gereja yang berdiri indah dibawah jalan tol itu diberi nama: “Gereja Sakramen Maha Kudus”.

Pastor paroki pertamanya, Romo Sonny Keraf SVD, romo asal Lamalera, Flores Timur. Lagi-lagi orang Flores mendapat kepercayaan di kota sebesar Surabaya.

MAS & Paroki Sakramen wujud Lakum Diinukum Waliyadiin

Kalau bisa hidup berdampingan, kenapa harus bertikai? Kalimat, 'Lakum Diinukum Waliyadiin,' memiliki makna yang luar biasa untuk memahami toleransi umat beragama. Terlebih lagi, sebagai bangsa Indonesia yang memiliki lima agama, tentunya toleransi sangat diperlukan.

Untuk memahami kalimat, Bagimu agamamu dan bagiku agamaku, agaknya kita bisa belajar dari dua tempat ibadah berbeda agama namun bisa hidup dengan rukun dan damai.

Adalah Masjid Al Akbar Surabaya (MAS) dan Gereja Paroki Sakramen Mahakudus yang sama-sama berdiri bersebelahan di Jalan Pagesangan Baru. Istimewanya, kedua tempat ibadah yang berdiri megah ini, sama-sama mendapat persetujuan dari mantan Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Almarhum Cak Narto (H Soenarto Soemoprawiro) dengan peletakkan batu pertama oleh Wakil Presiden RI H Try Sutrisno pada bulan Agustus 1995. Sedangkan pembangunannya, dimulai sejak September 1996.

10 Nopember 2000, MAS dan Paroki Sakramen Mahakudus diresmikan secara bersamaan oleh Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang saat itu masih menjabat sebagai presiden ke empat RI.

"Memang, kedua tempat ibadah ini disepakati berdiri dan diresmikan secara bersamaan, sebagai simbol kerukunan umat beragama di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Kenapa demikian, agar bangunannya sama-sama tinggi, sama-sama rendah, karena inilah wujud kebersamaan sebagai negara yang saling menghormati antar pemeluk agama," terang Ketua Bidang Kerosulan Paroki Sakramen Mahakudus Josaphat Haryono, Sabtu (8/9).

Bahkan, lanjut dia, tak jarang kami saling bahu membahu untuk membantu satu sama lain. "Misalnya ketika kita mengadakan acara Misakudus, karena jemaatnya bejibun dan tak ada lahan parkir, pihak Masjid Agung (MAS) bersedia meminjamkan lahan parkirnya. Dari GP Ansor juga ikut membantu dalam soal keamanan. Kalau dulu, saat peresmian, PDIP juga ikut membantu keamanannya," kata dia bercerita.

Sekadar informasi, sebagai pemekaran Paroki Yohanes Pemandi dan Paroki Gembala Yang Baik, paroki ini dibangun berkat kerja keras Romo Johanes Heijne SVD. Proses perizinan panjang dan berliku, tapi beres berkat kebijaksanaan Cak Narto.

Dan dari sekian gereja dan masjid yang ada di Surabaya, hanya MAS dan Paroki Sakramen Mahakudus yang berdiri bersebelahan. Kedua bangunan megah ini, hanya dipisah ruas jalan dengan lebar sekitar 10 meter.

Ketika diresmikan presiden sekaligus ulama’ kontroversial itu, jemaat Paroki Sakramen Mahakudus meminta Gus Dur untuk memimpin doa. "Namun dijawab oleh Gus Dur, kalian itu yang lebih dekat dengan Tuhan, wong kalian itu manggilnya Bapak, jadi yang paling dekat dengan Tuhan itu ya kalian," kata Josaphat menceritakan lelucon yang dilontarkan Gus Dur, sambil mengingat-ingat pidato salah satu tokoh NU tersebut.

"Mungkin baru kali ini ada Presiden Republik Indonesia yang meresmikan gereja dan memberikan kata sambutan sangat menarik," terangnya.

Di tempat terpisah, di pelataran MAS, seorang jamaah mengatakan kalau di Surabaya kerukunan umat beragama masih tergolong kondusif dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Salah satu buktinya adalah keberadaan MAS dan Paroki Sakramen Mahakudus yang bisa hidup berdampingan dengan saling menghormati satu sama lain.

"Ini wujud dari ayat Lakum Diinukum Waliyadiin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jadi kita tak perlu saling bersitegang soal keyakinan masing-masing, asal kita sama-sama tidak saling mengganggu. Dan buktinya, sejak kedua tempat ibadah ini berdiri, kita sama-sama tidak terganggu dengan aktivitas beribadah kita masing-masing," kata Ragil Priyonggo yang hendak menunaikan ibadah salat Zuhur di MAS.

MAS dan Paroki Sakramen Mahakudus, diproyeksikan untuk mewujudkan konsep masjid dan gereja dalam arti luas, MAS sebagai Islamic Center dengan peran multidimensi dengan misi religius, cultural dan edukatif termasuk wisata religi, untuk membangun dunia Islam yang rahmatan lil alamien. Pun begitu dengan Paroki Sakramen Mahakudus yang sanggup menjadi pusat gereja dengan konsep yang sama.

Secara lahiriyahnya, MAS dan Paroki Sakramen Mahakudus menjadi landmark kota Surabaya, dan secara simbolik memperkaya peta dunia tentang keberagaman agama di Indonesia, yang tentunya mengangkat citra kota Surabaya di mancanegara.

"Dari cerita yang saya dengar, kedua tempat ibadah ini, konsep bangunannya juga dikerjakan oleh tim dari Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS)," pungkas Ragil.

Sumber :
http://komsossmkpagesangan.blogspot.com/2012/06/sejarah-berdirinya-gereja-sakramen.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/mas-amp-paroki-sakramen-wujud-lakum-diinukum-waliyadiin.html

baca selanjutnya...

Kamis, 01 Maret 2012

Sejarah Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya

Imam Katolik yang pertama mendarat di Surabaya ialah Pastor Hendrikus Waanders Pr. dan Pastor Philipus Wedding Pr, yaitu pada tanggal 12 Juli 1810. Tetapi Pastor Wedding Pr selanjutnya ditugaskan di Jakarta, sedangkan pastor Waanders menetap di Surabaya dan mendirikan rumah sekaligus digunakan untuk gereja di jalan Gatotan. Dan pada tanggal 10 Maret 1811 sudah mulai ada orang yang dibaptis untuk pertama kali ( yaitu : Jan George dan Johanna Elizabeth).

Pada tahun 1815 Pastor Hendrikus Waanders Pr. mendirikan stasi yang pertama di Surabaya (merupakan stasi kelima di Indonesia setelah Jakarta/Batavia - Semarang (23 Desember 1808) - Ambarawa - Yogyakarta). Sampai pada tahun 1811 ada 7 orang pastor yang berkarya di Indonesia, yaitu 2 pastor di Batavia, 2 pastor di Surabaya, 2 pastor di Semarang dan 1 pastor di Makasar.

Pada tahun 1815, stasi Surabaya dijadikan Paroki. Tahun 1821 timbul wabah kolera yang menyerang pulau Jawa. Peristiwa ini merupakan kesempatan yang baik bagi Pastor Waanders dan para misionaris lain untuk menunjukkan keperwiraannya. Akibatnya Pastor Waanders dikagumi dan dikenal oleh banyak orang. Oleh sebab itu setelah selama 7 tahun stasi Surabaya berdiri tanpa memiliki gedung gereja yang permanen, maka Pastor Waanders memberanikan diri untuk membangun gedung gereja yang pertama dan diresmikan pada tanggal 22 Maret 1822 dan terletak di tikungan Roomsche Kerkstraat dan Komedienplein (kira-kira di Jl. Cenderawasih dan Jl. Merak). Itulah gereja yang pertama di Jawa Timur. Gereja yang indah, agung, tetapi sederhana itu dipersembahkan kepada Santa Perawan Maria oleh Mgr. Prinsen.

Pada waktu pemberkatan banyak tamu dan umat yang hadir. Para tamu terdiri atas para pejabat sipil dan militer, satu detasemen infanteri yang sebagian besar tidak beragama Katolik. Hal ini menunjukkan bahwa prasangka terhadap kebiasaan katolik akan berubah menjadi sikap yang menghormati berkat adanya pengertian. Sebagai hiburan, digelar musik vokal dan instrumental.

Pada kesempatan itu, J.C. Schmidt seorang jenius mempersembahkan lukisan Kristus yang wafat disalib. Piala misa: ”SEMBAH BEKTI DAN PUJI SYUKUR, SURABAYA 1821”. Ini sebagai pengakuan kepada Pastor Waanders Pr. yang berjuang di tengah wabah kolera. Bahkan uniknya pula, bangunan gereja yang belum rampung seluruhnya itu dipakai untuk rumah sakit darurat. Sampai tahun 1827 Pastor Waanders bekerja sendirian untuk melayani daerah kegerejaan Surabaya, karena tepatnya pada tanggal 12 Februari 1827 Pastor Waanders pensiun sebab matanya buta. Pastor Waanders Pr. wafat dan dimakamkan pada tanggal 9 November 1833.

Pastor Waanders lahir di Ankeveen - negeri Belanda dan ditahbiskan sebagai imam pada tanggal1805, menjadi kapelan di Bunnik. Pada tahun 1809 berangkat ke Surabaya dan wafat pada tanggal 9 November 1833.

Babat Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria

Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria yang sekarang terletak di jalan Kepanjen 6 Surabaya didirikan untuk menggantikan gedung gereja pertama yang rusak (kira-kira di jalan Cenderawasih dan Merak) dan sekarang sudah tidak ada lagi bekasnya.

Sejarah dibangunnya gedung gereja yang sekarang setelah wafatnya Pastor Waanders adalah sebagai berikut: Pastor Moonen Pr. seorang dari tiga imam yang diajak Mgr. Vrancken, langsung berangkat ke Surabaya setelah retret selama 8 hari di Jakarta. Pastor Moonen tiba di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 1847.

Perhatian untuk membina anak-anak, terlebih mereka yang ditinggalkan oleh orangtuanya sangat tinggi. Karena itu pada tahun 1856 didirikan SSV yang namanya lebih dikenal sebagai ”Dana Bantuan Santo Vincentius”. Perhatian kedua ialah memugar gereja, sumbangan umat dan subsidi dari pemerintahan. Selain
pemugaran, beliau juga membeli organ dan altar yang di impor dari kota ’s Bosch, tetapi sayang sekali karena ukiran dan gambar reliefnya rusak pada saat perjalanan.

Jaman terus berkembang dan jumlah umat semakin bertambah. Hal ini membuat Mgr. Vrancken merasa gundah karena kesulitan mendapatkan imam-imam projo. Akhirnya berkat uluran tangan Pastor Provinsial Yesuit, Pastor Van de Elzen SJ dan Pastor Pallinckx SJ. (baca: Paling) mendarat di Bandara Jakarta pada tanggal 9 Juli 1859 dan langsung ditugaskan di Surabaya. Sejak itu pelayanan rohani umat Katolik ditangani oleh kedua Pastor Yesuit tersebut.

Di bawah dua imam Yesuit ini, karya misi di Surabaya bertambah mekar. Mereka membuka sekolah katolik yang pertama. Atas penyelenggaraan ilahi, seorang donatur menyumbang f. 20.000,00 (dua puluh ribu gulden) untuk membeli sebidang tanah (mungkin Susteran Kepanjen sekarang). Berturut-turut pada tanggal 28 Mei 1862, empat Broeder Aloysius (CSA) mendarat di surabaya, disusul oleh lima Suster Ursulin (OSU) pada tanggal 14 Oktober 1863. Biarawan/wati ini bergerak dalam karya sosial dan pendidikan.

Suster Ursulin membeli rumah di Jalan Kepanjen (Susteran SPM sekarang dan perhatikan tulisan St. Ursula).
Karena ada kompleks Marinir di Ujung dan mengingat pelabuhan Tanjung Perak lebih besar dari pada Tanjung Priok, maka Gubernur Jederal minta kesediaan imam alumsenir (imam militer) untuk memberi pelayanan rohani. Peristiwa inilah yang merupakan cikal bakal gereja tua di Ujung, Surabaya.

Pastor Pallinckx selanjutnya ditugaskan mendirikan stasi baru di Yogyakarta. Beliau diganti oleh Pastor Van de Hagen SY yang menjadi Pastor dan Superior pada tahun 1866. Pastor Hagen inilah yang membeli tanah pastoran di Jalan Kepanjen dengan harga f. 21.000,00. Pada tanggal 27 November 1868 Pastor Van de Hagen SY wafat dan digantikan oleh Pastor Terwindt SY. sampai dengan tahun 1886.

Paroki terus berkembang pesat dan sudah barang tentu tempat ibadat yang lebih luas sangat didambakan. Akibat gempa bumi pada tahun 1867 gereja mulai retak. Hal ini mendorong pemikiran perlunya untuk membangun gedung gereja baru.

Pembangunan Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria

Pada tahun 1889 SSV Paroki dapat membeli sebidang tanah yang bagus dari pemerintah seharga f. 8.815,00 . Di bawah pimpinan Pastor van Santen SJ umat mulai mengumpulkan dana lewat lotere, edaran sumbangan, pinjaman kredit dan permohonan kepada pemerintah.

Pada saat pelaksanaan pembangunan dimulai, timbul kesulitan teknis, karena 4 meter di bawah tanah keadaannya sangat jelek dan tidak stabil. Setelah berbagai saran masuk, akhirnya diadakan pemeriksaan lebih lanjut dengan melakukan pengeboran tanah sampai didapatkan tanah wadas yang kuat. Ternyata setelah dibor sedalam 16 meter baru didapatkan tanah yang dimaksud. Rencana semula akan membuat pondasi pada dasar tersebut dan ditambah pilar-pilar ukuran 10-12 meter. Tetapi ternyata kedalamannya rata-rata memang 16-17 meter. Pilar pertama dipasang pada tanggal 18 April 1899. Pilar yang dibutuhkan sebanyak 790 buah. Pilar tersebut terdiri dari kayu galam yang didatangkan dari Kalimantan.

Peletakan batu pertama baru dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 1899 oleh Pastor van Santen SJ. Untuk mendasari pilar tersebut, maka bahannya didatangkan dari Eropa dan demikian pula bahan bangunan yang lain. Seluruh bangunan tembok dari bata yang juga didatangkan dari Eropa dipasang sesuai dengan warna aslinya. Khusus untuk bangunan kayu diambilkan dari kayu jati, sedanghkan kap dan puncak menara dipakai sirap dari kayu besi. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan gedung gereja tersebut adalah sebagai berikut:

- Menara : f. 10.000,00
- Pondasi : f. 60.000,00
- Bangunan : f. 95.000,00
- T o t a l : f. 165.000,00

Ukuran gereja adalah sebagai berikut: panjang as bagian dalam 47.60 meter, lebar tangan gereja 30.70 meter, transep 12.70 meter, dar lantai sampai ujung gawel 17.40 meter. Setelah gereja selesai, mebelnya diusahakan selaras dengan bentuknya, yaitu gaya gotik lancip. Pemberkatan gedung gereja dilaksanakan oleh Mgr. Prinsen pada tanggal 5 Agustus 1900 pukul 08.00.

Setelah usahanya berhasil dengan memuaskan, Pastor van Santen SJ. dipindahkan ke Bandung. Sebelum dipindahkan, yaitu pada tanggal 18 Desember 1906 Pastor van Santen SJ memimpin rapat Pimpinan Paroki (Kerkbestuur) untuk mengucapkan terima kasih kepada semua anggota. Pator Hout, sekretarisnya, atas nama semua anggota membalas dengan ucapan terima kasih pula kepada Pastor van Santen SJ, begitu besar jasa beliau atas paroki ini.

Tahun 1923 Merupakan Tonggak Sejarah Keuskupan Surabaya. Jumlah umat Katolik pada tahun 1900 - 1923 menurut Pastor Boonekamp, CM. dalam tulisan ”Sejarah Gereja Katolik di Wilayah Keuskupan Surabaya” berdasarkan statistik tahun 1900 adalah sebanyak 3465 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 2608 orang tinggal di kota Surabaya. Sedangkan pada tahun 1900 untuk pertama kalinya tercatan ada 10 orang Katolik pribumi di kota Surabaya.

Kemudian pada tahun 1921tercatat hanya ada 25 orangKatolik bangsa Indonesia dan 10 orang dari bangsa Asia. Paroki Surabaya dikenal sebagai paroki yang luas, tetapi pada tahun 1923 hanya dilayani oleh 2 orang pastor Yesuit, sedangkan yang satu orang selalu berada dalam perjalanan dinas. Dengan demikian, sampai pada tahun 1923 kegiatan pastoral terpaksa dijalankan dikalangan orang Katolik berkebangsaan Belanda saja.

Di samping harus melayani umat di dalam kota yang meliputi dua kersidenan, pastor paroki Surabaya waktu itu juga harus melayani sebagian besar Ujung Timur Jawa Timur sampai daerah Banyuwangi (sampai tahun 1992). Pulau Madura (sampai tahun 1923), Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur (sampai tahun 1905) dam sewaktu-waktu juga harus melayani Bali, Lombok dan Ujung Pandang (Makasar).

Pada Tahun 1923, diambil kebijaksanaan untuk membagi wilayah Gerejani yang berdiri sendiri. Satu wilayah di bagian Timur (Malang) diserahkan kepada Ordo Karmel dan wilayah lainnya, yaitu bagian Barat (daerah Karesidenan Surabaya, Kediri dan Rembang) diserahkan kepada pastor Lazaris (CM) yang sampai tahun 1928 masih berstatus Prefektur Apostolik di bawah Vikariat Apostolik Batavia.

Pada hari Sabtu, 30 Juni 1923 anggota-anggota kedua ordo tersebut (Karmel dan Lazaris) mendarat di Tanjung Priok, Jakarta. Adapun pastor-pastor Lazaris (CM) yang bertugas di Surabaya ialah:

1. Pastor Dr. Th. E. de Backere, CM.
2. Pastor C. Klamer, CM.
3. Pastor E. Sarneel, CM.
4. Pastor J. Wolters, CM.
5. Pastor Th. Heuvelmans, CM.

Pada hari Minggu, 1 Juli 1923 para Pastor Yesuit minta diri karena tugas pelayanan rohani selanjutnya akan dilaksanakan oleh Ordo Karmel dan Kongregasi Misi. Dalam Misa Syukur, umat yang hadir sangat melimpah, demikian pula waktu resepsi. Tidak ada tempat duduk yang kosong, bahkan banyak umat yang berdiri, baik dari umat sendiri maupun para undangan. Pada waktu itu hadir pula Bapak Residen, Regen, walikota serta Asisten Residen. Untuk mengenang jasa para pastor Yesuit, maka ketua panitia mengatakan bahwa gambar/patung St. Ignatius dan Fransiskus akan dipasang di gereja Kepanjen dan gereja Darmo. Bapak Residen yang mewakili hadirin yang tidak katolik menyatakan rasa simpatinya. Juga koran-koran Surabaya menulis artikel yang sangat menghargai karya misi para pastor Yesuit.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimulan, bahwa gereja Katolik Kepanjen yang hingga kini masih menjadi rumah pusat imam-imam Kongregasi Misi (CM) merupakan awal dari perkembangan Gereja Katolik di Surabaya atau bahkan Jawa Timur.

Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria - Kepanjen, masih mempertahankan arsitektur aslinya, hanya kedua menara dan kaca-kaca jendela yang mengalami perubahan. Kaca-kaca jendela menjadi lebih modern dan masing-masing gambar yang terlukis pada kaca jendela tersebut mengandung arti sesuai dengan Kitab Suci, terutama Injil.


Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria
Jl. Kepanjeng 4-6
Surabaya

Sumber : gerejakelsapa.com
http://sdksantomikael-surabaya.blogspot.com/2010/08/gereja-kelahiran-santa-perawan-maria.html

baca selanjutnya...

Senin, 20 Februari 2012

Sejarah Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya

Sejarah berdirinya Gereja Katolik Hati Kudus Surabaya tidak terlepas dari proses perkembangan umat katolik di Gereja Maria Geboorte (Gereja Kelahiran St. Perawan Maria) Kepanjen. Gereja yang pertama kali berdiri di kota Surabaya ini umatnya berkembang pesat, sementara pada masa itu Surabaya sebagai kota pelabuhan dengan tranportasi sungai dari utara menuju selatan berpengaruh pula berkembangnya umat ke wilayah selatan. Karena umat katolik di wilayah Surabaya selatan semakin berkembang pesat dan Gereja Kepanjen tidak menampung lagi maka timbullah pemikiran untuk membangun gereja baru di Surabaya bagian Selatan.

Catatan rapat tanggal 14 Mei 1911 timbul rencana penyediaan lahan untuk dibangun gereja, yaitu :

1. Menaksir persil di Tunjungan dekat apotik Rathkamp, luas 800 meter persegi dengan harga 24.000 Gulden.
2. Persil di Embong Wungu-Kaliasin, dengan pertimbangan jarak antara Surabaya Selatan dengan Surabaya kota tidak jauh, dan terletak persis di di tengan persimpangan jalan utama seluas 2633 meter persegi, dan jika dirasa kurang luas bisa ditambah seluas 1678 meter persegi dengan harga 43000 Gulden. Para suster sangat tertarik dengan persil ini, selain tempatnya yang strategis kalkulasi pembayarannyapun sesuai dengan kemampuan Gereja yaitu dengan cara kredit dalam waktu 1 tahun. Akan tetapi rencana tersebut gagal dikarenakan ada pemberitahuan tiba-tiba dari Kotapraja bahwa akan ada rencana pembuatan saluran air, sebab hasil survey membktikan bahwa air tanah di daerah ini masih setinggi 0,82 di atas paal rooster, akibatnya akan berbahaya jika di atas tanah itu dibangun sebuah gedung besar, akan terjadi ketidakseimbangan “berat jenis”
3. Sebuah persil di tegal sari dengan luas 6618 meter persegi, dengan harga 5 Gulden per meter persegi.
4. Di Ketabang ada tanah yang bisa dipergunakan tetapi tidak boleh dibeli, hanya boleh disewa selama 75 tahun.

Berdasarkan data tanggal 27 April 1914 mencatat bahwa ada rencana pengadaan obligasi sebesar 50.000 Gulden, tetapi sangat disayangkan hingga tanggal 31 Juli 1915 tidaki berhasil diwujudkan, selain itu ada juga protes dari warga Tegalsari untuk menutup tanah tersebut. Akhirnya tanah di Tegalsari tersebut diabaikan, dan dalam waktu satu tahun seorang makelar berhasil menjual kepada Sositet Cocordia dengan harga 132.360 Gulden, dan persil yang di jalan Embong Wungu/Kaliasin juga terjual kepada kepada perusahaan dengan harga 125 Gulden..

Polemik di mana letak gereja baru di Surabaya selatan akan dibangun berlangsung hingga tahun 1919. Pada tahun ini ada 2 persil tanah yang diincir untuk melanjutkan rencana semula:

1. Di daerah Hoogendorplaan, dengan luas tanah 7500 m2 diabatasi oleh jalan Reestraat, dan Jalan Idenburgstraat, dan jalan Brouwerstraat
2. Di Jalan Anita Bulevard (jalan Dr. Sutomo yang kini berubah menjadi Jl. Polisi Istimewa), dengan luas tanah 4200 m2 dan berdekatan dengan persil di Jalan Boschlaan dengan luas 3000 m2.

Akhirnya setelah melakukan pembahasan dengan intensif maka ditetapkan persil di Jl. Anita Boulevard dan jalan Boschlaan yang dipakai untuk dibangun gereja dan pastoran baru untuk Wilayah Surabaya Selatan. Tahap awal perencanaan pembangunan diserahkan kepada arsitek Mr. Beek dengan biaya yang dibutuhkan sebesar 160.000 Gulden. Rancangan desain gereja dibuat oleh arsitek ED Cypress Bureu dengan rangka denah berbentuk empat persegi panjang dan konstruksi bentuk Basilika dibangun oleh biro arsitek HUSWIT-FERMONT.

Upacara peletakan batu pertama pembangunan gereja Hati Kudus Yesus oleh romo Fleerakkers SJ. pada tanggal 11 Agustus 1920. Pada tanggal 21 Juli 1921 gereja sekaligus rumah pasturan diberkati oleh Mgr. Luypen dan diberi nama Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya.

Romo-romo yang berkarya di Paroki Hati Kudus Yesus
1. Rm.Flerecjere, SJ. Th.1921-1923 (pastur paroki)
2. Rm. C. Klamer, CM Th. 1923 (pastur paroki)
3. Rm. C.J.J. Hal, CM Th. 1929 (pastur paroki)
4. Rm. TH. A, Smet, CM Th. 1929
5. Rm. W.J. Maessen Th. 1930
6. Rm. J.J. Zoetmulder, CM Th. 1934 (Vikaris Apostolik)
7. Rm. W.C. Van der Brand, CM Th. 1935
8. Rm. J.B. Schilder, CM Th. 1936
9. Rm. M. Th. Smet CM Th. 1936
10. Rm. C.A.A. Schoenmakers,CM Th. 1937
11. Rm. A.J.C. Ijlst, CM Th. 1937
12. Rm. Van Dril, CM Th. 1938 (pastur paroki)
13. Rm. P.A. Bastiaansen, CM Th. 1939 (pastur paroki)
14. Rm Th. H.Heuvelmans CM Th. 1939
15. Rm. I.J.S. Dwidjosoesastro, CM Th. 1941
16. Rm. M. Verhoeks, CM Th. 1941
17. Rm. Louis Nyssen, CM Th. 1943
18. Rm. TH. A, Smet, CM Th. 1947
19. Rm. J.A. Verbong, CM Th. 1947
20. Rm. P.J.A. Heulmans CM Th. 1948
21. Rm. Van Drieln CM Th. 1949
22. Rm. N.P.J. Boonekamp, CM Th. 1950
23. Rm. G.S. Bakel, CM Th. 1950
24. Rm. Th..P.H. Van Densen, CM Th. 1950
25. Rm. Kumoro Widjodjo, CM Th. 1951
26. Rm. J.J. Van Steen, CM Th. 1952
27. Rm. H.C. Haest, CM Th. 1953 (Rektor RSK)
28. Rm. Th.H Heuvelmans, CM Th. 1953
29. Mgr. J. Klooster, CM. Th. 1953 (Uskup SBY)
30. Rm. F. Peterse, CM Th. 1953
31. Rm. G.J. Boonekamp, CM Th. 1953
32. Rm. W.C. Van der Brand, CM Th. 1954
33. Rm. P.A. Boonekamp, CM. Th. 1955 (Sekr. Keuskupan)
34. Rm. A.A. Hadisoedarso, CM Th. 1955
35. Rm. J.J. Raets, CM Th. 1958
36. Rm. M. Van Driel, CM Th. 1959
37. Rm. L. Karyasumarta, CM Th. 1963
38. Rm. J.A.W. M. Van Mensvoort, CM Th. 1963
39. Mgr. A.J. Dibjokarjono, Pr. Th. 1964 (Uskup SBY)
40. Rm. H.J.G. Veel, CM Th. 1965 (Rektor RSK)
41. Rm. L.V. Cahyokusumo, CM Th. 1965
42. Rm. Louis Pandu CM. Th. 1965
43. Rm. H. Maessen CM. Th. 1966
44. Rm. S. Reksosusilo, CM Th. 1966
45. Rm. L. Suwondo Siswoatmodjo, CM Th. 1968
46. Rm. J.J. Reintjes, CM Th. 1970
47. Rm. Benny J. Agus Maryanto, Pr. Th. 1972
48. Rm. M. Utomo Purnomo, CM Th. 1973
49. Rm. B. Martokusumon CM Th. 1975
50. Rm. H. Nieesen, CM Th. 1977
51. Rm. T. Karyono Sapto Nugroho CM Th. 1978
52. Rm. F.X. Urotosastro Pr Th. 1979
53. Rm. J.H. Purwoputranto Pr Th. 1981
54. Rm. C. Reksosubroto CM Th. 1982 (pastur paroki)
55. Rm. FX. Hardi Aswinarno Pr Th. 1984
56. Rm. FX. Dumo Purnomo Pr Th. 1984
57. Rm. J. Haryono CM Th. 1985 (Bend. Keuskupan)
58. Rm. A. Wetzer SVD Th. 1986
59. Rm. A. Wahyo Bawono Pr. Th. 1987
60. Rm. F. Hardjodirono CM Th. 1989 (pastur paroki)
61. Rm. B. Justisianto Pr Th. 1989 (sek.Kesuskupan)
62. Rm. Y. Eko Budisusilo Pr Th. 1990
63. Rm. Alex B. Sokaleksmana CM Th. 1991 (bendahara keuskupan)
64. Rm. Chr. Katidjanarso CM Th. 1991
65. Rm. I.Y. Sumarno Pr Th. 1992
66. Rm. Anton Budianto Tanalepie CM Th. 1993 (pastur paroki)
67. Rm. A. Dwijoko Pr Th. 1994
68. Rm. Gengsi Sucahyo Pr Th. 1994
69. Mgr. J. Hadiwikarta, Pr Th. 1994
70. Rm. Y.P.H. Jelantik Pr. Th. 2000 (pastur paroki)
71 Rm. P. Ikwan Wibowo Pr Th. 2000
72. Rm. A. Gosal Pr Th. 2000
73. Rm. Dicki Rukmanto pr Th. 2006
74. Rm A. Eko Wiyono Pr Th. 2007
75. Rm. Ch. Trikuncoro Yekti Pr Th. 2007
76. Rm. Y. Eko Budi Susilo Pr Th. 2007 (pastur paroki)

Sumber : http://www.gerejahky.org/

baca selanjutnya...

Sabtu, 18 Februari 2012

Sejarah Gereja Katolik Santa Maria Puhsarang Kediri

Gereja Katolik di Puhsarang (atau Pohsarang) didirikan atas inisiatif pribadi dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek terkenal Henri Maclaine Pont pada tahun 1936. Keindahan arsitektur Gereja Pohsarang melekat pada dua nama ini, arsiteknya Ir Maclaine Pont dan pastornya Romo Jan Wolters CM. Ir. Henricus Maclaine Pont sangat pandai dalam membentuk keindahan bangunan Gereja yang mengukir kebudayaan Jawa; sementara Romo Wolters sebagai inisiator memberi roh pengertian mendalam tentang makna sebuah bangunan Gereja dengan banyak simbolisme untuk katekese iman Katolik. Dalam konteks karya misi Gereja Katolik di Keuskupan Surabaya, Romo Wolters dikenal sebagai “rasul Jawa” (bersama Romo van Megen CM dan Romo Anton Bastiaensen CM). Disebut “rasul Jawa”, karena sebagai misionaris Belanda ia sangat mencintai dan menghormati orang Jawa, bahasa Jawa dan kebudayaan serta nilai-nilai kejawaan. Romo Jan Wolters CM adalah pastor di paroki Kediri pada waktu itu. Insinyur Maclaine Pont juga yang menangani pembangunan museum di Trowulan, Mojokerto, yang menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit. Sehingga bangunan Gereja Pohsarang mirip dengan bangunan Museum Trowulan. Sayang bahwa gedung museum di Trowulan itu sudah hancur pada tahun 1960 karena kurang dirawat dengan baik sebab kurangnya dana untuk pemeliharaan dan perawatan. Romo Wolters, CM, minta agar sedapat mungkin digunakan budaya lokal dalam membangun gereja di stasi Pohsarang, yang merupakan salah satu stasi dari paroki Kediri pada waktu itu.[1]

Peletakan batu pertama gereja dilakukan pada tanggal 11 Juni 1936, bertepatan dengan pesta Sakramen Mahakudus, oleh Mgr. Theophile de Backere CM, Prefek Apostolik Surabaya pada waktu itu. Dalam gereja kuno ini terdapat dua bagian pokok yakni Bangunan Induk dan Bagian Pendapa. Dalam sambutannya pada waktu peletakan batu pertama, Ir. Maclaine Pont membeberkan rancangannya bahwa hiasan-hiasan simbolis yang ada di salib, seperti mahkota duri, I.N.R.I., Alpha dan Omega, monogram Kristus, paku-paku, nyala api yang menjilat di sekeliling tengah dan akhirnya tetesan darah pada kaki merupakan bagian dari iman Katolik yang penting. Di bawah salib yang besar yang menjulang dengan megah di atas Gereja yang kecil itu, akan bergantung merpati perak di dalam gereja. Karena Kristus adalah satu-satunya perantara antara Tuhan dan manusia, Dialah yang telah mempertemukan kita kembali dengan Allah Bapa oleh kematian-Nya di kayu Salib dan selanjutnya menganugerahkan kita cinta kasih dan Roh Kudus, yang mengemudikan Gereja dan menyucikan para anggotaNya. Empat ujung balok yang menonjol akan melambangkan empat pengarang Injil, yang harus menyebarkan ajaran Kristus. Sementara gambar kedua belas rasul mengatakan bahwa di atas pondasi para rasul-lah Gereja didirikan. Maka, bangunan gereja ini akan merupakan “Kitab Suci” bagi umat yang sederhana yang tak dapat membaca. Seperti halnya raja Jawa yang tinggal di istana (kraton) dengan benteng sekelilingnya dan gapura mengelilingi kraton dan rumah, begitulah juga di sini orang Jawa Katolik, yang harus menunggu kalau hendak menghadap Kristus, Raja dari segala raja. Pertama-tama harus melewati gapura, melalui menara “Henricus” yang besar, untuk mencapai “Istana Tertutup”, dimana umat melalui serambi para katekumen, akhirnya sampai di istana Sang Raja. Di tempat yang suci itu, yang sudah terpisahkan jauh dari dunia biasa, dia akan merasakan lebih dekat dengan Tuhan, dia akan berlutut menunduk di depan “porta coeli” – “pintu Surga”. Gereja yang bangunannya sama-sekali terbuka ini kecuali sekitar panti imam, akan memungkinkan mengikuti upacara-upacara suci dari Istana Raja dari segala raja. Dan, Dua ribu orang dapat ditampung di situ.[2]

Sekilas bangunan gereja di Pohsarang mirip dengan perahu yang menempel pada sebuah bangunan mirip gunung. Bangunan yang mirip gunung ini melambangkan atau menggambarkan Gunung Ararat di mana dulu perahu nabi Nuh terdampar setelah terjadi air bah, yang menghukum umat manusia yang berdosa (Kitab Kejadian 8:4), sedangkan bangunan yang mirip perahu tadi menggambarkan atau melambangkan Bahtera atau Perahu Nabi Nuh, yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya yang percaya pada Allah, bersama dengan binatang-binatang lainnya.

Arsitektur

Bangunan Induk


Bangunan Induk yang mirip dengan gunung tadi merupakan bagian sakral atau kudus di mana terdapat altar dan sakramen mahakudus, Bejana Baptis, sakristi dan tempat pengakuan dosa. Bagian ini dulu dikhususkan untuk mereka yang sudah dibaptis, yang telah menjadi anggota umat. Pada masa dulu di dalam gereja memang dipisahkan antara mereka yang masih calon baptis dengan mereka yang sudah dibaptis, namun perbedaan itu sekarang sudah dihapuskan. Setiap orang, bahkan mereka yang bukan Katolik pun, kalau ia mau, dapat masuk ke dalam bagian ini, asalkan dia tidak mengganggu kekhidmatan ibadat. Memang dalam budaya Jawa, gunung atau gunungan adalah lambang tempat yang suci di mana manusia bisa bertemu dengan penciptanya.

Bangunan Induk memiliki atap berbentuk seperti cupola atau kubah. Diatas atap dipasang salib, pada ujung atap dipasang gambar simbolis keempat pengarang injil yakni Santo Matius Penginjil (manusia hersayap), Santo Markus Penginjil (singa yang bersayap), Santo Yohanes Penginjil (burung rajawali) dan Santo Lukas Penginjil (lembu jantan), yang juga menunjukkan keempat arah mata angin. Atap bangunan yang berbentuk gunungan itu dibentuk dari empat lengkungan kayu yang ujung simpangnya merupakan bagian pengunci. Lengkungan itu menyangga suatu jaringan kawat galvanis, yang di atasnya dipasang genteng-genteng, yang akan bereaksi dengan tenang dan memamtul pada setiap tekanan angin.

Altar yang ada dalam gereja ini menarik dan punya bentuk yang khas, dibuat dari batu massif, kemudian dipahat. Pahatan di altar tersebut terdapat gambar seekor rusa yang sedang minum air, sedangkan rusa yang lain sedang menunggu minum air. Rusa yang sedang minum air menggambarkan mereka yang telah dibaptis, sedangkan rusa yang menunggu untuk minum air menggambarkan calon baptis atau para katekumen. Air yang mengalir dari 7 sumber melambangkan 7 sakramen dalam gereja. Sesuai dengan tata cara liturgi pada waktu itu, yaitu sebelum Konsili Vatikan II tahun 1965, maka bila seorang imam mempersembahkan misa di altar, dia membelakangi umat, tidak menghadap ke arah umat seperti yang lain dalam tata cara misa saat sekarang.

Di atas altar terdapat relief dari batubata merah yang disusun tanpa semen, tapi menggunakan campuran air, kapur dan gula. Kemudian batu-batu bata digosok dan direkatkan pada batu bata lainnya dengan campuran tadi sehingga saling menggigit dengan baik walaupun tidak menggunakan adukan semen seperti zaman sekarang ini.

Di atas altar terdapat tabernakel dari kuningan, tempat untuk menyimpan Hosti. Di sebelah kiri-kanan tabernakel suci terlihat gambar keempat penginjil. Persis di atas altar terlihat gambar kain dengan gambar Yesus. Di atasnya ada gambar Hati Kudus Yesus yang tertusuk tombak, kemudian tulisan INRI. Disampingnya terlihat gambar para malaekat. Sebenarnya di bagian atas terdapat mahkota, yang sekarang sudah rusak/hilang. Relief yang dibuat dari batu bata merah atau batu bata, mirip dengan relief yang biasa ada pada candi-candi zaman Majapahit.

Pada sisi sebelah Barat (atau kiri altar) terdapat relief perjamuan pesta perkawinan di Kana yang dihadiri oleh Yesus, para rasul dan Bunda Maria (Yoh 2: 1-11). Di bagian Barat di atas pintu sakristi terdapat gambar Abraham yang akan mengorbankan Iskak anaknya (Kej. 22: 1-19). Kemudian terdapat patung Maria dari batu yang menggambarkan Bunda Maria sedang menggendong kanak-kanak Yesus. Patung itu terletak dalam lekukan yang menggambarkan litani Maria. Kemudian di sana juga terlihat bejana baptis dari kerang yang besar, di atasnya kelihatan relief yang menggambarkan ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mat 3:13-17). Kemudian di bagian paling atas terdapat relief yang menggambarkan perahu Nuh dan seekor merpati terbang membawa daun yang hijau, setelah air bah surut (Kej. 8:11).

Di sebelah Timur altar (atau kanan altar) terdapat relief Yesus yang sedang menggandakan roti untuk 5000 orang (Mrk 6,30-44). Kemudian di atas pintu masuk sakristi terdapat relief Imam Agung Melkisedek sedang mempersembahkan roti dan anggur kepada Allah (1ih. Kej. 16:1820). Di sebelah Timur ada patung Yesus terbuat dari batu. Lengkungan di mana terdapat patung Yesus itu dihiasi dengan relief yang menggambarkan sebutan-sebutan untuk Yesus dalam litani Hati Kudus Yesus.

Maksud adanya relief di altar dan sekeliling altar adalah untuk memberikan hiasan pada altar dan sebagai sarana untuk katekese atau untuk mengajar umat yang sederhana. Relief semacam ini biasa terdapat dalam katedral katedral dan gereja-gereja kuno di Eropa, dimana terdapat relief, patung-patung dan mosaik dari kaca yang indah sekali. Karena orang pada waktu itu duduk bersila di lantai ketika mengikuti misa, maka relief dibuat rendah supaya mudah dilihat. Sekarang pun kalau misa orang juga masih duduk bersila atau “lesehan” (bahasa Jawa).

Bangunan Gereja secara unik dikelilingi oleh benteng yang terbuat dari batu-batu dan tampak kokoh. Yang lebih menarik lagi adalah memperhatikan bentuk pintu gerbang atau pintu masuk. Terdapat tiga pintu: pintu utama dengan model bangunan megah terletak di samping; pintu yang terletak di depan pendopo yang langsung berhadapan dengan makam (umat Katolik); dan pintu samping yang terlihat sempit dan kecil. Konsep benteng batu yang kokoh, pintu utama yang megah, pintu sempit, pintu yang berhadapan dengan makam berasal dari kreativitas Romo pendirinya, Romo Jan Wolters CM.

Romo Wolters CM berpendapat bahwa Gereja adalah “Rumah Tuhan” (Keraton Dalem), di situ bertahta Yesus Kristus, sang Raja segala raja. Tetapi, Yesus Kristus adalah Raja yang menyambut umatNya secara personal, pribadi. Ia adalah Raja yang tidak sulit dijumpai. Ia adalah Raja yang menyambut siapa pun yang datang kepada-Nya. Ia adalah Raja yang disembah dalam relasi kemesraan dan keakraban. Pintu yang megah melambangkan gerbang Rumah Tuhan yang harus megah, menyongsong umat Allah yang datang untuk “sowan” dan menyembah Rajanya. Pintu yang sempit mengatakan seperti dalam Injil bahwa untuk masuk ke Kerajaan Allah, orang harus melewati pintu yang sempit. Untuk dekat dan berelasi dengan Tuhan, lorong jalannya kerap sulit, sempit. Pintu yang berhadapan dengan makam mengukir sebuah kebenaran iman, bahwa terhadap umat Tuhan yang telah wafat berpulang ke keabadian, mereka semua disambut oleh Kristus Sang Raja dalam Rumah Abadi di Surga.[3] Jadi, Gereja Pohsarang itu indah bukan hanya karena bentuknya, melainkan juga karena ada katekese iman yang melekat erat pada bangunan tersebut. Dan, katekesenya amat kaya serta mendalam.

Bagian Pendapa

Kalau dalam bangunan Induk terdapat banyak hiasan maka bagian Pendapa ini yang merupakan ruangan terbuka tidak ada hiasannya sama sekali. Bangunan pendapa ini untuk umat yang belum dibaptis atau calon baptis. Dalam Kerajaan Jawa dulu selalu terdapat bagian terbuka atau Pendapa, yang merupakan tempat persiapan sebelum seseorang masuk kedalam istana menghadap raja, demikian pula bagian pendapa ini merupakan tempat persiapan sebelum umat menghadap Allah yang menjadi Raja mereka.[4]

Gereja Pohsarang dibangun dalam konteks jauh sebelum Konsili Vatikan II. Liturgi Ekaristi sebelum Konsili menunjukkan bahwa umat yang belum dibaptis menempati tempat yang “lebih jauh” dari Altar Tuhan. Itulah sebabnya, “pendapa” dimaksudkan untuk tempat “menunggu” bagi umat untuk masuk ke dalam, ke wilayah yang lebih dekat dengan altar Tuhan. Maksudnya, ke “pembaptisan”, sakramen yang membuat mereka dipersatukan sebagai putera-puteri Allah. Sesudah Konsili Vatikan II, pembedaan tempat dalam Ekaristi ini tidak ada lagi. Tata cara liturgi Ekaristi juga telah diperbaharui sedemikian rupa. Namun demikian, struktur bangunan gereja Pohsarang ini mengukir sejarah liturgi yang indah.[5]

Gapura yang Mirip Candi

Kalau bagian dalam gereja terbuat dari batu bata/ merah maka bangunan luar semuanya terbuat dari batu bulat yang memang banyak terdapat di daerah Puh Sarang. Pintu gerbang masuk Pohsarang dibuat dari batu seperti yang biasa terdapat dalam sebuah candi, di mana terdapat banyak tangga. Kemudian terdapat juga tembok keliling dari batu yang merupakan ciri khas Kerajaan Majapahit dan juga kraton di Jawa dan Bali. Di sekeliling tembok kelihatan 14 stasi Jalan Salib yang terbuat dari batu mata merah/terrakota. Di sini bisa terlihat usaha dari Ir. Maclaine Pont memasukkan unsur atau gaya dari kebudayaan asli atau daerah.

Di sebelah barat terdapat replika atau miniatur Gua Maria Lourdes, dengan sebuah patung terbuat dari batu kali. Sedangkan di sebelah timur terdapat gua di mana terdapat patung Pieta atau Patung Maria yang sedang memangku Yesus yang baru diturunkan dari salib. Patung Pieta ini mengingatkan pengunjung akan patung Pieta dari Michaelangelo yang terdapat di Basilika Santo Petrus di Vatikan. Patung Pieta tadi terletak di atas sebuah Tabernakel, yang sekarang sudah tidak dipakai lagi. Tabernakel ini unik bentuknya karena pintunya dibuat seperti pintu makam orang Yahudi. Kemungkinan tabernakel ini hendak menggambarkan makam kosong di makam dulu Yesus dimakamkan dan kemudian bangkit dari sana setelah dimakamkan selama tiga hari (Mrk. 16:1-8).

Gapura St. Yusuf dan Menara St. Henrikus

Untuk masuk ke Gereja Puh Sarang, pengunjung harus melewati anak tangga terbuat dari batu di antara lengkungan gapura, yang serasa seperti masuk bangunan candi. Pada bagian tengah terdapat gapura mirip gapura Candi Bentar. Makna gapura memaksudkan pintu gerbang istana. Dalam angan-angan Romo Jan Wolters gereja Pohsarang adalah bagaikan rumah (istana) Tuhan, Sang Raja dari segala raja, dimana umat datang bersimpuh, menyembah raja dan mendengarkan Sabda-Nya. Namun yang khas di sini ialah bahwa di atasnya terpasang lonceng, sehingga gapura itu berfungsi sekaligus sebagai menara lonceng. Di puncak gapura terdapat ayam jago, seperti yang biasa terdapat dalam menara gereja. Di sana ada relief yang menggambarkan ketika Adam jatuh ke dalam dosa. Sayang relief tadi tidak kelihatan karena ada di atas. Maka orang menyebut gapura yang berfungi sebagai menara dengan sebutan Menara Santo Henrikus. Disebut menara Henrikus, karena untuk mengenang Santo Henrikus, pelindung dari arsiteknya, Ir. Henricus Maclaine Pont.

Ruang Gamelan dan Patung Kristus Raja

Di halaman luar, sebelum masuk gereja, terletak di sebelah kanan terdapat rumah untuk menyimpan gamelan. Gamelan itu dulu kala digunakan untuk mengiringi misa dan sendratari yang sering diadakan pada awal berdirinya gereja.

Di halaman gereja terdapat Patung Kristus Raja. Di atasnya terdapat tiang batu di mana terdapat Perahu Nabi Nuh. Dalam Tradisi para Bapa Gereja, bahtera (perahu) Nabi Nuh adalah lambang Gereja. Mengapa ada patung Kristus Raja? Kristus adalah Kepala Gereja. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus. Patung Kristus Raja terbuat dari batu melukiskan keindahan dan kekokohan. Kristus lantas juga seolah-olah tampil kokoh sebagai yang “menakhodai” bahtera-Nya. Kristuslah yang memimpin dan membimbing Gereja-Nya, persekutuan umat beriman yang dipersatukan dalam iman kepada-Nya.

Di halaman yang sekarang dipakai untuk taman, dulu kala terdapat sebuah bangunan indah yang disebut “Amphitheater”, sebuah lapangan menyerupai tempat untuk pementasan drama seperti di zaman Yunani kuno, dimana pentasnya ada di tempat yang lebih rendah dari penontonnya. Pada tanggal 7 Agustus, tahun 1937-an (?), terdapat pementasan kisah Abraham yang dijalankan di “Aphitheater” tersebut sebagai sebuah drama katekese kisah Kitab Suci sekaligus untuk menyambut tamu-tamu agung, yaitu Yang Mulia Mgr. Pacino, Delegat Apostolik untuk Australia, sekretarisnya, Mgr. King; Vikaris Apsotolik untuk Indonesia Timor Mgr. Pelsers, dan Prefek Apostolik Surabaya Mgr. Verhoeks. Peristiwa ini menandai perhelatan penting dari sebuah desa Pohsarang dengan sebuah bangunan “Gereja Keraton Jawa”-nya. Sejak itu, Pohsarang menjadi emblem inkulturasi yang mencengangkan, tulis Romo van Megen CM.[6]

Kini, bangunan “Amphitheater” sudah tidak ada lagi. Bangunan ini telah diganti dengan sebuah tempat yang dulu adalah sekolah dasar. Sekolah dasarnya sendiri telah dipindahkan ke tempat lain di dekat gereja. Di tempat itu sekarang didirikan patung Bunda Maria dari Lourdes yang memakai mahkota.

Proses Pembangunan

Penggunaan Bahan dan Tenaga Lokal


Seperti halnya ketika membangun Museum di Trowulan dan tempat lainnya, Ir. H. Maclaine Pont selalu menggunakan bahan-bahan lokal dan tenaga lokal atau buruh setempat, serta bangunan disesuaikan dengan situasi setempat.

Dalam hal membangun gereja Pohsarang ia banyak memakai tukang-tukang yang telah berpengalaman dan membantunya waktu membuat museum di Trowulan. Mereka adalah ahli bangunan, ahli pahat, ukiran bahkan kemudian dia mendidik rakyat setempat untuk dilibatkan menjadi tenaga pembuat patung yang ahli. Banyak digunakannya batu-batu yang diambil dari Kali Kedak yang ada di dekat Puh Sarang.

Walaupun di sana banyak pohon bambu tapi dia menggunakan kawat baja, sebab daya tahannya lebih kuat. Selain dari itu waktu itu ada larangan dari Pemerintah Hindia Belanda untuk menggunakan bambu dalam membangun rumah guna mencegah penyakit pes, sebab tikus-tikus yang membawa kuman pes senang bersarang dalam bangunan bambu. Hasil kerajinan dari tanah (terracota) buatan tukang dan seniman lokal cukup terkenal hingga perang dunia kedua tahun 1945. Tapi entah mengapa kemudian menghilang dan tidak kelihatan bekas-bekasnya.

Usaha Inkulturasi dan Karya Monumental

Kompleks Gereja Puh Sarang merupakan suatu usaha untuk menampilkan iman Kristiani dan tempat ibadat Katolik dalam budaya setempat. Banyak orang berpendapat bahwa bangunan yang dibuat di Puh Sarang indah dan unik serta merupakan karya monumental yang patut untuk dipelihara dan dijaga. Karena Gereja Puh Sarang menampilkan gaya Majapahit yang dikombinasikan dengan gaya dari daerah lain dan iman Kristiani.

Yulianto Sumalyo dalam buku yang berjudul “Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia” (Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1993) menulis demikian mengenai gereja Puh Sarang: “Seperti pada bangunan Trowulan, Tegal dan lain-lain untuk membangun gereja Pohsarang selalu menggunakan bahan-bahan lokal. Maclaine Pont menggunakan juga buruh setempat selain beberapa tukang yang sudah berpengalaman pada saat membangun museum. Gereja yang sarat dengan simbolisme ini merupakan suatu karya arsitektur yang sangat berhasil dilihat dari berbagai segi: mulai dari lokasi, tata massa, bahan bangunan, struktur dan tentu saja fungsi dan keindahannya. Semua aspek termasuk budaya setempat dan filsafat agama dipadukan dalam bentuk arsitektur dengan amat selaras”

Gereja di Antara Dua Dunia

Dalam inkulturasi dikenal istilah “locus theologicus” atau konteks teologi. Beriman Kristiani mendasarkan diri pada kebenaran-kebenaran Wahyu dan komunikasi dengan bahasa dan nilai-nilai luhur kebudayaan yang menjadi “locus” hidup sehari-hari. Gereja Pohsarang bukan sekedar sebuah bangunan indah, tetapi juga tempat dimana umat Katolik bersimpuh dengan penuh iman, beribadat dengan ketakwaan dan menyembah Allah secara khusuk. Gereja adalah wilayah “perjumpaan” Tuhan dengan umat-Nya. Menarik untuk memperhatikan pilihan Romo Jan Wolters mengenai tempat pembangunan Gereja Kraton Jawa yang megah ini di sebuah desa Pohsarang yang pada waktu itu terbilang wilayah terpencil. Mengapa Pohsarang? Armada Riyanto CM[7] dalam Membangun Gereja dari Konteks (2004) mengatakan bahwa perjumpaan dengan Tuhan akan memiliki makna yang mendalam, indah, dan inkulturatif bila dijalankan di wilayah pergumulan rohani peradaban hidup manusia-manusia setempat.[8] Pohsarang sebagai sebuah desa memang memiliki keistimewaan tersembunyi, terletak “diantara” kota Kediri dan gunung Wilis. Dahulu Kediri adalah emblem peradaban dunia, sebab pernah mengukir peradaban tinggi kejayaan manusia dalam kerajaan Kediri yang sangat termasyhur itu. Kediri seolah mengukir peradaban keluhuran kebudayaan tinggi manusia. Sementara, “gunung” dalam kitab-kitab kuno dipadang sebagai tempat suci “para dewa” (konon Raja Erlangga wafat dengan bersemedi di gunung Wilis ini). Gunung lantas seolah mengukir peradaban keabadian, wilayah kemuliaan dan tempat tinggal “para dewa.” Sementara Pohsarang berada “diantaranya” (bila mengutip istilah postmodern, “in between”). Pohsarang sebagai wilayah seolah memiliki karakter rohani “diantara” dunia manusia (“di bawah”) dan dunia “di atas”. Maka, Pohsarang sebagai wilayah terpencil memang memiliki “makna rohani” yang dipandang sebagai tempat perjumpaan antara Tuhan dan manusia; dan hal itu ditangkap providentially oleh Romo Jan Wolters CM dan diwujudkannya dalam sebuah Gereja megah nan indah, sebuah Gereja Keraton Jawa, sebuah Gereja dimana manusia-manusia bersimpuh, bermeditasi, memuji, berjumpa dengan Tuhan, Rajanya.[9] Pohsarang seolah-olah menjadi sebuah tempat dimana manusia “meninggalkan” wilayah kesehariannya untuk menyatukan diri dengan Tuhan dalam sebuah perjumpaan meditatif. Secara simbolik, desa Pohsarang lantas seakan merupakan wilayah yang “menyatukan” manusia dan Tuhan, Sang Rajanya.

Renovasi Gereja

Antara kompleks Puh Sarang sekarang ini dengan keadaan pada waktu didirikannya pada tahun 1936 terlihat sudah terjadi banyak perubahan dan penambahan bangunan serta luasnya areal yang dipakai untuk kepentingan umat. Bangunan amphiteater yang dulu untuk main sandiwara sudah tidak ada lagi, dan sebagai gantinya di tempat itu sekarang muncul Taman Hidangan Kana. Namun bangunan Induk yaitu Gereja tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya, meskipun gentengnya dan kawat baja yang ada terpaksa diganti sebab sudah lapuk dimakan usia. Perbaikan dan renovasi itu perlu diadakan karena kalau tidak dilakukan gereja Puh Sarang akan rusak dan hancur seperti museum di Trowulan.[10]

Renovasi Pertama Tahun 1955

Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1955 oleh Romo Paul Janssen, CM, yang waktu itu menjadi imam di paroki St. Vincentius a Paulo, Kediri. Ia memperbaiki atap tanpa merubah bentuk bangunan gereja.

Renovasi Kedua Tahun 1974

Pada tahun 1974 kerusakan gereja Pohsarang sudah mencapai taraf yang membahayakan. Kondisinya sudah begitu parah sehingga setiap saat bisa runtuh menimpa u mat yang sedang beribadah, maka renovasi tak dapat ditunda lagi. Berhubung waktu itu keuangan paroki sangat lemah begitu pula keadaan keuangan Keuskupan Surabaya juga tidak mencukupi maka Romo Kumoro, Pr yang waktu itu menjadi Pastor Paroki punya gagasan untuk mengganti dinding gereja yang terbuat dari kayu dengan tembok biasa dari batu bata. Demikian pula bentuk atapnya yang unik itu akan diganti dengan konstruksi blandar, usuk, reng dan berbentuk seperti layaknya kapel atau sebuah kelas. Dengan demikian diharapkan jangka waktu untuk renovasi berikutnya menjadi lebih lama. Untunglah hal ini tidak terjadi, andaikata ini terjadi hilanglah keindahan dan keunikan gereja Puh Sarang.

Ir. Johan Silas yang mendengar hal ini berpendapat bahwa gereja Pohsarang ini bukan hanya monumen kebudayaan Gereja Katolik tapi juga monumen negara Indonesia, sebuah warisan budaya yang layak dipertahankan. Maka atas bantuan Ir. Johan Silas bersama mahasiswanya dimulailah renovasi kedua Gereja Puh Sarang dengan konstruksi besi siku dan usuk jati tipis. Karena minimnya beaya maka Romo FX. Wartadi, CM , Romo Stasi Puh Sarang waktu itu minta agar bagian gereja yang terpaksa diganti supaya bentuk aslinya tetap dipertahankan. Misalnya dinding yang dulu aslinya dari batang-batang kayu jati yang dibelah dua diganti dengan tembok yang dibentuk mirip kayu jati yang dibelah. Lantai dalam gereja, baik di panti imam maupun di tempat umat, yang dulu terbuat dari batu diganti dengan semen biasa supaya bisa dipakai tempat duduk bersila dengan enak. Bagian Pendopo yang dulu terbuka ditutup dengan papan, pendapa yang dulu sempit diperluas.

Renovasi Ketiga Tahun 1986

Renovasi ketiga diadakan oleh Romo Emilio Rossi, CM pada tahun 1986 dengan mengganti genteng yang sudah cukup usang,genting yang baru, yang dicetak khusus untuk keperluan ini. Ia juga membuat gua Maria baru yang terletak di sebelah Utara dari makam umat.

Renovasi Keempat Tahun 1999

Pada tanggal 22 Mei 1993 Romo Emilio Rossi, CM, pastor Kediri, melaporkan bahwa di gereja Puh Sarang terlihat perubahan bentuk pada busur kayu pendukung atap utama yang mulai bergelombang. Besi beton penatik di tepi busur di sebelah kolom segitiga sudah kendor atau tidak berfungsi lagi, gording-gording besi siku bertambah lendutannya, dan ada dugaan bahwa mungkin atap gereja mengalami penurunan akibat atap yang terlalu berat. Dikawatirkan kalau gereja tidak lekas diperbaiki bisa rusak.[11]

Maka Tim pembangunan Keuskupan setelah mengadakan penilitian berpendapat bahwa harus diadakan perbaikan yang cukup besar. Tanggal 18 Mei 1999 diadakan peresmian mulainya renovasi keempat yang ditangani oleh Ir. Harry Widyanto dan Ir. A.S. Rusli dibantu oleh Ir. Djoko. Diusahakan mengembalikan gereja Puh Sarang ke dalam bentuk aslinya. Pendopo yang sebelumnya tertutup akan dibuat terbuka dan diperkecil seperti bentuk semula. Bentuk atap yang selama ini menggunakan kayu dikembalikan ke bentuk semula dengan memakai kawat baja. Lengkungan yang dulu dari kayu diganti dengan besi baja supaya lebih tahan lama.

Gamelan yang selama ini disimpan dalam pendopo dipindahkan ke rumah gamelan yang sudah rusak atau tidak ada lagi. Renovasi keempat selesai dan diresmikan pemakainnya pada awal Yubileum tahun 2000, yaitu pada tanggal 26 Desember 1999 oleh Uskup Surabaya, Mgr. J. Hadiwikarta. Maka bentuk gereja yang sekarang dikembalikan ke bentuk aslinya dan semua genting yang ada diganti dengan genting yang baru, yang dicetak khusus untuk keperluan ini.

Referensi

[1] St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 15 Juli 1937, hlm. 108.
[2] Bdk. St. Vincentius A Paulo. Missietijdschrift der Lazaristen, 26 JRG 6e AFL, November 1936, hlm. 177 & 178. Lih. Armada Riyanto CM., 80 Tahun Romo-Romo CM di Indonesia, CM Provinsi Indonesia, Surabaya, 2003, hlm. 83-88.
[3] Ibid.
[4] Lih. Aloysius Budijanto CM, Gereja Puh Sarang sebagai Bangunan Ibadat menurut Budaya Jawa, tesis di STFT Widya Sasana, Malang 1991.
[5] Ibid.
[6] St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 29e Jaargang, 6e AFL., No. 158, 15 Nopember 1939, hlm. 171-173.
[7] Armada CM-STFT Widya Sasana
[8] Armada Riyanto CM, Membangun Gereja dari Konteks, Dioma dan STFT Widya Sasana, Malang, hlm. 37-43.
[9] St. Vincentius a Paulo, Missietijdschrift der Lazaristen, 15 Juli 1937, hlm. 108-110.
[10] Lih. Mgr. J. Hadiwikarta, Puh Sarang: Tempo Doeloe dan di Tahun 2000, Surabaya 1999, hlm.21-28. Simak juga Primanto Nugroho e.a., Tempat Ziaraha Santa Maria Pohsarang: Napak Tilas Gereja Umat, Produksi Pohsarang Creat Studio, Yogyakarta, 1999. Dalam terbitan ini, diberikan artikel-artikel reflektif yang menarik.
[11] Lih. Mgr. J. Hadiwikarta, Gua Maria Lourdes Puh Sarang, Kediri, Keuskupan Surabaya, Sekretariat Keuskupan Surabaya, 2001. Buku ini merupakan tulisan yang diasalkan dari beberapa sumber tentang Puhsarang dan terutama untuk menyajikan pembangunan Gua Maria yang terletak beberapa puluh meter dari Gerejanya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Puhsarang
http://cm-indonesia.org/artikel-refleksi/gereja-puhsarang

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP